Piksel Indonesia, Melestarikan Tradisi dengan Sains Demi Kebangkitan Batik Nasional

indonesia-fashion-0915-0

Tidak ada yang tidak mungkin, termasuk mengawinkan tradisi dengan sains dan teknologi, Piksel Indonesia sudah membuktikannya.

Beberapa tahun sebelum batik dikukuhkan UNESCO sebagai Warisan Dunia dari Indonesia, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Pixel People Project—Nancy Margaried, Muhammad Lukman dan Yun Hariadi—melakukan riset tentang batik.

Sejarah, filosofi hingga ratusan motif batik yang tersebar di Indonesia mereka teliti dan pelajari. Dari riset tersebut, mereka menyimpulkan jika kompleksitas motif batik serupa dengan konsep fractal dalam matematika atau fisika. Fractal sendiri merupakan cabang ilmu matematika yang berfokus pada pengulangan, dimensi, literasi, dan pecahan.

piksel indonesia

Dengan rumusan fractal yang rumit, motif batik dapat dimodifikasi sesuai imajinasi bahkan hingga menjadi desain baru, yaitu Batik Fractal. Menariknya, tiga anak muda ini berhasil menyederhanakan konsep fractal yang rumit tersebut menjadi sebuah program yang mudah diaplikasikan oleh orang awam sekalipun. Program ini kemudian mereka wujudkan dalam bentuk peranti lunak yang kemudian mereka labeli jBatik.

Baca juga: Dea Valencia, Omset 300 Juta dari Jualan Batik di Facebook

Peranti lunak ini dapat menghasilkan beragam motif baru hanya dengan mengubah parameternya. Ada ratusan motif batik, dari satu motif batik dapat dimodifikasi dan dikombinasi dengan motif lain menjadi motif-motif baru yang dapat disimpan dalam format gambar 2D dan 3D. Setelah desain pola jadi dapat dicetak di kertas dan dijiplak di atas kain. Produksi selanjutnya tetap menggunakan metode tradisional dengan canting dan malam untuk batik tulis, bisa juga dicap atau langsung dicetak menjadi batik print.

Tantangan besar jBatik

Inovasi mereka dalam mentransformasi tradisi dengan menggunakan teknologi ini berhasil membawa Pixel People Project ke Milan, Italia untuk mempresentasikan Batik Fractal di 10th Generative Art International Conference pada tahun 2007. Tahun-tahun berikutnya mereka mendapat banyak penghargaan di antaranya British Council IYCE, Asia Pacific ICT, dan Award of Excellence for Handicraft di kawasan Asia Tenggara.

Mendapat apresiasi yang baik dari dunia internasional bukan berarti usaha mereka memperkenalkan konsep ini di dalam negeri menjadi lebih mudah. Sebaliknya, tidak sedikit yang meragukan dan menentang konsep tersebut. Bahkan seorang desainer batik yang sudah punya nama besar menolak ide mereka. Menurutnya jBatik dapat merusak citra batik sebagai warisan budaya bangsa dan menekankan jika batik tidak pernah bisa bersatu dengan teknologi.

piksel indonesia

“Kami sempat mendapat protes dari para perajin batik yang merasa terancam karena menganggap hadirnya teknologi ini akan mematikan tradisi yang sudah lama mereka pegang teguh dan jalankan. Padahal kami respek pada unsur tradisinya, tetapi bagi kami, batik sesuatu yang bisa dikembangkan karena batik adalah seni yang scientific dan high tech,” ungkap Nancy pada suatu kesempatan.

Dengan semangat yang besar itu pula, pada 2009 mereka mendirikan Piksel Indonesia dengan mengusung dua produk yang sudah mereka miliki yaitu peranti lunak jBatik dan Batik Fractal. Tujuannya tidak lain ingin menyebarkan virus kreativitas melalui desain batik dan membantu perajin batik dalam mengeksplor hasil karyanya. Dengan jBatik, perajin batik tradisional dapat berkreasi membuat beragam pola dan menciptakan varian motif dalam waktu singkat sehingga lebih produktif dan efisien.

Bersama menuju kesuksesan

Usaha Piksel Indonesia tidak sia-sia, hingga kini sudah ribuan desain yang dihasilkan. Varian motif tradisional seperti Buketan (Pekalongan), Kangkungan (Cirebon), Parang Rusak (Yogyakarta), Kawung (Solo) dan Merak Ngibing (Garut) sudah dikembangkan menjadi Batik Fractal. Selain diproduksi dalam bentuk produk fashion, Batik Fractal juga dikreasikan menjadi aksesoris hingga alat-alat rumah tangga. Bahkan Piksel Indonesia pernah mengaplikasikan batik Fractal pada interior kereta api dan gedung perkantoran. Pasarnya pun sudah mendunia, mulai dari Malaysia, Australia, Amerika, hingga Swiss.

Baca juga: Yasa Singgih, Sukses Bersaing di Pasar Fashion Asia Umur 20 Tahun

Keberhasilan mengembangkan batik fractal tidak ingin mereka nikmati sendiri. Sebaliknya hal ini mendorong Nancy dan teman-temannya untuk memberdayakan masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga yang tinggal di daerah miskin perkotaan, melalui pembinaan dan pelatihan pembuatan batik. Tidak hanya itu, bersama Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) Syariah mereka membentuk koperasi yang diberi nama Batik Fractal Cooperation.

Para anggota koperasi mendapatkan pelatihan desain produk, pelatihan teknologi, pemasaran dan keuangan. Mereka juga membantu permodalan dalam bentuk pinjaman dana usaha mikro pada puluhan anggotanya di Kampung Kreatif Dago Pojok, Bandung, sehingga mereka berkesempatan menjadi wirausaha. Produk hasil mereka kemudian disalurkan melalui lini bisnis Batik Fractal dan dipasarkan secara online sehingga pemasarannya menjadi global.

Nancy berucap, “Kebahagiaan terbesar kami yaitu ketika apa yang kami lakukan memberikan manfaat bagi orang lain. Seperti lingkaran, kami mengambil ilmu batik dari perajin batik, kemudian mengembalikannya lagi kepada perajin batik untuk kepentingan mereka yang lebih besar.”

Batik Fractal pun membawa kebanggaan akan karya negeri ke kelas dunia. Ayo Love Life dan cintai batik Indonesia!




« | »
Read previous post:
58545540 - hand of a businessman hands over a resignation letter on a wooden table
4 Cara Resign dengan Elegan

Sama seperti hubungan percintaan, hubungan kerja pun tidak selalu mulus. Ada banyak kerikil yang harus kita hadapi di sepanjang perjalanan...

Close