Puger Mulyono, Juru Parkir yang Merawat Hidup Anak dengan HIV/AIDS Telantar

puger mulyono

Di sebuah gang padat di wilayah Sondakan, Solo, suatu sore, sekumpulan anak sedang bermain di depan rumah. Keceriaan tampak jelas di wajah mereka, seolah mengaburkan beban hidup yang ia tanggung sejak balita – menjadi anak yatim piatu yang terusir dari kampungnya.

Anak-anak ini dianggap “kutukan” oleh penduduk desa karena mewarisi penyakit yang mematikan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Tak ada sanak saudara yang bersedia merawatnya. Bahkan, tak sedikit kerabatnya yang sengaja meninggalkannya di rumah sakit.

Ada juga yang tinggal di kandang ayam hingga kelaparan, hidup di hutan dengan neneknya karena diusir warga desa yang takut tertular, dan ada pula yang dilempari batu untuk mengusirnya agar tidak bermain dengan anak-anak kampung lain. Meskipun setiap anak membawa kisah pilunya sendiri, pengalaman mereka sama; terbuang dan telantar karena dianggap menjijikkan.

Anak-anak malang ini terlahir dengan mengidap HIV/AIDS dari kandungan. Mereka, satu per satu, ditemukan Puger Mulyono, seorang juru parkir di Kota Solo yang punya kepedulian besar pada anak-anak ringkih ini. Awalnya satu anak, kemudian terus bertambah hingga jumlahnya mencapai belasan.

Baca juga: Suksma Ratna, Menularkan Semangat untuk “Kalahkan” HIV Sampai ke Mancanegara

Puger pertama kali menemukan Yosep, bocah dua tahun yang dibuang karena terinfeksi HIV/AIDS, pada 2012. Ia mengajak dan membawanya pulang ke rumah kontrakannya. Pertumbuhan Yosep lambat, belum bisa berjalan dan bicara seperti anak seusianya waktu itu.

Puger dan istrinya, Dewi Setiawati, merawatnya dan mengobatinya hingga Yosep bertahan hidup sampai sekarang di usianya enam tahun. Yosep sudah seperti anak kelima bagi Puger-Dewi, dan terbiasa bermain dengan anak-anak kandung mereka, berbagi makanan dan mainan.

“Saya iba melihatnya waktu pertama kali, telantar tak ada yang mengurusi. Saya ambil dan saya bawa pulang. Istri kebetulan tidak protes dan malah sayang sama dia,” kata Puger.

Sejak itu, Puger sering mendapat kabar dari kawannya jika ada anak lainnya yang dibuang. Tak jarang ia mendapat telepon dari sejumlah rumah sakit yang mengabarkan ada pasien anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang ditinggalkan keluarganya. Puger pun bersedia mengambil anak itu dan membawanya pulang.

“Saya heran, mereka tahu dari mana. Tetapi mungkin ini jalan saya untuk berbagi dengan anak-anak yang kurang beruntung,” ujar Puger.

Begitu mendapat informasi ada ADHA telantar, Puger tak sungkan mendatanginya, meskipun di luar kota. Ia pernah berangkat pukul 2 pagi ke sebuah hutan di Jepara untuk mengambil seorang gadis dua tahun, Putri, yang hidup hanya ditemani neneknya yang sudah berusia renta. Kondisi bocah itu sangat kurus dan tak terurus.

Begitu juga saat mengambil Lisa dan Akila, Puger rela mendatanginya sendiri ke Kudus. Lisa ditemukan tinggal dalam sebuah kandang ayam karena tak ada warga yang mau menampungnya.

puger_dan_dewi_mengasuh_adha_telantar_seperti_anak_mereka_sendiri

Ditolak warga

Upaya menjadi orang tua asuh bagi ADHA telantar ternyata tak mudah di tengah masyarakat yang belum melek tentang penyakit HIV/AIDS. Ia berkali-kali terusir dari rumah kontrakan mereka karena penolakan dari warga sekitar.

Puger awalnya tinggal di Kartasura, Sukoharjo, kemudian pindah ke Laweyan, Solo. Di sana, pemilik kontrakan enggan memperpanjang sewa atas saran dari masyarakat yang keberatan dengan keberadaan ADHA yang dikhawatirkan menulari anak-anak mereka.

Puger kemudian pindah ke Pasar Kliwon, Solo, tetapi batal setelah warga setempat berdemo menolak mereka sesaat sebelum pindahan. Mereka tidak setuju jika rumah itu akan dijadikan tempat penampungan ADHA.

Simpati muncul dari Walikota Solo Hadi Rudyatmo yang kemudian berusaha membantu mencarikan kontrakan untuk rumah singgah. Tetapi, tak satupun yang bebas dari penolakan warga.

Puger akhirnya bertemu seorang pemuka agama yang berpengaruh di sebuah wilayah di Sondakan, yang kemudian mencarikan kontrakan di kampungnya dan menjanjikan perlindungan dari penolakan warga.

Rumah dua lantai berukuran sekitar 70 meter persegi yang berloksi di gang padat itulah yang kini menjadi rumah singgah Lentera yang dihuni ADHA. Sementara keluarga Puger tinggal di rumah terpisah, yng berjarak kurang dari 100 meter.

Sesuai namanya, lentera berarti cahaya penerang, agar rumah itu bisa memberikan mereka harapan hidup meskipun ia tahu sampai kini belum ditemukan obat yang secara klinis bisa menyembuhkan HIV/AIDS.

Merawat dan mengasuh

Secara teratur, Puger memberikan mereka obat anti retroviral (ARV) sesuai jadwal dari dokter untuk memperlambat perkembangan virus. Beberapa anak sudah menunjukkan perbaikan kekebalan tubuh, yang ditandai dengan menghilangnya bercak merah pada kulit mereka.

Kebanyakan anak yang ditampung Puger, pernah divonis dokter umurnya tak akan lama lagi. Tetapi, sampai sekarang mereka masih bisa bertahan hidup, bersekolah, dan bermain seperti anak-anak pada umumnya. Meskipun demikian, ada dua orang anak yang tak tertolong karena kondisi kesehatannya sudah terlampau parah saat ditemukan.

Persoalan menjadi rumit ketika ada anak yang sakit, atau tertular flu dari orang lain. Dengan cepat, penyakit ini menyebar karena daya tahan tubuh anak-anak yang sangat rentan. Puger harus siap dengan situasi ketika semua anak asuhnya sakit bersamaan.

Mengingat kondisi kesehatan mereka, anggaran terbesar untuk merawat anak-anak ini adalah pengobatan. Selain memberikan pengobatan ARV seumur hidup, Puger juga harus mengobati semua anak yang memiliki frekuensi sakit lebih sering dari anak normal.

Sayangnya, belum semua dokter bisa memberikan penanganan yang layak bagi ADHA. Di kalangan dokter sendiri, masih banyak yang tak paham penyakit ini dan merasa jijik dengan pasiennya.

“Saat ini masih sulit mencari dokter yang akrab dengan pengidap HIV/AIDS. Saya pernah membawa anak-anak periksa ke beberapa dokter, mereka bahkan tak mau menyentuhnya,” kata Puger.

Selain di shelter, Puger juga membantu perawatan medis untuk sekitar seratus ADHA yang tinggal bersama keluarga masing-masing yang membutuhkan pengobatan ARV.

Tak hanya menyediakan pengobatan dan mengasuh, Puger juga memberikan hak pendidikan bagi mereka yang sudah masuk usia sekolah. Anak-anak bersekolah di SD terdekat, diantar dan dijemput sendiri oleh Puger setiap hari.

Mencari sekolah yang mau menerima murid ADHA bukan persoalan mudah. Puger harus berkali-kali meyakinkan bahwa mereka tidak akan menulari anak-anak lain lewat udara.

Juru parkir yang optimistis

Kebutuhan rumah singgah memakan biaya tak kurang dari Rp 10 juta per bulannya. Pekerjaan Puger sebagai tukang parkir, dan istrinya yang punya warung kelontong, jelas tak cukup untuk membiayai mereka.

Namun, Puger percaya setiap niat baik akan selalu menemukan jalannya. Ia juga meyakini setiap anak yang terlahir di dunia membawa rejekinya masing-masing, yang mungkin datang lewat orang lain.

“Selalu ada saja bantuan dari donatur, ada barang, uang, dan relawan. Kami tidak pernah mencari, tetapi mereka datang sendiri,” kata Puger.

Baca juga: Dari Juru Parkir, Undang Dirikan Sekolah Gratis

Pada awalnya, uang belanja rumah sering habis terpakai untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di shelter. Bahkan, tabungan yang mereka sisihkan juga ikut terpakai. Tetapi Puger dan Dewi tidak pernah menyesali keputusan mereka mengasuh ADHA.

Kesabaran mereka justru mengundang banyak simpati. Puger sering diundang menjadi pembicara untuk berbagi pengalaman di seminar tentang penanganan ADHA di kota-kota besar di Indonesia. Ia juga beberapa kali mendapat penghargaan nasional di bidang sosial terkait kepeduliannya merawat anak-anak telantar berpenyakit.

Tetapi Puger tidak pernah berubah. Setiap hari, ia masih menjadi juru parkir di kawasan Purwosari. Ketika sore hari, anak-anak asuh mereka menyusulnya di tempat kerja yang tak jauh dari shelter, bermain dan meminta dibelikan jajan.

Kebahagiaan Puger adalah menyaksikan anak-anak asuhnya itu ceria seperti anak-anak umumnya. Ia tidak terlalu menggubris vonis yang menjatah umur bocah-bocah itu karena umur manusia ada di tangan Tuhan.

Bagi Puger, membantu ADHA untuk bertahan hidup dengan segala cara jauh lebih penting ketimbang sikap pesimistis tanpa usaha. Ia terus berusaha agar harapan hidup bagi anak-anak itu tetap ada.




« | »
Read previous post:
dessert-natal
Intip 6 Akun IG Ini untuk Rayakan Natal dengan Hidangan Favorit

Merayakan Natal bersama keluarga pastinya terasa istimewa. Perayaan ini semakin berkesan dengan hadirnya hidangan Natal dan kue khas Natal. Kerap...

Close