Toleransi, Kekuatan yang Jadikan Indonesia Indah dalam Keberagaman

akar-konflik-agama-di-indonesia-tidak-tunggal

“Kini Bhinneka tak lagi Tunggal Ika. Karena kisruh Pilkada Jakarta, toleransi beragama kini tak lagi ada. Semoga lekas sembuh Indonesia.” – @sagalaedan

“Semoga Pilkada DKI cepat selesai. Rakyat lelah dengan semua ini. Kami ingin damai, aman dan tentram.” – @LupaIngat9

“Pilkada rasa civil war.” – @ubegebe1

Beberapa ungkapan yang bikin miris di atas dikutip dari Twitter baru-baru ini.

Memang, menjelang gelaran Pilkada DKI yang rencananya berlangsung pada Februari 2017, beragam isu dan perdebatan terkait rekam jejak para pasangan calon kian ramai muncul di tengah interaksi masyarakat sehari-hari.

Hal itu sebetulnya wajar saja dalam kehidupan demokrasi yang sehat, apalagi semua relatif punya impian yang sama, yaitu terpilihnya pemimpin yang mampu mengatasi beragam masalah rakyat.

Persoalannya, saling tarik opini yang terjadi sudah menyenggol sentimen identitas yang menyangkut keturunan, kesukuan, golongan, dan agama (SARA).

Sehingga tak jarang kita temukan diskriminasi, pelecehan, atau sikap intoleran terhadap kelompok tertentu berseliweran di linimasa Facebook, Twitter, juga grup WhatsApp.

Rekan kerja, teman main, dan saudara seperti terlalu bersemangat mengungkapkan pendapatnya, sampai membuat beberapa yang mendengarnya merasa tidak nyaman.

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah termasuk yang aktif menyampaikan pendapat? Pendengar saja? Atau malah merasa ‘gerah’ dan mulai merasa malas berinteraksi dengan si penyampai pendapat?

Yang manapun peran Anda, jalani perbedaan dengan tenang, sabar, dan saling menghormati. Karena pada dasarnya, perilaku intoleransi dan tidak menghargai keberagaman bukan hal yang wajar mengalir di darah kita sebagai bangsa.

Baca juga: SabangMerauke: Mendidik Lewat Keberagaman, Membangun Kedamaian

Indonesia dan keberagaman yang sudah berlangsung ratusan tahun

Indonesia itu sudah ratusan tahun berdenyut sebagai negeri yang beragam isinya. Mulai dari pesona alam, adat istiadat, sampai latar belakang pemikiran dan keyakinan. Benang merahnya adalah toleransi, yang berlangsung turun-temurun.

Seperti pada era kerajaan Majapahit, saat itu penganut keyakinan Siwa, Buddha, dan Waisnawa hidup berdampingan dalam damai. Hal ini termuat dalam kitab Negarakertagama yang menceritakan tentang usaha Raja Hayam Wuruk menciptakan kerukunan antar umat beragama di wilayah kerajaannya, seperti memberikan porsi yang sama di pemerintahannya untuk pejabat dengan latar agama berbeda, sampai menyebarkan prinsip dasar kerajaan, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma (berbeda-beda tetapi satu, dan tiada bakti yang tersia-sia.)

Selain itu, Sunan Kudus pernah menyampaikan pesan pada umat muslim di Jawa agar tidak menyembelih dan mengonsumsi sapi, untuk menghormati keyakinan umat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci. Maka itu, di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah hingga kini, salah satu makanan khasnya, Soto Kudus, dikenal luas menggunakan daging kerbau atau ayam.

Atau coba lihat makam kuno Tralaya di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Sejumlah batu nisan di sana bertuliskan huruf Jawa Kuno dan Arab berdampingan. Satu mewakili keyakinan Islam, dan satu lagi erat terhubung dengan agama Hindu.

Sementara di kelenteng tertua di Semarang, Jawa Tengah, Sam Poo Kong, entah sudah sejak kapan jadi sentra kegiatan masyarakat dari berbagai latar belakang, mulai dari Tionghoa, Islam, Buddha, sampai Konghucu. Bahkan saat Ramadhan tiba, selalu ada kegiatan buka puasa bersama. Masjid Istiqlal yang megah di ibukota pun dirancang oleh seorang Kristen Protestan, Frederich Silaban.

Semua cerita di atas hanya sebagian kecil saja dari bukti bahwa Indonesia besar karena keberagaman. Dan semua ini juga bukan hanya sejarah, tapi hal yang terus berlangsung sampai detik ini.

Di berbagai daerah di Indonesia, perbedaan dirayakan dengan hidup berdampingan dalam damai. Dalam laporan tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia versi Kementerian Agama RI, Indonesia tercatat sebagai negara paling toleran sedunia, berdasarkan beberapa indikator, seperti salah satunya: Kebijakan hari libur nasional dan perayaan hari besar semua agama.

“Konghucu di Indonesia hanya berjumlah 4-5 juta, tapi hari rayanya dijadikan libur nasional. Umat Islam di Prancis dan Jerman mencapai 10 persen, tapi tidak ada perayaan Idul Fitri atau Idul Adha yang dijadikan hari besar nasional,” ujar Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag, Prof. Dr. HM Machasin.

Hal ini juga diakui oleh pemimpin negara lain, seperti dari negara-negara anggota ASEAN, atau ketika para pemimpin negara G20 dalam KTT di Turki, 2015 silam, mengakui kekokohan pluralisme di Indonesia.

Baca juga: 6 Cara Seru Ajak Anak Mencintai Negerinya

Belajar toleransi dalam keterbukaan

Jadi buat apa terlarut dalam kericuhan yang kemudian membuat kita jadi tidak acuh dengan indahnya keberagaman di negeri ini?

Kita mungkin saja sedang menjalani fase pelajaran atau ujian baru, yang belum benar-benar kita kuasai. Menerima perbedaan dalam diam secara berdampingan memang sudah biasa kita lakoni sejak dulu, tapi saling menerima perbedaan dalam keterbukaan mungkin saja masih agak asing buat kita semua. Karena berbeda dalam keterbukaan kerap memunculkan rasa tidak nyaman yang makin besar.

“Ketidaknyamanan itu yang potensial menghadirkan sikap intoleran. Padahal dalam toleransi kita mesti bersedia untuk tidak nyaman.” ujar pakar studi antropologi, yang juga Profesor Studi Agama Universitas Boston, Amerika Serikat, Adam Seligman dalam sebuah sesi diskusi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agustus 2016 silam.

“Kelirunya adalah, ketika merasa tidak nyaman, kita langsung menyimpulkan kalau kelakuan orang itu salah,” imbuhnya.

Seperti saat ini, semua orang bebas dan bisa mengungkapkan pendapat dan pemikirannya secara terbuka, entah secara langsung atau lewat berbagai saluran media sosial. Ketika berbeda, yang kemudian cenderung terjadi adalah masalah karena merasa tidak cocok.

Baca juga: Saring Sebelum Sharing, Cara Hadapi Pilkada DKI Agar Tetap Nyaman untuk Semua

Padahal, inti dari toleransi bukan tentang mencari kesamaan dari perbedaan, karena itu sama saja dengan memisahkan peran seseorang di ruang publik dan privat. Sehingga seseorang hanya bisa jadi dirinya sendiri di ruang privat, dan semua orang jadi seragam di ruang publik.

Kalau itu yang terjadi, toleransi pun tidak berkembang. Semua tampak wajar, sementara keragaman dan keunikan sebenarnya terpendam, hingga sewaktu-waktu potensial pecah menjadi konflik.

Maka itu, dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan interaksi sosial, kita mesti makin giat belajar menerima perbedaan secara terbuka. Dan akhirnya, kita bersama bisa menjaga nilai toleransi sebagai dasar kekuatan Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika, atau bersatu dalam perbedaan.

#AyoLoveLife dan sikapi perbedaan dengan kedewasaan hati!




« | »
Read previous post:
angkie
Angkie Yudistia, dengan Keyakinan ‘Tough People Will Win’ Mengubah Disabilitas Lewat ‘Thisable’

Tumbuh sebagai sosok yang memiliki kekurangan fungsi tubuh atau difabel, tentu bukan satu hal yang diinginkan oleh siapa juga. Tapi...

Close