Pengabdian Dokter Spesialis Gelandangan Michael Leksodimulyo

michael

Sekitar tahun 2009, karier Michael Leksodimulyo terbilang sukses. Posisinya Wakil Direktur Rumah Sakit Adi Husada Undaan di Surabaya, Jawa Timur. Tidak lama lagi, jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi ini bakal menduduki posisi nomor satu di rumah sakit swasta di Surabaya tersebut. Akan tetapi, Michael memutuskan mengundurkan diri. Dia memilih mengabdi untuk masyarakat kecil.

Keputusan tersebut diambil Michael setelah dia diajak berjalan-jalan dengan Hana Amalia Vandayani, yang kini Ketua Yayasan Pondok Kasih. Hana membawa Michael mengunjungi kantong-kantong kemiskinan di Surabaya.

Dalam perjalanan, tiba-tiba Michael bertemu wanita tua yang cacat. Nenek tersebut ngesot di jalan raya saat tengah siang yang terik. Tubuh wanita itu kumal, bau, dan berkeringat. Tiba-tiba, Hana turun dari mobilnya. Dia mengusap wajah serta keringat nenek tersebut. Wanita itu dirangkul, diusap, diciumi dan diberi makanan.

Kejadian tersebut ternyata membuat hati Michael menangis dan tergetar. Dia memutuskan meninggalkan kariernya dan menjadi dokter bagi kaum miskin. ”Memberikan sesuatu kepada sesama jangan hanya didasarkan pada belas kasihan, melainkan cinta. Dengan cinta kasih, kita lega mencurahkan segalanya, baik tenaga maupun waktu,” tutur Michael seperti dikutip Kompas.com dalam artikel Klinik Keliling untuk Kaum Marjinal pada 1 September 2011.

Sejak itu hingga sekarang, Michael memberikan pelayanan dan penyuluhan kesehatan gratis kepada warga Surabaya yang tinggal di kantong-kantong kemiskinan. Dia bangga disebut sebagai dokter spesialis gelandangan.

Baca Juga: Dokter Gamal Albinsaid, Memanusiakan Manusia Lewat Sampah

Michael memang memiliki cita-cita menjadi dokter sejak kecil. Ketika keinginan tersebut diutarakan Michael kecil, orang tuanya hanya bisa menangis. Sebab, mereka terkendala biaya untuk mewujudkan impian putranya. Orang tua Michael hanya penjual pakaian di Pasar Turi Surabaya yang sudah beberapa kali terbakar.

Walau demikian, keinginan Michael kecil tak kandas. Dia tetap rajin belajar mengejar cita-citanya. Dia juga berdoa kepada Tuhan agar dilapangkan jalan menuju impiannya menjadi dokter. Dia berjanji akan menjadi pelayan masyarakat apabila berhasil menjadi dokter.

dokter_michael_leksodimulyo

Cita-cita tersebut akhirnya perlahan-lahan bisa dicapai. Dengan dukungan dari orang tuanya, Michael bisa sekolah kedokteran di Universitas Airlangga. Dia juga sempat sekolah manajemen rumah sakit dengan beasiswa.

Lulus dari sekolah kedokteran, Michael berpraktek sebuah puskesmas di tempat terpencil di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di tempat itu, dr Michael merangkap menjadi dokter umum, spesialis obgyn, hingga dokter gigi lantaran petugas puskesmas hanya dia. Bahkan dia pernah diminta membantu sapi yang mau melahirkan. Selama tiga tahun di Berau memperkaya pengalamannya sebagai dokter.

Selepas dari Berau, karier Michael melesat. Mulai berpraktek di Rumah Sakit Gotong Royong Surabaya hingga menjadi Wakil Direktur Rumah Sakit Adi Husada. Setelah keluar dari Rumah Sakit Adi Husada, kini suami Herlina Apriontonita tersebut bergulat di Yayasan Pondok Kasih. DIa menangani ratusan komunitas miskin dengan jumlah ratusan keluarga. Yayasan Pondok Kasih juga mendirikan puluhan klinik.

Dia juga memberikan pelayanan gizi bagi masyarakat terpinggirkan yang tinggal di atas makam. Pada 2011, Michael menyelenggarakan kawin massal yang diikuti 5.451 pasangan se-Jabodetabek. Kegiatan tersebut mendapat rekor MURI dan diliput media internasional.

Selain pengobatan gratis, dia dan timnya kerap memberikan bantuan makanan sehat dan susu ke anak usia balita kurang gizi di kantong kemiskinan di Surabaya. Total rata-rata 4.500 anak usia balita yang teratasi program ini per bulan.

Baca Juga: Suksma Ratri, Menularkan Semangat Kalahkan HIV Sampai ke Mancanegara

Michael sadar para pasiennya yang merupakan warga miskin tidak bisa selamanya mengandalkan bantuan. Untuk itu, dia memprakarsai program yang mendorong kemandirian warga. Di antaranya pelatihan membuat kerajinan tangan, seperti sulaman. Para mantan pengemis dilatih dan diberi modal Rp 500 ribu per orang. Setelah itu, hasil karya mereka dipasarkan ke luar negeri melalui Yayasan Pondok Kasih.

Soal sumber dana untuk pengobatan gratis dan program pemberdayaan masyarakat, Michael mendapatkannya dari hasil sumbangan masyarakat, khususnya pengusaha lokal, ditambah bantuan dari luar negeri yang masuk melalui Yayasan Pondok Kasih. Hati para pengusaha lokal tergerak dengan apa yang dilakukan Michael. Karena memiliki keterbatasan waktu, mereka akhirnya menjadi penyumbang dana.

Tidak hanya sebagai dokter, Michael ternyata memiliki talenta lebih dari Tuhan. Kemampuannya berkomunikasi membuatnya kerap diminta menjadi pembawa acara pernikahan dan pembawa acara di televisi lokal ataupun penyiar di radio swasta. Dari situ pula dia memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita Michael adalah materi bukanlah segala-galanya. Cinta kasih bukanlah untuk diperlihatkan, melainkan diberikan kepada sesama. Begitulah wujud kecintaan Michael terhadap kehidupan.

Related Posts

4 Kisah Nyata Pengabdian Dokter: Dari Dokter Sampah hingga Dokter Gelandangan

Redaksi I Love Life mengkompilasi kisah dokter yang memiliki dedikasi tinggi untuk melayani. Misi pengabdian yang dijala...




« | »
Read previous post:
17682411_M
Hadapi PMS dengan Bahagia dan Tanpa Drama

X: "Kamu kenapa?" Y: "Nggak apa-apa" (nada tinggi) X: "Ya udah kalo nggak kenapa-kenapa." (santai, kalem) Y: "Kamu gimana sih?...

Close