Namaaz Dining, Menyulap Tampilan Makanan Indonesia Lewat Teknik Baru

namaaz dining

Pencuci mulut itu tampilannya seperti sabun. Baik dari bentuknya yang pipih maupun warnanya yang merah pastel. Belum lagi ada busa di sampingnya yang mirip gelembung-gelembung air setelah sabun digosok dengan air. Tapi ‘sabun’ ini bisa dimakan. Bahkan banyak orang menyukainya.

Ya, benda yang bentuknya seperti sabun tersebut sejatinya adalah kue dari walnut dan cokelat putih. Kue tersebut dihidangkan hanya di Namaaz Dining. Teknik yang digunakan untuk menyamarkan kue sehingga menjadi seperti sabun disebut gastronomi molekuler. Istilah ini berasal dari fisikawan Prancis Herve This pada 1988 untuk menjelaskan seni memasak yang memanfaatkan transformasi kimiawi bahan-bahan yang ada dalam masakan dan fenomena sensori saat makanan dikonsumsi. Dengan menggunakan ilmu fisika dan kimia, makanan dibuat terlihat tidak seperti sebenarnya. Tampilan beda dengan isi. Mirip sulap.

Di Indonesia, Namaaz Dining mengklaim sebagai restoran molecular gastronomi pertama yang menyajikan makanan khas Indonesia sebagai sajian utamanya. Jika Anda datang ke Namaaz Dining di bilangan Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ada 17 jenis menu yang disajikan kepada pengunjung. Tiap enam bulan sekali, sebagian menu di Namaaz berubah.

namaaz_dining
Pemilik Namaaz Dining, Andrian Ishak, setiap enam bulan sekali bereksperimen di dapur sekaligus ‘laboratoriumnya’. Sumber inspirasi utamanya adalah internet. Semua dilakukan otodidak. “Saya lulusan Universitas Google,” kata pria berusia 39 tahun tersebut berkelakar.

Andrian mendirikan Namaaz pada 2012. Awalnya restoran ini berdiri di daerah Fatmawati. Setahun kemudian Namaaz pindah ke tempatnya saat ini di kawasan Kebayoran Baru.

Saat kecil, Andrian akrab dengan bumbu dapur. Maklum orang tuanya memang pengusaha restoran. Tapi, sebenarnya dia tidak pernah berniat meneruskan usaha orang tuanya. Dia akhirnya terjun ke usaha katering sepeninggal orang tuanya. Lulusan Akademi Pariwisata Bandung tersebut merasakan asam garam di bisnis restoran. Usahanya di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, sempat gagal. Tapi dia tidak patah arang. Pria yang juga musisi bergenre hi-tech experimental ini berupaya mencari menu-menu yang unik.

Internet menjadi guru bagi Andrian. Segala hal soal restoran di dunia ditelusuri lewat google. Sampai suatu saat, dia tertarik dengan review soal restoran El Bulli yang juga masuk salah satu restoran terbaik di dunia. Restoran di Catalonia, Spanyol, ini menyajikan menu molecular gastronomy. Sejak itu, Andrian semakin menggeluti molecular gastronomy. Dia pun akhirnya mendirikan Namaaz Dining pada Mei 2012. Uniknya, semua masakan yang disajikan Namaaz merupakan makanan khas Indonesia. Itu yang belum pernah ada di dunia.


Jika Anda mengunjungi Namaaz, biasanya Andrian yang akrab disapa Bodin akan menjelaskan nama makanan yang disajikan pengunjung setelah pengunjung mencicipi hidangan tersebut. Itu agar menambah kuat efek kejut bagi pengunjung. Contohnya adalah makanan mirip telur ayam yang bagian atasnya dipotong. Makanan mirip telur setengah matang ini disajikan di piring kecil seperti asbak. Ketika makanan tersebut menghampiri lidah, bukan kuning telur yang dirasakan namun sirup markisa dengan sensasi asam dari cuka dan soda. Setelah pengunjung melahap hingga ludes, baru Andrian menjelaskan nama makanan tersebut: markisa soda.

Ada pula menu dengan nama Pempek Kapal Selam. Berbeda dengan pempek kapal selam pada umumnya yang kenyal, Pempek Kapal Selam justru lumer di mulut. Usut punya usut, ternyata telur tersebut dipanaskan pada suhu 58 derajat Celsius selama dua jam sehingga sangat lembut.

Salah satu menu andalan Namaaz adalah Dragon Breath. Ini adalah kue kering meringue yang dicelupkan beberapa detik di sebuah wadah berisi nitrogen. Saat dikunyah, Dragon Breath akan membuat kita mengepulkan asap dingin dari mulut, mirip naga dalam film-film yang mengeluarkan uap dari hidung dan mulutnya.

Menu yang juga unik adalah Es Teh Panas. Nama itu muncul dari orang yang kerap keseleo lidah memesan teh di warung-warung. Di tangan Bodin, menu paradoks teh panas dan es teh tampil dalam satu gelas, tanpa penyekat. Saat disajikan, pengunjung akan mendapati hanya bagian kanan gelas yang berembun karena dingin. Pengunjung harus minum teh tersebut tepat di tengah gelas. Dengan begitu, lidah kanan akan merasakan teh panas sedangkan lidah kiri mencicipi es teh. Cara minumnya pun harus pas di tengah supaya lidah kanan merasakan teh panas dan lidah kiri merasakan es teh. Bagian kanan gelas yang terasa dingin sebenarnya bukan teh, melainkan agar-agar khusus yang bisa mempertahankan suhu.

Jika Anda ingin mencoba makan di Namaaz, ada beberapa aturan yang harus diperhatikan. Pertama, melakukan reservasi di situs mereka. Sebab, Namaaz hanya melayani 28 pengunjung tiap malam. Jadi, jangan harap bisa langsung datang ke lokasi untuk bisa mencicipi makanan unik di Namaaz. Yang perlu diperhatikan juga adalah tarif makan. Untuk satu orang, biaya yang dikenakan bisa mencapai Rp 1,15 juta. Maklum bahan-bahan yang digunakan sangat mahal di antaranya saja nitrogen, sodium alginate, natrium alginate, dan kalsium klorida. Tarif tersebut bisa dilunasi setelah reservasi.

Pereaturan kedua adalah pengunjung harus datang minimal 15 menit sebelum restoran buka pukul 19.00. Koki restoran baru akan menyajikan makanan jika seluruh pengunjung tiba di restoran. Jika datang lebih awal, Anda berkesempatan melongok para koki bekerja di dapur Namaaz.

Karena pengolahan dan penyajiannya makan waktu yang lama, Namaaz tidak direkomendasikan untuk anak-anak maupun bayi. Nah, untuk Anda yang penasaran dengan sensasi molecular gastronomy, silakan langsung melakukan reservasi dan bersiaplah menerima ‘jamuan’ unik yang bikin Anda makin love life!




« | »
Read previous post:
single parent
7 Hal yang Perlu Anda Persiapkan Ketika Beralih dari Dual Income ke Single Income Family

Nanda (27) dan Ryan (29) adalah pasangan yang telah menikah selama 3 tahun. Mereka bertemu di sebuah acara seminar yang...

Close