Perjuangan 17 Tahun Rio Haryanto Mewujudkan Mimpinya Menembus Arena Formula 1

rio haryanto

Suatu sore, seorang anak laki-laki sibuk membereskan barang usai latihan balap go-kart di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Karena tentengannya terlalu banyak, ia menitipkan helmnya kepada seorang wartawan yang meliput di arena latihan.

Sang ibu yang kebetulan melihatnya menegur dan memperingatkannya agar jangan menyusahkan orang lain. Anak itu pun langsung berlari kembali menuju si wartawan.

“Maaf Mas, nggak jadi titip, saya bawa sendiri saja, dimarahi ibu,” katanya sembari melempar senyum karena merasa bersalah.

Anak itu adalah Rio Haryanto, bocah kelahiran Solo, 23 tahun lalu, yang dikenal patuh pada orang tua. Didikan orang tua telah membentuk karakter Rio sebagai anak pendiam, rendah hati, religius dan pantang menyerah.

Bermula dari balap go-kart lokal, Rio telaten “mengaspal” sirkuit demi sirkuit sampai akhirnya berhasil mewujudkan mimpi besarnya, menembus arena balap Formula 1 dan menjadi satu-satunya pembalap Asia di musim 2016. Meskipun demikian, perjuangannya menuju ajang adu cepat “jet darat” paling bergengsi di dunia itu tidak mudah.

Kehilangan masa remaja

Rio harus rela kehilangan masa anak-anak hingga remajanya karena aktivitas latihan dan balapan yang ketat. Di usia 6 tahun, anak pembalap Sinyo Haryanto itu sudah berani mencoba arena balap go-kart.

Di usia belia itu juga, ia sudah harus menanggung lara. Sebuah insiden kecelakaan menimpanya saat latihan di Donohudan, sirkuit yang digunakan untuk latihan bersama balap motor dan go-kart.

Mengenal arena balap sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Rio bertabrakan dengan pembalap motor yang menyebabkan dirinya mengalami cedera serius dan harus menjalani operasi di Singapura. Tetapi, rasa sakit itu tak mampu membuatnya menyerah dan berhenti balapan.

“Siku saya patah saat itu, tetapi saya tidak trauma. Terus berlatih lagi. Saya tahu dunia balap berisiko tinggi, tetapi saya sudah siapkan mental,” kata Rio mengenangnya.

Baca juga: Joey Alexander, Pianis Pertama Indonesia Raih Nominasi Grammy Award

Sang ibu, Indah Pennywati yang selalu mendampingi Rio setiap latihan dan balapan, adalah sosok yang paling menentukan perjalanan Rio. Dialah yang selalu memupuk semangat anaknya dan mendidiknya untuk tidak patah arang.

“Saya dan ayahnya selalu memberi masukan positif pada Rio. Setiap kesalahan dan kegagalan adalah pelajaran, tetapi semangat tidak boleh padam,” kata Indah usai acara tumpengan masyarakat Solo menyambut lolosnya Rio ke ajang balap F1.

Inspirasi Schumacher dan Ayrton Senna

Saat berusia 8 tahun, Rio diajak kedua orang tuanya menyaksikan balap F1 di Sepang Malaysia. Ia sempat berfoto dengan pembalap idolanya, Michael Schumacher. Momen itulah yang dikenang Rio sebagai awal mimpinya untuk menembus kasta tertinggi dunia balap mobil itu.

“Dia itu salah satu idola saya dan yang membuat saya termotivasi ke F1. Saya berharap punya karier panjang seperti Schumacher,” kata Rio usai diumumkan lolos di antara 22 pembalap yang akan berlomba di seri F1.

Penggemar olahraga golf dan jetski itu menyebut Schumacher sebagai sumber inspirasinya, selain Ayrton Sena – juara dunia F1 tiga kali asal Brasil yang tewas dalam kecelakaan di sirkuit San Marino, Italia pada 1994.

Di usia 9 tahun, Rio menjadi juara nasional go-kart kelas kadet. Sejak itu, dominasinya di dunia balap sulit terbendung dan terus “naik kelas” secara cepat.

Baca juga: Alinka Hardianti, Srikandi Arena Balap Indonesia

Berkat latihan keras dan kemauan yang kuat, Rio meraih juara nasional 5 kali, juara internasional 4 kali, juara Formula Asia 2.0, dan juara Formula BMW Asia Pasifik – salah satu prestasi terbaiknya.

Pada 2010, ia bergabung dengan Manor Racing dan memulai debutnya di GP 3, sebuah ajang balap profesional pemula sebelum promosi ke GP 2 dan F1. Di arena ini, Rio mulai mendapat pengalaman berharga karena sirkuit, instruktur, dan fasilitas lain yang digunakan di GP3 berstandar F1.

Rio meraih peringkat 5 di seri GP 3, prestasi terbaik tim Manor di ajang ini. Ia kemudian mendapat kehormatan menjajal performa mobil F1 milik Marussia Virgin Racing di Abu Dhabi. Sayangnya, Rio mengakhiri uji coba itu di posisi terakhir karena mobilnya mengalami masalah pada gear box.

Pada seri GP 2 musim 2015, Rio finisih di posisi empat, dengan meraih juara 1 di tiga sirkuit, Bahrain, Austria, dan Inggris. Prestasi inilah yang kemudian membuatnya semakin percaya bahwa impian untuk mengikuti jejak Schumacher akan menjadi kenyataan.

Lolosnya Rio ke arena balap F1 bukan hanya ditebus dengan perjuangan panjang melelahkan, tetapi juga sokongan dana yang tidak sedikit. Persoalannya, harga “tiket” F1 sangat mahal mengingat Rio harus menyetor 15 juta euro (Rp 225 miliar) ke Manor Racing.

Hingga kini, PT Kiky Sport sebagai perusahaan orang tua Rio dan dibantu Pertamina sebagai sponsor baru bisa memenuhi 8 juta euro. Sisanya, harus dibayarkan paling lambat Mei 2016.

Religius dan rendah hati

Selain semangat pantang menyerah, Rio juga seorang yang rendah hati, religius, dan percaya pada kekuatan doa sebelum berlomba. Menurut Rio, doa menjadi penentu hasil karena semua orang tidak akan pernah tahu akan hal buruk yang bisa terjadi setiap detik di sirkuit.

Di setiap balapan, ia tak lupa menempel Ayat Kursi – penggalan Al Quran yang menggambarkan kekuasaan Allah – di sebelah kanan setir mobil sebagai pengingat dan penenang hati.

“Saya selalu berdoa sebelum mulai. Ayat Kursi adalah salah satu yang saya baca, itu yang membuat saya lebih tenang selama balapan,” ujar sarjana bisnis lulusan Universitas Anglia Ruskin, Inggris, itu.

Saat latihan dan balapan pada musim panas di Inggris yang bertepatan bulan Ramadan tahun lalu, Rio tetap menjalankan puasa selama 18 jam – lebih lama dari Indonesia – meskipun aktivitasnya sangat menguras tenaga. Ia juga mengaku semakin rajin melakukan salat malam untuk memuluskan cita-citanya selama menunggu putusan resmi soal keikutsertaannya dalam balap F1.

Rio sering mengunjungi Pesantren Al Hikam di Boyolali yang didirikan oleh kakek dan neneknya. Ia sering berdoa bersama dan bermain dengan para santri seusia SD. Rio selalu mengajarkan anak-anak untuk memiliki impian besar dan tidak gampang menyerah menghadapi kesulitan apapun.

Insiden bendera Polandia

Selama perjalanannya di seri GP, Rio sering dipandang sebelah mata. Salah satunya, saat ia menjuarai GP3 di Turki, panitia tidak menyediakan bendera Indonesia meskipun sudah jelas ada pembalap dari Indonesia.

Ketika Rio naik podium, panitia terpaksa membalik bendera Polandia untuk dikerek. Rio juga terpaksa harus menyanyikan Indonesia Raya seorang diri, karena lagu kebangsaan itu tidak ada dalam daftar milik panitia. Di sirkuit lain, kejadian pembongkaran mobil balap karena dituduh curang, diberi penalti kontroversial, hingga dilecehkan komentator adalah hal yang sudah biasa dialami Rio.

Tetapi, ia mengaku tidak kecil hati. Sebaliknya, Rio malah semakin terlecut dan ingin membuktikan bahwa bangsa Indonesia juga bisa menjadi juara dunia.

Baca Cerita Insipratif lainnya di sini. 




« | »
Read previous post:
sri lestari
Sri Lestari: Menyebarkan Semangat untuk Mencintai Hidup Lewat Ribuan Kilometer di Atas Kursi Roda

“Di atas motor aku merasa bebas. Ini ironis. Karena sepeda motorlah yang merenggut kebebasanku.” Kalimat itu meluncur dari mulut Sri...

Close