Tontowi dan Liliyana: Satukan Keberagaman Demi Berikan Emas untuk Indonesia

tontowi_dan_lilyana

Kenangan Olimpiade London 2012 masih terekam jelas di benak Tontowi Ahmad. Kala itu, dia dan pasangannya, Liliyana Natsir, menjadi satu-satunya andalan Indonesia untuk melanjutkan tongkat estafet medali emas di Olimpiade.

Jatuh-bangun mengejar medali

Pada babak semifinal di Wembley Arena, Tontowi dan Liliyana bertemu ganda campuran China Xu Chen/Ma Jin. Sebagai satu-satunya wakil di Indonesia yang menembus semifinal, Tontowi/Liliyana memanggul tanggung jawab yang besar. Tekanan pun tak ayal mereka rasakan.

Namun, hal itu tak membuat semangat mereka mereda. Tekanan justru dijadikan Tontowi/Liliyana sebagai motivasi untuk menang. Sayang, permainan mereka yang menggebu-gebu justru menjadi bumerang. Duet Owi-sapaan Tontowi/Butet-panggilan Liliyana kerap melakukan kesalahan. Akibatnya, Owi/Butet kalah 21-23, 21-18, 13-21 dari Chen/Jin.

Kalah di semifinal ternyata membuat mental Owi/Butet jatuh. Pada perebutan medali perunggu, Owi/Butet harus mengakui keunggulan ganda campuran Denmark Joachim Fischer/Christinna Pedersen dengan skor 12-21, 12-21. Walhasil, tidak hanya gagal meneruskan tradisi emas Indonesia, Owi/Butet harus gigit jari pulang tanpa medali.

Pengalaman Olimpiade London 2012 menjadi guru terbaik bagi Owi/Butet pada Olimpiade Brasil 2016. “Saya banyak belajar dari kesalahan di event empat tahun lalu tersebut,” kata Owi.

Ucapan Owi tersebut terbukti. Meski sempat tampil tegang, Owi/Butet berhasil menyabet medali emas di Olimpiade Rio de Janeiro setelah mengalahkan pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying 21-14, 21-12. “Di London, kami berutang bawa medali. Sekarang kami bayar utangnya,” kata Butet.

Setelah paceklik medali di Olimpiade London, Owi/Butet mengembalikan lagi tradisi medali emas itu. Bulu tangkis selalu menyumbang medali emas di Olimpiade. Tradisi tersebut dimulai dari Susi Susanti dan Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992, Ricky Subagja/Rexy Mainaky di Olimpiade Atlanta 1996, Tony Gunawan/Candra Wijaya di Olimpiade Sydney 2000, Taufik Hidayat di Olimpiade Athena 2004, dan Markis Kido/Hendra Setiawan di Olimpiade Beijing 2008.

Kompak berjuang di lapangan

Emas yang dipersembahkan Owi/Butet juga merupakan kado ulang tahun bagi Republik Indonesia. Sebab, emas tersebut diraih pada 17 Augustus atau bertepatan dengan peringatan kemerdekaan RI.”Hari ini adalah hari kemerdekaan Indonesia, maunya kami memberikan yang terbaik. Pokoknya perasaannya campur aduk lah,” ujar Butet.

Rahasia keberhasilan duet Owi/Butet di antaranya adalah kekompakan mereka. Saat pertandingan melawan Chan/Goh, Butet sempat terlihat tegang. Atlet yang ingin merintis bisnis properti tersebut terpancing permainan lawan sehingga tampil terburu-buru. Tapi, Owi berupaya menenangkan Butet. Owi lalu mendekati dan membisikkan sesuatu kepada Butet.

“Enggak apa-apa Ci (pangguian Owi ke Butet), saya siap mem-backup di belakang. Ci Butet tenang saja menjaga di depan. Permainan depan Cici lebih unggul,” kata Owi berbisik ke Butet.

“Kata-kata Owi ini membuat saya semakin bersemangat dan percaya diri,” kata Butet.

Butet juga berusaha menahan emosi. Sebelumnya, jika Owi melakukan kesalahan di lapangan, Butet selalu mengeluarkan ekspresi tidak suka. Tapi kali ini Butet tidak melakukannya. Dia berharap itu bisa membantu Owi untuk tampil lebih baik.

Komunikasi mereka yang lancar juga bisa dibilang menjadi kunci penampilan bagus mereka di Olimpiade ini. “Kalau saya dan Tontowi tidak harmonis musuh kita jadi ada dua. Kita harus kompak, fokus ngalahin lawan yang ada di depan. Komunikasi kami baik selama Olimpiade. Permainan terbaik kita keluar semua karena kita rileks,” ucap Liliyana saat diwawancara oleh media.

Owi/Butet akhirnya menang dan mempersembahkan emas buat Indonesia, tepat 4 menit sebelum Hari Kemerdekaan bergulir. Emas tersebut melengkapi dua perak yang dibukukan Indonesia dari cabang angkat besi. Kemenangan ini sekaligus mencetak sejarah baru sebagai ganda campuran Indonesia pertama yang meraih emas di Olimpiade.

Medali emas di Olimpiade Rio menambah deretan trofi yang memenuhi lemari prestasi mereka. Sebagai peraih medali emas, Owi/Butet juga akan mendapatkan bonus Rp 5 miliar dari pemerintah. Mereka pun bakal mendapat tunjangan hari tua sebesar Rp 20 juta per bulan.

Dukungan penuh dari keluarga

Butet, 30 tahun, dan Owi, 29 tahun resmi berpasangan pada 2011. Sebelumnya, Butet berpasangan dengan Nova Widianto—yang sudah pensiun. Bersama Nova, Butet telah menyabet gelar juara dunia dua kali, yakni pada 2005 dan 2007. Duet Owi/Butet tak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Mereka dengan cepat bisa membangun kekompakan. Hasilnya, sejumlah gelar dikantonginya seperti Juara Dunia 2013.

Meski demikian, ketika baru memulai kariernya di cabang olah raga tepuk bulu ini orangtua Butet, Beno Natsir dan Olly Maramis, sempat khawatir. Mereka tidak yakin akan masa depan Liliyana jika serius menjalani karier sebagai pebulu tangkis. Anggapan masa depan atlet yang suram menghantui pikiran mereka. “Orangtua sempat bilang, ‘Mau jadi apa kalau tidak berprestasi di bulu tangkis?’ Tapi untungnya, atlet berprestasi kini sudah terjamin,” ucapnya.

Nama Butet sendiri diimbuhkan kepada Liliyana yang keturunan Manado-Tionghoa oleh rekan Pelatnas yang bersuku Batak. Padahal, Liliyana tidak memiliki darah Batak. Menurut sang rekan, nama Liliyana terlalu panjang dan sulit disebut, sehingga ia menyematkan panggilan kesayangan untuk anak bungsu dalam bahasa Batak itu untuk dirinya. Liliyana yang kebetulan adalah seorang anak bungsu pun lama-lama terbiasa dengan panggilan tersebut.

Lain Butet, lain lagi Tontowi. Lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pria yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang balita ini justru menekuni bulu tangkis karena dorongan keluarga. Adalah sang ayah, Muhammad Husni Muzaitun, yang mendorong Owi untuk berlatih bulu tangkis. Diakui Husni, butuh kesabaran ekstra untuk melatih Tontowi, anak bungsunya yang sebenarnya tidak menyukai bulu tangkis itu. Owi kecil acapkali mengajukan alasan agar mangkir latihan. “Tetapi ketika kelas satu SMP dia sudah berprestasi,” kata Sang Ayah bangga.

Latar belakang dan sifat Owi dan Butet yang berbeda, tidak membuat kekompakan duo ini di lapangan bulu tangkis jadi berkurang. Begitu emas olimpiade resmi di tangan, media sosial ramai membicarakan bahwa kemenangan tersebut merupakan bukti toleransi anak bangsa dalam meraih prestasi. “Yang satu Muslim yang satunya lagi Katolik, yang satu Jawa yang satunya lagi keturunan Tionghoa. Tapi mereka bahu membahu berjuang bersama, saling mendukung dan men-support menutupi kelemahan masing-masing. Dan mereka membawa Emas untuk Indonesia,” tulis Dwityo Sd Trisno via laman Facebook CNN Indonesia.

Ya, mereka adalah bukti bahwa toleransi bisa membantu kita mengejar prestasi dan menjalani mimpi.




Read previous post:
yuliana yuliani
Yuliana Yuliani: Kisah Si Kembar Siam dengan Operasi Pemisahan Kepala Pertama di Indonesia

Masih terkenang dalam ingatan kita, kisah si kembar siam Pristian Yuliana-Pristian Yuliani. Terlahir dengan kondisi dempet kepala, operasi pemisahan yang...

Close