Waspada Predator Anak di Sekitar Kita, Begini Cara Mencegahnya

Hati orang tua mana yang tidak menjerit melihat aksi pelaku pelecehan seksual terhadap anak yang baru-baru ini berhasil diringkus polisi? Terkejut, miris, sedih, diikuti marah adalah reaksi normal yang mungkin Anda rasakan.

Bagaimana tidak? Dari tangkapan layar yang ditayangkan beberapa media nasional, tergambar jelas bagaimana para pedofil tersebut melancarkan aksinya. Hal ini sekaligus membangunkan kesadaran kita, betapa aksi pelecehan tersebut berada begitu dekatnya dari lingkungan kita. Mengintai anak-anak yang kita cintai dari tempat-tempat yang tidak kita duga sama sekali.

Lalu, bagaimana kita sebagai orang tua harus bertindak? Rasa marah tentu tidak cukup melindungi anak-anak kita bukan?

Terungkap lewat bantuan komunitas orang tua

Kekhawatiran itulah yang dirasakan Risrona Talenta Simorangkir mengetahui keberadaan sebuah grup Facebook (FB) bernama Official Candy’s Group. Ia mengeluhkan kegiatan grup ini ke sesama “emak-emak” di sebuah grup FB yang diikutinya.

Gayung bersambut. Michelle Dian Lestari, rekannya di grup tersebut, melaporkan hasil ‘pengintaian’ Risrona yang berupa beberapa screenshot itu ke seorang pegiat Lembaga Sosial Masyarakat (LSM). Dari sana mereka melapor ke Facebook agar akun Candy’s bisa ditutup. Grup tersebut sempat ditutup setelah tautan dan screenshot dikirim ke aduan konten Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Tetapi, tak lama muncul grup serupa hingga akhirnya Michelle jengah dan memutuskan untuk menghubungi Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Wahyu Hadiningrat. Dalam hitungan tiga hari setelah laporan dilayangkan, administator akun tersebut pun dibekuk polisi.

Baca juga: Yayasan Kakak, Nyalakan Harapan untuk Anak-anak Korban Kekerasan Seksual

Dari hasil sidikan polisi, terungkap bahwa Official Candy’s Groups adalah nama grup Facebook yang didirikan oleh seorang warga Malang. Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Irawan kepada Kompas.com, grup tersebut ‘menaungi’ komunitas pedofil yang saling berbagi konten pelecehan dan pencabulan terhadap anak.

Polisi mengungkap bagaimana Official Candy’s Groups merekrut anggotanya. Setiap member diharuskan mengirim gambar-gambar yang dia buat ketika melakukan kejahatan seksual dengan anak kecil kepada anggota lain. Selain itu mereka juga diharuskan mem-posting video atau gambar porno anak yang belum pernah diunggah.

tips mencegah aksi pedofil

Masyarakat berhak melaporkan

Tindakan yang dilakukan Michelle merupakan contoh kekuatan media sosial dalam mengungkap kejahatan berbasis internet. Setelah menerima laporan masyrakat, penyidik kejahatan saiber (cyber crime) Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan dengan berpura-pura bergabung dalam grup yang diprivatisasi tersebut untuk mengintai aktivitas kriminal, dalam hal ini pencabulan dan pornografi, di dalamnya.

Keempat administrator grup Facebook tersebut berhasil diamankan pada 9 Maret lalu. Grup yang dibuat pada 2016 itu sendiri sempat menampung 7.479 anggota. Meski demikian, dengan terungkapnya aktivitas grup ini, anggotanya berkurang hingga 600 orang (16 Maret 2017) dan terus berangsur-angsur berkurang.

Baca juga: Sahabat Kapas, Karena Setiap Orang Berhak Mendapatkan Kesempatan Kedua

Ajakan untuk aktif memantau akun mencurigakan juga diimbau oleh Michelle. Ia mengimbau masyarakat terutama ibu-ibu untuk lebih waspada dalam menjaga buah hatinya agar tidak menjadi korban pelaku pelecehan seksual. “Yang penting emak-emak cerdas dan waspada bersatu,” ujar Michelle.

Cerdas hadapi pelecehan seksual

Ya, di balik pengungkapan aktivitas akun ini para orang tua bisa memetik pelajaran berharga. Waspada terhadap keberadaan predator di sekitar kehidupan anak maupun yang hadir lewat media online mungkin bisa kita lakukan. Akan tetapi, ada hal yang lebih mendasar. Yakni mengajak anak untuk lebih waspada akan kehadiran mereka.

Tergantung dari usia perkembangan anak, Anda perlu fokus pada isu yang spesifik dan dengan jelas membahas atau menghindari topik tertentu.

Usia 2-4 tahun

  • Gunakan bahasa yang mudah mereka pahami, tetapi juga bahasa yang benar. “Sebaiknya hindari eufemisme atau ungkapan,” ujar Robin Sax, seorang penasihat hukum, melalui Parents.com. Cara ini mengurangi potensi kebingungan dan memperbaiki kemampuan anak dalam membahas situasi seksual.
  • Jelaskan juga apa yang merupakan privasinya. Lanjutkan bahwa selain dirinya, orang tuanya, dan dokter (atau pengsuh jika anak masih memakai popok), tidak ada seorang pun yang dapat memegang organ pribadinya.
  • Selalu waspada terhadap orang dewasa yang memberikan makanan kesukaan, mainan, atau binatang peliharaan yang lucu. Kebanyakan predator menggunakan barang-barang yang disukai anak-anak itu sebagai alat untuk menarik korban.
  • Kita cenderung memperbolehkan, misalnya, saat orang yang kita kenal baik mengelus-elus rambut anak dan menyebutnya manis. Padahal ini merupakan saat yang tepat untuk menunjukkan kepada anak, bahwa tidak apa-apa menolak disentuh–bahkan dari orang yang terlihat sangat sopan.
  • Berulang kali tekankan kepada anak bahwa ia dapat menceritakan apapun juga, terutama jika ada hal-hal yang membuatnya bingung dan takut. Ucapkan bahwa Anda tidak akan segan membantu dan bahwa Anda akan tetap mencintainya, apapun yang terjadi.

tips mencegah aksi pedofilia

Baca juga: 6 Manfaat Olahraga Bela Diri untuk Si Kecil

Usia 5-8 tahun

  • Tekankan pentingnya batasan. Dukung anak Anda bila ia ingin bilang, “Tidak, terima kasih,” jika ada relasi atau orang dekat yang ingin memeluk dan menciumnya. Bila anak Anda mengelak saat neneknya ingin memberi ciuman, Anda bisa bilang, “Sarah lagi sedang nggak ingin dicium sekarang, nggak apa-apa kan, Oma?”
  • Usir rasa bersalah. Jangan menunggu sampai Anda mencurigai ada yang salah. Anak perlu mengerti bahwa bukanlah salah mereka bila ada seseorang yang berlaku seksual dengan mereka dan bahwa mereka dapat selalu membicarakan hal ini kepada Anda. Predator anak memanfaatkan rasa malu dan bersalah anak, untuk mencegah mereka melaporkan tindakan ini kepada orang dewasa lain.
  • Saat mandi adalah waktu yang tepat untuk membicarakan bagian tubuh dan batasan. Ajarkan bagian tubuh mana saja yang tidak dapat disentuh oleh orang lain.
  • Ajarkan tentang keselamatan berinternet. Para ahli menganggap anak usia ini terlalu kecil untuk menggunakan internet tanpa pantauan orang tua. Aktifkan fitur kontrol orang tua untuk membatasi aksesnya. Dorong anak untuk tidak mengungkapkan identitas pribadi secara online dan minta mereka memberitahu Anda jika menerima pesan yang membuat mereka kurang nyaman.

Selain hal-hal yang bisa dijelaskan kepada anak tersebut, sebagai orang tua kita juga perlu bijak dalam menggunakan media sosial untuk mencegah anak menjadi korban para predator. Alangkah apiknya jika kita tidak mengunggah foto anak secara luas melalui media sosial, apalagi dalam pose yang dapat memicu aksi pedofil. Perilaku pedofil bisa terpicu bahkan melalui foto anak-anak yang terkesan polos di mata orang normal. Begitu pun, orang tua tidak perlu membuat akun media sosial untuk anak-anaknya, karena dengan demikian membuka kesempatan bagi para pedofil untuk mendekati mereka. Terakhir, lindungi identitas anak dari media sosial. Anak cenderung mudah terbujuk oleh orang dewasa yang mengetahui namanya.

Yuk, jaga anak-anak dari ancaman pelecehan seksual supaya mereka juga bisa kejar mimpi mereka di masa depan!




« | »
Read previous post:
be
6 Manfaat Olahraga Bela Diri untuk Si Kecil

Dengan teriakan kencang, sang buah hati melakukan tendangan ke udara dengan kaki kecilnya. Dengan alis terangkat dan tekanan darah yang...

Close