Tingkatkan Produktivitas Kerja dengan Konsep Slow Living

tingkatkan produktivitas kerja dengan konsep slow living

Apakah Anda berolahraga 3-4 kali dalam seminggu? Apakah dalam sehari Anda minum banyak kafein? Apakah dalam sepekan, Anda sempat melakukan hobi Anda? Apa yang dirasakan ketika Anda sedang memikirkan pekerjaan itu? Apakah pekerjaan Anda cukup fleksibel sehingga Anda bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga? Berapa banyak waktu yang Anda bisa gunakan untuk bersantai?

Memiliki kehidupan yang seimbang antara urusan kantor dan keluarga memang tidak pernah mudah. Hingga tidak jarang, Anda harus mengorbankan pikiran dan waktu untuk keluarga– juga diri sendiri– demi merampungkan urusan pekerjaan, apalagi jika Anda terpaksa harus lembur di kantor.

Ketika kehidupan Anda selalu terburu-buru dan lebih banyak berkutat di kantor, di belahan dunia lain malah sedang mulai menerapkan konsep slow living dalam urusan pekerjaan terutama untuk tingkatkan produktivitas kerja. Mereka tidak lagi bekerja dari pagi hingga petang atau malam, secara terus-menerus. Namun mengubah gaya dan jam kerja menjadi lebih fleksibel serta efisien.

Menurut Wikipedia, gerakan hidup yang lebih lambat atau slow movement mulai dikenal pada tahun 1986 di Roma, Italia. Dimulai dari Carlo Petrini yang memprotes pembukaan gerai makanan sajian instan di ibukota Italia tersebut. Seiring waktu gerakan ini berkembang menjadi subkultur di berbagai area hidup, dari gerakan slow food, slow parenting, hingga slow career. Bisa dibilang, gerakan untuk tingkatkan produktivitas kerja ini merupakan antitises dari gaya hidup serbacepat yang mulai dirasakan setelah revolusi industri.

Hal ini merupakan revolusi budaya yang melawan anggapan bahwa lebih cepat selalu lebih baik. Filosofi slow living bukan berarti melakukan segala sesuatu dengan kecepatan seekor siput. Melainkan melakukan sesuatu dengan kecepatan yang benar. Menikmati setiap jam dan menit daripada hanya menghitungnya. Melakukan segala hal sebaik mungkin untuk tingkatkan produktivitas kerja, bukan secepat mungkin. Kualitas di atas kuantitas, baik dari segi pekerjaan, makanan, sampai pengasuhan.

Sebut saja sejumlah perusahaan di Swedia yang dalam beberapa tahun terakhir menerapkan konsep slow living dan meminta para pekerjanya untuk fokus ke pekerjaan hanya selama 6 jam per hari. Seperti yang dilakukan perusahaan Toyota, yang berpusat di Gothenburg, Swedia, sejak 14 tahun lalu.

Baca juga: Waspadai Karoshi, Pembunuh Modern di Workaholic 

Konsep slow living juga diadaptasi oleh Filimundus, perusahaan pengembang aplikasi di Stockholm, sejak 2015. Menurut CEO Filimundus, Linus Feldt, bekerja selama 8 jam sehari tidak efektif. “Tetap fokus bekerja selama 8 jam sehari itu merupakan tantangan besar,” kata Feldt di situs Independent. “Apalagi di saat yang bersamaan, kita memiliki urusan dan kehidupan pribadi.”

Waktu kerja selama 6 jam memang terbilang cukup singkat. Agar berjalan efisien, Feldt melarang pekerjanya membuka media sosial selama jam kerja. Jadwal pertemuan dan rapat juga dibuat seminimum mungkin, dan segala gangguan yang bisa memecah konsentrasi pekerja dihalau sebisa mungkin. “Dengan begitu, kami berharap pekerja bisa lebih intensif selama di kantor,” kata Feldt.

Mempersingkat waktu kerja di kantor ternyata tidak hanya akan membuat Anda lebih fokus. Menurut penulis buku In Praise of Slowness: How a Worldwide Movement Is Challenging the Cult of Speed about the Slow Movement, Carl Honore, juga akan meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Lebih dari itu, konsep ini bisa memberikan energi lebih untuk Anda dalam menikmati kehidupan pribadi. Anda pun bisa lebih bahagia dan sehat.

Lalu bagaimana bila kantor Anda tidak memiliki kebijakan 6 jam kerja seperti Filimundus atau Toyota di Swedia? Menerapkan konsep slow living dalam pekerjaan Anda sendiri untuk tingkatkan produktivitas kerja, bisa menjadi jawabannya.

Tingkatkan Produktivitas Kerja dengan Konsep Slow Living

tingkatkan produktivitas kerja dengan slow living

1. Memulai hari dengan tenang

Meminum segelas air putih ketika bangun tidur, menyempatkan diri untuk bermeditasi atau jogging di sekitar rumah, membuat dan menyantap sarapan bisa membantu Anda memulai hari dengan kondisi psikis dan perut yang tenang. Dalam keadaan tenang dan tidak terburu-buru, Anda pun bisa memetakan pekerjaan di hari itu. Mana perkerjaan prioritas, dan mana pekerjaan yang bisa diselesaikan kemudian sehingga Anda dapat tingkatkan produktivitas kerja.

2. Memiliki waktu istirahat yang memadai

Berderet e-mail yang harus dibaca, jadwal rapat yang beruntun, atau bertumpuk kertas yang perlu Anda pelajari bukanlah alasan untuk tidak melakukan istirahat, terutama saat makan siang. Meskipun Anda tengah melakukan pekerjaan kantor dari rumah, memberikan waktu untuk diri sendiri beristirahat adalah suatu keharusan. Saat rehat, Anda akan memiliki waktu untuk menyantap makan siang, meregangkan otot, dan mengistirahatkan saraf mata dari layar komputer.

Baca juga: Penyakit Jantung dan Kaum Muda Urban Indonesia

3. Membuat batasan

Di mana pun Anda bekerja, buatlah batasan dengan lingkungan sekitar. Misalnya menutup pintu, memasang mode hening pada ponsel, atau hanya membuka satu tab Google Chrome Anda. Tujuannya satu, agar Anda fokus pada pekerjaan sehingga dapat tingkatkan produktivitas kerja. Membuat batasan ini tidak hanya berlaku pada pekerjaan saja, tapi juga kehidupan pribadi. Seperti mematikan ponsel atau e-mail Anda di malam hari atau akhir pekan. Dengan begitu, Anda memiliki waktu cukup untuk beristirahat dan keluarga.

4. Mengurangi kebiasaan multitasking

Selama ini, Anda mungkin berpikir bila multitasking akan membantu pekerjaan lekas selesai. Tapi sesungguhnya tidak begitu. Mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu hanya membuat Anda tidak fokus. Bila sudah begitu, kemungkinannya ada dua: pekerjaan menjadi berantakan atau tidak selesai dalam waktu cepat. Bila saja fokus, Anda bisa bekerja lebih efisien dan efektif. Hasilnya pun memuaskan dan tidak melalui proses yang berlarut-larut.

5. Jalani ritual yang memuaskan

Biasanya kita memiliki satu hal yang kita lakukan hampir setiap hari di tempat kerja. Misalnya, membuat kopi atau teh, merapikan berkas di meja kerja atau menulis things to do pada buku catatan Anda. Pilih salah satu rutinitas sederhana tersebut dan gunakan sebagai cara untuk meredakan kesibukan dan mengembalikan fokus pikiran Anda. Membuat kopi atau teh menjadi sarana yang tepat untuk sejenak ‘lari’ dari kesibukan Anda. Lakukan hal ini dengan mindfull atau konsentrasi pada apa yang Anda lakukan. Dengan demikian Anda akan kembali melakukan kegiatan dengan fokus yang baru, yang lebih segar.

6. Isi waktu luang dengan hobi

Daripada mengecek email, update status atau belanja online, habiskan waktu sisa dengan melakukan apa yang menjadi minat Anda. Coba sisihkan dua atau tiga jam di malam hari untuk melepaskan diri dari jeratan gadget atau TV dan gunakan untuk melakukan hobi Anda. Kalau misalnya Anda sudah lama ingin belajar menjahit, coba manfaatkan waktu luang tersebut. Atau belajar instrumen musik baru, misalnya. Sehingga Anda masih bisa #LivetheDream sambil menjalani rutinitas pekerjaan Anda.

#AyoLoveLife dengan menerapkan konsep slow living dalam pekerjaan Anda!




« | »
Read previous post:
bicara keuangan dengan pasangan
Halo Keluarga Baru, Hindari 7 Kesalahan Ini dalam Menyusun Keuangan Keluarga

Sebagai pengantin baru, tentu banyak hal yang harus disesuaikan antara suami dan istri. Salah satu hal yang harus dirembukkan bersama...

Close