Pengalaman Buruk Sebagai Buruh Migran Jadi Bekal Siti Badriyah Perjuangkan Nasib TKW

siti badriyah

Hidup sedang sulit bagi Siti Badriyah pada 2002. Di kampungnya, Karangrayung, Grobogan, Jawa Tengah, wanita kelahiran 1976 ini tidak memiliki pekerjaan. Sementara bahtera rumah tangganya sedang bermasalah. Dia pun harus menanggung hidup anaknya yang baru berusia 1 tahun.

Saat desakan ekonomi menguat, muncul tawaran dari seorang agen jasa tenaga kerja luar negeri. Gaji tinggi dengan segala fasilitas jadi iming-iming. Untuk berangkat ke Malaysia, kemudahan juga diberikan. Mulai dari mengurus paspor, izin kerja, hingga keberangkatan ke Malaysia. Tanpa pikir panjang, Badriyah mengambil tawaran tersebut. Dia dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Paspor dan izin kerja didapatnya tidak lama kemudian dari sang agen.

Pengalaman buruk selama menjadi TKI

Iming-iming tersebut berubah jadi mimpi buruk saat Badriyah sampai di Bukit Mertajam, Pulau Penang, Malaysia. Awalnya, sang agen menahan paspornya. Setelah itu, dia diping-pong bekerja di lima majikan. Janji gaji besar di Negeri Jiran pun hanya isapan jempol belaka. Bahkan Badriyah tidak mendapatkan gaji selama 10 bulan.

Dia pernah menanyakan gaji ke majikannya. Ternyata upah Badriyah diambil agennya. Dia pun lantas mendatangi agensinya di Penang, 13 kilometer dari tempatnya bekerja. Saat menagih uang hasil keringatnya, dia justru diancam agar tidak berulah.

Baca juga: Heni Sri Sundani, Kisah Mantan TKW yang Menuai Berkah Lewat Sedekah Ilmu

Bukan hanya tidak digaji, Badriyah diisolasi. Hampir 10 bulan dia tidak bisa menghubungi keluarganya. Padahal, dia sangat rindu dengan anaknya yang masih balita. Majikannya pun melarang Badriyah keluar rumah. Tak tahan dengan kondisi tersebut, Badriyah memutuskan untuk kabur dari majikannya. Tapi dia tidak lari ke kantor polisi. Sadar tidak memiliki dokumen, Badriyah khawatir melapor ke polisi justru membawa masalah lain.

Badriyah bersembunyi di masjid yang letaknya tidak jauh dari toko tempat majikannya. Melihat Badriyah dari subuh hingga siang di masjid, sang imam penasaran. Imam masjid lantas menghampiri Badriyah sambil menanyakan persoalan yang dihadapinya. Iba dengan nasib Badriyah, sang imam mengulurkan tangan. Sang imam menawari pekerjaan di sebuah kantin. Tentu saja Badriyah mengiyakan. Dia menganggap tawaran tersebut sebagai satu-satunya jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.

Sang imam pun menawari Badriyah sebuah kontrakan. Saban pagi, dia dijemput dari kontrakan menuju kantin. Jam kerjanya mulai pukul 5 pagi hingga 5 sore dengan hari kerja Senin sampai Jumat. Gajinya 700 ringgit per bulan. Tapi, gaji tersebut harus dipotong untuk uang keamanan lantaran dia tidak memiliki dokumen resmi. Dari gaji tersebut, Badriyah menabung.

Setelah tabungannya cukup selama bekerja 10 bulan, Badriyah balik ke Indonesia. Tapi kembali ke kampung halaman bukan hal yang mudah. Sebab, dia tidak memiliki dokumen resmi. Karena itu, dia memilih lewat jalur tikus via laut. Jalur tikus memang dikenal berbahaya, biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit alias 1.300 ringgit, tetapi itu satu-satunya pilihan Badriyah.

Setelah tiba di Johor dari Penang melalui jalan darat, Badriyah bersama 20 orang lainnya harus berenang 15 menit menuju kapal yang menunggu mereka. Ombak besar dan perahu kecil sarat penumpang membuat Badriyah was-was sepanjang perjalanan. Tetapi Dewai Fortuna masih menaunginya. Kapal yang ditumpanginya tiba di Tanjung Pinang. Dari sana, dia menumpang kendaraan ke Batam. Setelah itu, Badriyah naik kapal ke Jakarta.

Berjuang untuk sesama buruh migran

Meski mengecap mimpi buruk di Malaysia, Badriyah tidak kapok menjadi TKI. Setelah dua tahun di Malaysia, dia mencoba bekerja di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Pekerjaannya, mengasuh bayi. Tak seperti di Malaysia, kali ini Badriyah mendapat gaji. Jumlahnya lumayan tinggi: Rp 2 juta per bulan. Majikannya pun memperlakukannya dengan baik. Tapi, dia tidak kuat dengan beban kerjanya. Karena itu ketika ada tawaran lain di Brunei, dia berniat pindah dari majikan pertamanya.

Untuk mengurus kepindahan dari majikannya yang pertama, Badriyah harus pulang ke Jakarta. Mumpung di Jakarta, dia mengurus gajinya saat bekerja di Malaysia. Saat itu dia menginap di kantor Konsorsium Pembela Buruh Migran (Kopbumi). Di sana, dia melihat bagaimana sulitnya para buruh migran mengambil hak mereka setelah bekerja keras menguras keringat di luar negeri. Ketika itu pula hatinya tergerak.Akhirnya, Badriyah memilih untuk tetap di Jakarta dan membantu para buruh migran.

Baca juga: Perjuangan 4 Buruh Melepas Stigma, Menggapai Cita-cita

Dia melamar sebagai relawan Kopbumi. Tugasnya berkampanye tentang hak-hak buruh migran. Ketika Migrant Care dibentuk pada 2004, Badriyah direkrut menjadi staf. Kali ini bidang yang ditanganinya adalah pengaduan. Setelah itu dia bergelut di bidang advokasi kebijakan. Di sini, dia berperan memantau pembuatan regulasi dan undang-undang terkait perlindungan TKI.

Pada 2006, Badriyah kembali menikah. Dari hasil pernikahan keduanya, dia sudah memiliki dua anak. Selain sibuk di Migrant Care, dia juga memiliki usaha laundry serta penjualan pulsa.

Selain memberikan perlindungan kepadan buruh migran, Badriyah berharap pemerintah mampu menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. Dia masih berjuang agar tenaga kerja Indonesia yang berangkat ke luar negeri terlindungi. Membawa nama Migrant Care, dia ikut membahas Rancangan Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri bersama Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat.

Berbekal pengalaman sebagai TKI, Badriyah getol memperjuangkan nasib para buruh migran.




« | »
Read previous post:
rosadahlia1
Dedikasi Rosa Dahlia untuk Majukan Pendidikan di Pelosok Indonesia

Sekitar 2008, Teresa Rosa Dahlia Yekti Pratiwi atau yang sering dikenal dengan Rosa Dahlia berdialog dengan ibunya, Sri Maryanti, di...

Close