Membangun Bisnis yang Sehat Bersama Teman

tips wirausaha

Sarah dan Raldi adalah dua sahabat dengan minat yang sama. Sarah lama berkecimpung di dunia produksi TV, sementara Raldi adalah seorang kameramen dan fotografer. Keduanya kerap menjalankan proyek bersama sampai akhirnya terbersit keinginan untuk menjalankan bisnis bersama teman dengan mendirikan Production House berdua. Perlahan tapi pasti, niatan tersebut terwujud. Apalagi keduanya memiliki resource dan klien yang pasti.

Sarah dan Raldi pun memutuskan untuk mengajak dua orang teman mereka sebagai pemodal tambahan. Setelah urusan pembuatan PT selesai, bisnis berjalan lancar. Pesanan pembuatan video tak hanya datang dari kolega Sarah dan Raldi tetapi juga dari usaha promosi mereka via media sosial dan media berbayar.

Namun 7 bulan berjalan, masing-masing orang mulai merasa tidak puas atas beberapa hal. Mulai dari pembagian keuntungan juga pembagian tugas dan tanggung jawab. Raldi sebagai penggagas usaha sekaligu pemodal merasa dirugikan karena pembagian dipukul rata. Sementara kedua teman Raldi merasa Sarah seharusnya tidak berhak mendapat pembagian profit yang besar karena perannya hanya sebagai finance dan admin.

Gambaran masalah di atas kerap dialami usaha yang baru berdiri. Pembagian modal dan kerja bisa menjadi masalah besar ketika kita mengajak teman untuk berbisnis. Apalagi, jika tidak ada kejelasan sistem di awal pendirian usaha.

Baca juga: Trik Agar Usaha Anda Dilirik Angel Investor

Berbisnis bersama kawan memiliki risiko lebih kecil, tetapi membutuhkan banyak kompromi. Meskipun demikian, usaha patungan yang dikelola secara benar memiliki potensi untuk berkembang pesat. Banyak dari usaha tersebut yang akhirnya menjadi bisnis raksasa dunia, seperti Google, Microsoft, dan Apple.

Artikel berikuti mengulas tentang apa saja plus dan minusnya bisnis bersama teman, bagaimana mengelola bisnis dan membagi hasil usaha. Dan, yang paling penting, tentang apa saja yang Anda perlu tahu dan siapkan sebelum memulainya.

Bisnis Bersama Teman = Bisnis Patungan

Modal dan risiko dipikul bersama. Dalam bisnis bersama teman atau bisnis patungan, setiap orang berbagi setoran modal awal, dan tidak menanggung semuanya sendiri seperti dalam usaha milik pribadi. Karenanya, segala risiko usaha juga ditanggung bersama. Bisnis model ini sangat cocok untuk pemula yang tidak memiliki cukup modal tetapi ingin memiliki bisnis.

Di awal, pembagian modal ini harus dijelaskan secara terperinci. Berapa persentasenya, apakah pemodal akan berperan aktif atau hanya pasif. Begitu pun modal yang bersifat tangible, seperti konsultasi kepakaran sampai pembuatan logo dan tagline, dapat diperhitungkan dan dimasukkan ke dalam persentase. Tidak ada aturan pasti, namun sebaiknya persentase tersebut merupakan kesepakatan bersama.

Lebih cepat dengan kerja tim. Jika para pemodal juga ikut mengelola usaha, bisnis akan semakin cepat berjalan karena ada pembagian tugas kerja berdasarkan keahlian masing-masing, misalnya ada yang mengurusi produksi, keuangan, dan pemasaran. Satu orang tak perlu memikirkan semuanya sendiri.

Bersedia kerja sukarela. Setiap pemodal yang ikut terlibat dalam mengelola bisnis patungan biasanya mudah bersepakat untuk tidak mengambil gaji pada awal usaha – bekerja secara gratis – dan lebih fokus untuk memperbesar kas sampai keuangan perusahaan benar-benar stabil. Ini merupakan keuntungan jika dibandingkan bisnis sendiri, yang mana pemilik modal harus mengeluarkan gaji bagi semua karyawannya sejak mengawali usaha.

Banyak teman, banyak rezeki. Bisnis yang dijalankan tim akan lebih cepat dikenal lewat jaringan pertemanan masing-masing pendiri, sehingga potensi untuk meraup pasar juga lebih besar ketimbang bisnis sendirian. Jaringan tidak hanya berguna dalam mencari pasar, tetapi juga dalam menambah sokongan modal, mencari penyedia bahan baku, dan merekrut karyawan atau tenaga kerja.

Baca juga: Personal Branding untuk Entrepreneur

Kendala bisnis patungan

Kue laba tidak utuh. Karena merupakan usaha bersama, laba bisnis juga harus dibagi secara merata dan adil, bukan sepenuhnya milik pribadi seperti pada bisnis perorangan. Semakin banyak pemodal, maka potongan kue laba juga makin kecil. Biasanya, pembagian laba ini disesuaikan dengan persentase modal. Misal, si A menanamkan 50% modal pada bisnis, sementara si B dan C, masing-masing 25%. Maka laba dapat dibagi sesuai persentase tersebut. Kecuali, Anda memiliki kesepakatan untuk menggunakan 50% laba untuk diputar kembali menjadi modal. Begitu pula untuk yang memberikan modal tenaga atau keahlian, mendapatkan pembagian laba yang proporsional, tergantung kesepakatan di depan. Misalnya 50:50, jika hanya ada dua orang–pengelola dan penanam modal–terlibat di dalam usaha tersebut. Pembagian laba yang tidak adil bisa berpotensi menimbulkan ketidakpuasan dan kecemburuan, serta berbuntut pada pecah kongsi atau munculnya usaha saingan dari teman.

Pertemanan mengalahkan profesionalisme. Terkadang, dalam bisnis bersama teman atau bisnis patungan, pembagian tugas tidak jelas karena kebanyakan hanya mengandalkan rasa percaya tanpa mempertimbangkan keahlian di awal dan malas mengevaluasi hasil kerja temannya. Rasa sungkan untuk saling mengawasi teman menyebabkan tidak ada kontrol dan bisa berujung bubarnya bisnis.

Banyak kepala, banyak maunya. Ini salah satu kendala serius dalam bisnis bersama teman. Anda tidak bisa mengendalikan bisnis sesuai keinginan sendiri, apalagi jika semua partner bisnis adalah orang-orang yang berkarakter dominan dan punya ego yang tinggi. Dalam usaha bersama, setiap pemodal ikut memiliki perusahaan dan merasa berhak untuk ikut mengatur. Jika tak ada kompromi, bisnis patungan tak akan berumur panjang.

bisnis bersama teman

Apa saja yang perlu disiapkan untuk memulai bisnis bersama teman?

Satu komitmen, satu visi. Mencari partner atau kawan bisnis adalah urusan gampang-gampang susah. Selain punya karakter yang baik, ia atau mereka juga harus memiliki komitmen dan visi yang sama dalam menjalankan usaha dan apa yang ingin diraih dalam bisnis tersebut. Sebelumnya perlu disepakati model bisnis patungan, apakah semua pendiri akan terlibat mengelola bisnis atau satu orang dipercaya mengelola sementara yang lain pasif dan hanya mengawasi. Namun, dalam bisnis start-up–jika memungkinkan–pemodal sebaiknya juga aktif terlibat dulu di dalam tim, meskipun kendali usaha ada di tangan satu orang yang ditunjuk. Sedangkan, yang lain bisa membantu pemasaran. Dua atau tiga orang lebih baik untuk memulai bisnis daripada terlalu banyak orang.

Menentukan jenis usaha. Menentukan bisnis usaha sebaiknya mempertimbangkan keahlian, skill, atau pengetahuan setiap pemodal. Jika ingin membuka usaha kafe atau kuliner, sebaiknya ada satu orang yang benar-benar tahu atau punya pengalaman di bisnis ini. Atau jika ingin membuka gerai mode atau distribution outlet, sebaiknya ada satu orang yang punya pengetahuan up-to-date tren busana dan pernah menggeluti bisnis ini. Sebenarnya, hal ini bisa diatasi dengan menyewa orang yang ahli, tetapi akan menambah biaya bulanan untuk gaji yang tidak sedikit. Disarankan, memulai usaha yang Anda paham seluk beluknya atau tak salah jika memulai dari hobi. “Risiko gagal akan lebih kecil jika ada yang punya keahlian di bisnis tersebut,” kata Fauziah Arsiyanti, perencana keuangan independen.

Bagi modal sebagai kepemilikan. Ini merupakan bagian pokok yang tak boleh dianggap sepele. Dalam bisnis start-up, sebaiknya semuanya menanamkan modal usaha dengan besaran sama. Misalnya dua orang menyetor 50-50, untuk memudahkan kepemilikan usaha dan pembagian laba. Meskipun demikian, adapula jenis sharing tenaga, bukan kapital. Misalnya, orang ketiga punya keahlian menjalankan bisnis dan ikut bergabung. Hal ini bisa diterima, dengan konsekuensi pembagian laba yang disepakati di depan, apakah ia juga ikut memiliki usaha atau hanya mendapat bagi hasil saja. Namun model ini memiliki kelemahan dalam soal komitmen terhadap usaha. Orang yang hanya menyumbangkan tenaga biasanya tidak merasa ikut memiliki usaha karena tidak menanam uang. Kalau bangkrut ia tidak akan kehilangan apa-apa. Karenanya, untuk usaha pemula, sebaiknya semua pihak menanamkan modal agar merasa memiliki dan menanggung usaha bersama.

Pembagian tugas yang jelas di awal. Bisnis bersama teman adalah tentang siapa melakukan apa dan mendapat bagian berapa. Membicarakan semua hal di depan, dengan perjanjian kerja tertulis, sangat disarankan. Agar, bila ada masalah di kemudian hari, Anda dan rekan kerja dapat menggunakan dokumen tersebut sebagai acuan. Hal ini jelas dapat menghindari konflik, serta menjadi solusi atas masalah yang mungkin timbul.

Misalnya, si A menanam 30 persen modal, mengurusi produksi, mendapat gaji bulanan setelah bisnis berjalan enam bulan atau satu tahun, mendapat pembagian laba 30 persen. Atau ada yang hanya menanam modal saja tetapi tidak ingin terlibat operasional bisnis, misalnya, mungkin hanya mendapat bagi hasil saja tetapi tanpa gaji bulanan. Begitu pula yang lain, semuanya harus memiliki tanggung jawab dan reward yang jelas. Jika perlu, sepakati satu orang sebagai pemimpin yang diberi kuasa untuk memutuskan jika terjadi perdebatan sekaligus meredam ego para pemilik usaha.

“Pembagian tugas ini penting jika semua pendiri ingin terlibat dalam bisnis. Harus ada struktur yang jelas, supaya tidak membingungkan siapa yang menjadi pucuk pimpinannya,” ujar Hengky Eko Sriyantono, pendiri Bakso Malang Kota Cak Eko dan pengusaha waralaba kuliner.

Saling menilai dan mengawasi. Meskipun rasa percaya pada teman cukup besar, setiap orang yang terlibat dalam bisnis patungan ini sebaiknya tetap mengontrol kerja temannya, melalui evaluasi mingguan atau bulanan. Masing-masing melaporkan apa yang sudah dikerjakan, kendala, dan kemajuan dalam bisnis mereka. Ini bagian yang sulit, karena sesama teman biasanya sungkan menilai dan mengkritik. Namun, cara ini penting dilakukan agar setiap orang mengetahui apa yang dikerjakan partnernya atau setidaknya menjaga masing-masing untuk tetap bekerja dengan profesional dan menekan risiko penyimpangan.

“Meski kerja dengan teman, tetap harus profesional,” ujar Erwin Halim, seorang konsultan bisnis dan waralaba di PROVERB Consulting dan dosen di Universitas Bina Nusantara.

Bagi para pemula yang bermimpi memiliki usaha dan menjadi seorang wirausaha, tak perlu ragu memulainya dari sekarang. Banyak cerita anak-anak muda yang sukses mengelola usaha, bahkan sebelum lulus kuliah. Bisnis bersama teman bisa menjadi pilihan sebagai langkah awal untuk mewujudkan mimpi itu.




« | »
Read previous post:
asuransi terbaik untuk keluarga
Kecil Aman, Muda Kaya Raya, Tua Sehat dan Bahagia

Apa yang ada di benak Anda ketika pertama kali mendengar kata asuransi? Mungkin kewajiban membayar premi secara rutin kepada agen...

Close