Mengungkap Sosok Kartini Lewat 10 Fakta yang Belum Anda Ketahui

Kartini-640x397

Peringatan hari lahir Kartini, 21 April, setiap tahun masih menyisakan kontroversi. Di antara banyak pahlawan perempuan di Nusantara, Kartini dipilih sebagai simbol kebangkitan emansipasi perempuan dan kesetaraan jender.

Para sejarawan Indonesia masih berdebat tentang sosok Kartini. Banyak yang memandangnya sebagai perempuan Jawa pendobrak tradisi feodal dan penjajahan yang menginspirasi pergerakan kebangkitan nasional. Sebaliknya beberapa lainnya menganggap kedekatan Kartini dengan Belanda menandakan ia sosok yang “diciptakan” oleh para feminis Eropa.

Terlepas dari kontroversi itu, Kartini adalah sosok perempuan pejuang emansipasi yang menarik perhatian dunia lewat pemikirannya yang dibukukan dalam Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Tak banyak catatan otentik tentang pemikiran perempuan kelahiran Jepara itu kecuali surat-suratnya yang ia tulis pada para sahabat pena di Negeri Kincir Angin.

Berikut beberapa cerita tentang sosok kartini yang belum banyak diketahui orang, yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber:

#1 Tidak semua surat dibukukan dalam Door Duisternis tot Licht.

Buku karya J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pengajaran Hindia-Belanda yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Habis Gelap Terbitlah Terang itu hanya memuat 100 surat Kartini, 53 di antaranya surat untuk Rosa Abendanon dan suaminya. Konon, mereka memiliki sekitar 150 surat Kartini, tetapi menyensor surat yang isinya dianggap sensitif. Estella Zeehandelaar, seorang feminis militan Belanda, memiliki 20 surat dari Kartini, tetapi hanya bersedia memberikan 14 untuk dibukukan. Ada pula yang tidak bersedia memberikan surat mereka. Jumlah surat Kartini yang dikirim ke Belanda tak pernah diketahui.

Baca juga: Gaya Baru Eksplorasi Sejarah ala Komunitas Historia

#2 Fasih berbahasa Belanda

Meski hanya mengenyam pendidikan dasar di sekolah anak-anak Belanda dan bangsawan pribumi (Europese Lagere School), Kartini menguasai tata bahasa Belanda yang sangat bagus. Sejumlah orang Belanda sendiri meragukan bahwa surat-surat yang dikirim ke sahabat penanya itu ditulis oleh Kartini karena bahasanya seperti penutur asli. Namun, setelah melalui penelitian, surat-surat itu memang asli tulisan Kartini.

Menularkan semangat kesetaraan jender pada adik-adiknya.
Menularkan semangat kesetaraan jender pada adik-adiknya.

#3 Sang ibu memanggilnya “Ndoro”

Kartini mewarisi darah biru dari ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ibunya, Ngasirah, hanya seorang garwa ampil (selir) karena berasal dari rakyat biasa, bukan keturunan ningrat. Oleh aturan feodal, ia diwajibkan memanggil ibunya sendiri “Yu” dari kata “Mbakyu” (kakak perempuan), sedangkan ibunya memanggil Kartini “Ndoro” (panggilan untuk bangsawan Jawa). Ngasirah harus berlaku sopan-santun terhadap anaknya sendiri, bahkan diceritakan jika lewat di hadapan Kartini, ibunya sendiri harus berjalan membungkuk. Atau jika Kartini duduk di kursi, ibunya harus duduk di lantai.

Namun Kartini membebaskan dirinya dari adat dan hal ini ia mulai tularkan dari lingkungan rumahnya. Kartini melarang adik-adiknya berjalan jongkok, menyembah, menunduk dan bersuara pelan ketika berbicara dengannya. Ia pun membebaskan adiknya untuk memanggilnya dengan nama saja.

Dalam sebuah surat kepada Estella Zeehandelaar, ia mengungkapkan kebenciannya terhadap cara hidup masyarakat feodal Jawa, seakan menyembah manusia yang dianggap lebih tinggi kedudukannya hanya karena keturunan ningrat. Adik-adik Kartini tak boleh berjalan melewatinya, kalau terpaksa mereka harus merangkak di atas tanah atau jalan jongkok. Kepadanya, setiap perkataan harus menggunakan bahasa krama inggil (paling halus) dan diakhiri dengan sembah. Kartini menyebut bahwa tiada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang yang membanggakan asal dan keturunannya.

Baca juga: Tapak Tilas Sejarah dengan Bertandang ke Rumah Bung Karno di Ende

#4 “Ibunya” bukan yang melahirkannya

Dengan status ningrat yang disandangnya, Kartini hanya dapat memanggil “ibu” kepada ibu tirinya, yang merupakan garwa padmi. Istilah ini hanya bisa diperoleh oleh istri yang memiliki darah ningrat, dari ayahnya, Raden Ayu Moeryam, yang konon keturunan raja-raja Madura. Kartini merasa tidak nyaman dengan kultur feodal di sekelilingnya, bahkan ia ingin dipanggil “Kartini” tanpa embel-embel “Raden Ajeng” oleh siapa saja, termasuk ibu yang melahirkannya. Kartini lahir dan tinggal di rumah kecil di luar gedung utama asisten kawedanan tempat tinggal ayahnya dan ibu tirinya. “Saya menyaksikan sendiri penderitaan itu dan menderita sendiri karena penderitaan ibu saya. Dan…karena saya anaknya.” (Surat kepada Rosa Abendanon, 21 Desember 1900)

 

Perjodohan diterima dengan sejumlah syarat.
Perjodohan diterima dengan sejumlah syarat.

#5 Anti-poligami, tetapi “mau” dimadu

Selain feodalisme, Kartini juga dibesarkan oleh konflik internal dan persaingan antara ibu kandung dan ibu tirinya. Karenanya, ia menolak poligami yang menyebabkan penderitaan bagi perempuan. Sayangnya, di usianya 24 tahun, Kartini terpaksa bersedia dinikahi bangsawan yang punya dua selir, Bupati Rembang Raden Adipati Djojo Adiningrat, sebagai garwa padmi. Ia bersedia dijodohkan sang ayah setelah melalui pertimbangan yang matang dan menelisik latar belakang calon suaminya. Dari semuanya, yang paling menentukan keputusan Kartini adalah ia melihat sang ayah sangat ingin dirinya menikah. Ada begitu banyak tekanan, intrik, kasak kusuk, dan fitnah pada dirinya untuk ayahnya dari bangsawan-bangsawan lain. Ditambah dengan kondisi kesehatan ayahnya yang semakin memburuk setelah terkena serangan jantung.“Kini saya tak lain daripada semuanya, beribu-ribu orang lain yang ingin saya tolong. Tetapi saya hanya memperbanyak jumlah mereka.” (Surat kepada Rosa Abendanon, 14 Juli 1903)

#6 Menolak ritual cium kaki suami

Kartini menerima keputusan ayahnya yang menjodohkan dengan sahabatnya dengan sejumlah syarat. Yaitu diperbolehkan mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan, diperbolehkan mengajar, dan diperbolehkan menggapai cita-citanya menjunjung harkat dan martabat perempuan. Selain itu, Kartini juga menolak ritual cium kaki suami yang merupakan kelaziman dalam upacara pernikahan feodal Jawa. Kartini menganggap tradisi itu merendahkan dan menindas kaum perempuan.

#7 Sering mengalami bullying oleh gurunya sendiri

Ketika duduk di bangku sekolah ELS, Kartini kecil sering menghadapi diskriminasi dan cemooh dari guru-guru Belanda. Selain karena perempuan, ia bangsa berkulit cokelat. “Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tetapi kami berusaha maju, kemudian mereka mengambil sikap menantang kami. Betapa banyaknya duka cita dahulu semasa kanak-kanak di sekolah, para guru dan banyak di antara kawan mengambil sikap permusuhan kepada kami. Kebanyakan guru itu tidak rela memberikan nilai tertinggi pada anak Jawa, sekali pun si murid berhak menerima.” (Surat kepada Estella Zeehandelaar, 12 Januari 1900)

#8 Membaca gerakan emansipasi di dalam penjara rumah

Kartini dipingit, dikurung dalam rumah yang dikelilingi tembok tebal, selama empat tahun di usia 12 tahun. Ia kehilangan keceriaan masa kecilnya. Ia tidak bisa bermain di luar dan belajar di sekolah. Kartini menyebut adat pingitan bagi perempuan sebagai budaya yang kejam. Seorang anak perempuan “dipenjara” hanya untuk menunggu seorang laki-laki yang tak dikenal datang menjemput dan membawanya pergi untuk dinikahi. Untuk menghibur diri, Kartini membaca majalah, surat kabar, dan buku-buku yang bercerita tentang gerakan emansipasi perempuan di Eropa. Bacaan inilah yang menginspirasinya.

#9 Kartini adalah “wasiat jati”

Suami Kartini menerima syarat panjang pernikahan yang diajukan. Selain karena memang pandangan modernnya, belakangan terungkap bahwa Kartini adalah “wasiat jatinya” (Liputan Khusus Tempo edisi Kartini). Djojoadiningrat menganggap menikah dengan Kartini adalah wasiat dari mendiang istrinya yang hatus dipenuhi. Mendiang istrinya, Sukarmilah sangat mengagumi Kartini dan pemikiran-pemikirannya. Sebelum meninggal, sang istri berpesan kepadanya agar menikah dengan Kartini demi anak-anak mereka.

Kartini juga percaya pada firasat. Seperti tercantum dalam surat kepada Rosa Abendanon, pada 22 Oktober 1903. Diberitakan telah terjadi sesuatu yang aneh sewaktu Regent van Rembang bertamu ke rumah. Segerombolan lebah terbang ke kamar Kartini, dan mengerumuninya. “Saya lari, gerombolan lebah tetap mengikuti. Apakah ini bukan perlambang bahwa di masa mendatang saya akan disengat lebah dari segala penjuru?” Kartini percaya itu pertanda bahwa ia akan dimusuhi banyak orang di sekelilingnya yang tidak setuju dengan ide-ide dan pemikirannya yang dianggap melanggar adat dan feodalisme.

#10 RA Kartini adalah pebisnis wanita!

Selain memperjuangkan emansipasi wanita dengan membentuk sekolah untuk perempuan, ternyata R.A.Kartini juga mendirikan sebuah Bengkel Ukir Kayu untuk para pemuda di Rembang. Kriya ukir dan kayu memang telah lama menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Jepara dan Rembang, Jawa Tengah.

Kartini adalah bukti bahwa apapun jalan yang dipilih, pada akhirnya hal itu tidaklah menjadi halangan untuk mewudujkan impian. Walaupun harus menempuh jalan yang sangat berliku, ia menghadapinya sebagai tantangan. Ya, apapun mimpi Anda, bulatkan keberanian untuk mewujudkannya. Sebab dengan mewujudkan mimpi itulah kita bisa semakin mencintai hidup!

Baca kisah inspiratif lainnya di sini!




« | »
Read previous post:
alinka hardianti
Alinka Hardianti, Srikandi Arena Balap Indonesia

Olahraga balap mobil saat ini bukan saja milik para laki-laki. Alinka Hardianti membuktikan bahwa perempuan bisa juga menjadi 'sangar' di...

Close