Surya Sahetapy, Melanglang Buana Perjuangkan Kesetaraan untuk Kaum Tuli

surya sahetapy

Dewi Yull dan Ray Sahetapy merasa tidak ada yang aneh saat putra ketiga mereka lahir pada 21 Desember 1993. Persalinan berjalan lancar. Bayi tersebut diberi nama Panji Surya Putra. Kedatangan buah hati mereka pun disambut suka cita. Namun semua berubah ketika Surya berusia dua tahun.

Dewi maupun Ray mulai khawatir ketika mereka mengajak anaknya berkomunikasi. Surya tidak merespons suara yang dikeluarkan kedua orang tuanya. Padahal, bayi normal akan bereaksi mendengar suara di usia tiga bulan. Bayi usia tiga bulan biasanya menoleh ke arah sumber suara.

Ternyata mimpi buruk Dewi dan Ray terwujud. Setelah diperiksa tes tuli, Surya divonis mengalami tuli berat. Telinga kanannya memiliki tingkat ketulian 105 desibel dan telinga kirinya 115 desibel. Bandingkan dengan orang normal yang memiliki pendengaran 0-20 desibel.

Baca juga: Kisah Safrina, Penderita Cerebral Palsy yang Berjuang Meraih Mimpinya Lewat Pendidikan

Surya bukan satu-satunya dalam keluarga Dewi dan Roy yang mengalami tuli. Kakak pertama Surya, almarhumah Gisca Putri Agustina, mengalaminya. Hingga kini tidak diketahui pasti penyebab ketulian yang dialami Surya. Namun, Dewi pernah memberitahukan kepada Surya bahwa pendengaran bisa menghilang akibat demam tinggi saat masih bayi.

Untuk membantu perkembangan Surya, Dewi dan Roy memasangkan alat bantu dengar. Mereka berharap Surya bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Bahkan, Surya dimasukkan ke taman kanak-kanak umum. Namun, lantaran perkembangan Surta justru terhambat, Dewi dan Roy memutuskan untuk memindahkannya ke TK Luar Biasa. Di sini, tumbuh kembang Surya melesat. Dia lulus TKLB 2 tahun, lalu meneruskan ke Sekolah Luar Biasa Bagian B (SLB/B) atau setara SD. Jika mayoritas siswa menamatkan SLB/B delapan tahun, Surya hanya butuh waktu enam tahun.

surya sahetapy dewil yull

Lulus dari SLB/B, Surya dimasukkan ke sekolah menengah pertama untuk umum. Di SMP, Surya kembali berjibaku. Meski sudah mengenakan alat bantu dengar, dia kesulitan mengerti pelajaran di kelas lantaran obrolan terlalu cepat. Membaca gerak bibir guru maupun teman-teman sekelasnya pun sulit. Sebab, mereka terkadang menunduk ataupun menjelaskan pelajaran sambil menghadap papan tulis.

Baca juga: Hendra Wijaya, Ultraman Asal Indonesia

Cobaan tersebut membuat Surya tertekan. Dia kerap pingsan akibat depresi. Tetapi, penyuka buku biografi Steve Jobs ini tidak patah arang. Surya berupaya mengejar ketertingalannya. Setiap pulang sekolah, dia meminta para guru memberikannya pelajaran tambahan. Para guru yang mengajar Surya pun mendukung usahanya. Mereka menjelaskan setiap pelajaran kepada Surya. Walhasil, Surya lulus SMP tiga tahun.

Sadar sistem pendidikan di Indonesia kurang ramah untuk siswa berkebutuhan khusus, Surya memilih sekolah menengah atas dengan homeschooling. Dia juga mulai diperkenalkan oleh kakaknya, Gisca, dengan komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin). Di komunitas tersebut, Surya belajar bahasa isyarat Indonesia (Bisindo). Bisindo berbeda dengan sistem isyarat bahasa Indonesia (SIBI). Sebab, SIBI diadopsi dari bahasa isyarat di Amerika Serikat yang memiliki aturan soal imbuhan. Akibatnya, SIBI dianggap ribet. Beda halnya dengan Bisindo yang memiliki sistem seperti bahasa obrolan sehari-hari.

Perjuangan Surya akan kesetaraan kaum tuli pun dimulai di Gerkatin. Dia aktif berkampanye tentang Bisindo. Saban akhir pekan saat acara bebas kendaraan umum, Gerkatin membuat stan untuk meminta dukungan masyarakat terhadap kampanye Bisindo.

Surya juga berjuang di ranah pendidikan. Dia menjadi pengajar tamu untuk Bisindo di studi linguistik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas. “Saya ingin makin banyak orang mengenal dan paham Bisindo, karena SIBI yang selama ini sulit dipelajarilah yang membuat kami yang tunarungu dikucilkan,” kata dia seperti dikutip sebuah koran kenamaan tanah air.

Berkat kegigihannya berkampanye untuk kaum tuli, Surya diundang dalam acara pertemuan tunarungu internasional di London, Inggris, Juni 2014. Ia mendapat undangan untuk pertemuan yang didukung Ratu Elizabeth II itu setelah mengirim surat elektronik berisi sederet prestasinya. Dalam acara tersebut, Surya menceritakan perlakuan pemerintah terhadap kaum disabilitas dan kekurangan apa saja yang perlu diperbaiki.

surya sahetapy

Setahun kemudian, dia diundang menjadi pembicara di XVII World Congress of The World Federation of The Deaf di Istanbul, Turki. Surya mengangkat topik Obstacles and Opportunities in Deaf Youth Leadership Initiative in Indonesia. Sedangkan tahun ini dia mengikuti program petukaran pelajar tuna rungu ke Amerika Serikat 6 Juni sampai 19 Juni 2016. Selain belajar, Surya mengikuti konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membahas Undang-undang Disabilitas.

Tidak hanya itu, Surya pun sempat mengikuti Program Magang Kantor Gubernur DKI Jakarta. Dia terpilih berkat esainya tentang sistem anggaran pendidikan SLB di Jakarta. Dia magang menjadi staf pengawalan transparansi anggaran.

Selain aktivitas memperjuangkan hak-hak kaum disabilitas, Surya mengikuti jejak orang tuanya bermain film. Pada 2015, dia tampil di film Sebuah Lagu untuk Tuhan sebagai instruktur bahasa isyarat. Setahun kemudian Surya berperan main di Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara.

Baca juga: Johan dan Raechanah, Berlari di atas Kursi Roda

Dengan segala aktivitasnya tersebut, Surya punya pandangan soal hidup yang selalu dipegang. “Pendengaran saya boleh diambil oleh Tuhan. Tapi yang penting saya harus selalu berpikir positif dan berbuat baik pada orang lain,” kata dia.

Bukan hanya menjadi contoh bagi orang lain, Surya pun membuat Dewi memetik pelajaran soal kehidupan. Menurut Dewi, Surya mengajarkannya tentang pembebasan dari tekanan sosial. Bagaimana Surya memperjuangkan hak-hak kaum tuli dengan mendorong agar Bisindo diakui pemerintah sebagai bahasa resmi tuna rungu Indonesia. Dan itu membanggakan Dewi.

Terbukti, keterbatasan tidak menjadi alasan untuk tidak mencintai hidup. Nah, bagaimana dengan kamu? #AyoLoveLife!




« | »
Read previous post:
32147912 - businessman hand drawing an umbrella above a family concept for protection, security, finance and insurance
9 Pertanyaan yang Perlu Diajukan Sebelum Membeli Asuransi Unit Link

Anda sedang memilih-milih produk asuransi? Pastikan Anda memahami kelebihan dan manfaat setiap produk asuransi sebelum membelinya. Secara garis besar, produk...

Close