Manfaat Menulis dengan Tangan: Dari Kreativitas Hingga Prediksi Status Kesehatan

menulis tangan

Tulisan tangan mulai ‘punah’. Benarkah? Dan bila iya, apakah kita harus merasa khawatir? Banyak ahli menjawab pertanyaan ini dengan “iya”.

Sebelum Anda meluncurkan protes, sekarang mari jawab pertanyaan ini dengan jujur. Seberapa sering Anda meraih pena dan menorehkan tulisan Anda di atas kertas? Jawabannya hampir bisa dipastikan sudah jarang sekali. Pena dan kertas kini lebih sering digunakan untuk mencatat hal-hal kecil saja. Misal, nomor telepon atau nomor akun yang harus diingat atau dicatat ulang di memori handphone. Selebihnya? Anda lebih sering mencatat menggunakan perangkat digital atau elektronik.

Memang tak dapat dipungkiri, menulis merupakan sebuah proses yang melelahkan dan lambat. Ketika menuliskan artikel misalnya, sering kali setelah dua setengah jam berlalu tanpa hasil (kecuali status baru di Facebook). Suatu kali saya memutuskan untuk mengambil pena dan kertas. Tidak ada layar di antara saya dan kata-kata yang akan saya tuliskan. Hanya pena, kertas, dan pikiran saya sendiri.

Mendadak terasa sunyi. Seperti tiba-tiba ‘diangkat’ dari tengah-tengah keriuhan di sebuah pusat perbelanjaan dan ‘ditaruh’ dalam perpustakaan. Rasanya damai dan fokus pikiran pun lebih tajam.

Baca juga: Komunitas Tabrak Warna, Ciptakan Terapi Stres Baru Bagi Orang Dewasa

Lebay dan mengada-ada? Ternyata, banyak bukti menunjukkan bahwa menulis dengan alat–dalam hal ini keyboard laptop–memang tidak sehebat kemampuan pena dan kertas dalam membantu otak untuk fokus.

“Proses digitalisasi berlangsung sangat cepat, seakan segala hal yang cepat dan efisien selalu lebih baik,” ujar Anne Mangen, lulusan pascasarjana Universitas Oslo dan Arkenshus, di Norwegia, yang secara ekstensif menulis tentang hubungan kerja otak dan tulisan tangan. “Sayangnya, menulis dengan keyboard tidak membawa ‘fokus’ yang cukup untuk pikiran.”

Di lain pihak, peranti elektronik terus berusaha menjauhkan kita dari pena dan kertas. Saat ini, anak kecil lebih tahu cara menggeser layar handphone daripada mewarnai.

Fakta ini menerbitkan pertanyaan lanjutan: Apakah punahnya tulisan tangan akan memengaruhi bagaimana mereka, kita, dan generasi masa depan akan berpikir, berkomunikasi, dan mengingat? Apakah otak kita akan bekerja dengan cara yang sama?

menulis kreatif

Keajaiban menulis untuk otak

Sesungguhnya ada banyak yang terjadi di otak ketika kita menulis, meskipun itu sekadar mencorat-coret nama.

Sebuah penelitian pada tahun 2012 di Universitas Indiana, menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) untuk membandingkan dua grup anak usia prasekolah—yang satu mempelajari huruf dan angka lewat mengetik, yang lainnya lewat menulis.

Hasil pindaian menunjukkan bahwa otak pada kelompok anak-anak yang mengetik tidak dapat mengenali perbedaan antara huruf dan bentuk, namun otak anak-anak yang menulis mengenalinya. “Menulis dengan tangan tampaknya menjadi penggerak utama bagi otak untuk merespon huruf-huruf yang ditunjukkan,” ujar profesor psikologi Karin Harman James, yang menjadi peneliti dalam studi tersebut. Pendek kata, anak-anak yang mempelajari huruf dengan menulis kemungkinan akan lebih mudah belajar membaca.

Baik anak prasekolah maupun dewasa yang mempelajari alfabet asing juga lebih mudah menangkap dan mengingatnya ketika menuliskannya dengan tangan. Hal ini diketahui dari penelitian sepanjang tahun 2005 dan 2008 yang dilakukan Universitas Aix-Marseille, di Perancis.

Dan hal ini tidaklah mengejutkan bagi para dokter, yang telah lama memperkirakan bahwa menulis dengan tangan dapat membantu mencegah pikun. Bahkan, saat para manula yang diteliti mengalami gangguan kognitif ringan belajar menulis kaligrafi China selama delapan minggu, fungsi otak mereka membaik. Sementara para manula yang tidak mempelajarinya mengalami penurunan fungsi otak (Clinical Interventions in Aging, makalah oleh para peneliti di China, tahun 2011).

Baca juga: Melissa Sunjaya, dari Coretan Sederhana ke Suksesnya ‘Tulisan’

Saat menulis, kita tidak saja mengingat bentuk huruf tetapi juga proses dan pengalaman membentuknya. Seperti yang dijelaskan oleh Thierry Olive, peneliti di National Center for Scientific Research, di Paris, menulis dengan tangan melibatkan lebih banyak gerakan daripada mengetik.

Berbeda dengan program komputer yang menghasilkan huruf yang seragam pada layar, tulisan tangan menghasilkan variasi ukuran dan posisi huruf. Akibatnya, Anda mengingat informasi tersebut bukan hanya karena dituliskan. Begitu melakukannya, otomatis Anda dapat membayangkan tulisan tersebut, ukuran, posisi, serta bentuknya.

“Menulis dengan tangan merupakan kegiatan visual-spatial,” ujar Olive. Hal ini menjelaskan mengapa Anda lebih mudah mengingat janji yang Anda tuliskan di kalender daripada dituliskan di smartphone.

Kaitan dengan kreativitas

Mengingat segala keuntungannya, tak berlebihan jika disebutkan bahwa menulis dapat menumbuhkan kreativitas. Atau secara simpel dapat disebutkan bahwa menulis, bukan mengetik, menuntut kita untuk lebih fokus pada kegiatan yang meningkatkan kreativitas—seperti bekerja lebih lambat dan melakukan refleksi, meskipun Anda hanya menulis kartu ucapan terimakasih.

Baca juga: Asli Indonesia, Wira Winata Jadi Animator Film Peanuts

“Menulis, secara kreatif, merupakan proses mendalam yang memerlukan waktu dan pertimbangan,” ujar Ronald Kellogg, profesor psikologi di Universitas Saint Louis dan penulis The Psychology of Writing. Terlebih, menulis memperbolehkan ekspresi yang lebih dari sekadar garis lurus, yang dapat “menyalakan” jaringan neuron yang bertanggungjawab untuk imajinasi dan penemuan baru.

Dan tentu saja, menulis merupakan bentuk ekspresi pribadi yang sangat bagus. Bukankah seseorang dapat dikenali dari tulisan tangannya?

Dalam sebuah penelitian terbaru di Universitas Aix-Marseille, hasil pemindaian otak pada mereka yang diteliti menunjukkan bahwa menulis mengaktifkan pusat emosi pada otak, juga sistem visual dan motorik. Tidak terlalu mengejutkan, bahwa menulis kerap dijadikan sebagai terapi bagi mereka yang mengidap depresi atau trauma. Atau bagaimana kaligrafi, dapat meningkatkan efek meditasi bagi para pengidap demensia.

Apa Kata Tulisan Tangan Anda?

Mengapa tulisan tangan terasa lebih intim? Menurut graphologist yang meneliti dan menganalisa tulisan tangan, itu karena setiap torehan mengungkapkan kepribadian, mood, ketidaksukaan, dan maksud dari si penulis. Di sini, analis mendiskusikan arti tersembunyi dari tulisan tangan.

handwriting-01

Tulisan yang naik ke atas melambangkan optimisme; yang turun ke bawah, depresi. –Michelle Dresbold, penulis Sex, Lies, and Handwritting.

handwriting-02

Karakter yang besar menunjukkan keramahan, ujar Marc Seifer, penulis The Definitive Book of Handwritting Analysis. Tulisan berlekuk menunjukkan kepribadian yang sensual.

handwritten3-01

Bila huruf miring ke kanan, penulis memiliki antusiasme yang tinggi. Miring ke kiri, berarti penulis cenderung menarik diri.

handwriting4-01

Titik di atas i dan strip pada huruf t yang menabrak huruf lain menggambarkan ketidaksabaran; bila kedua komponen tadi tertinggal di belakang, penulisnya cenderung senang menunda.




« | »
Read previous post:
lean-in
6 Hal yang Bisa Dipelajari dari COO Facebook untuk Wanita Sukses Berkarier

Bekerja di perusahaan ternama? Iya.  Punya jabatan penting di perusahaan? Iya.  Sudah berkeluarga dan memiliki anak? Iya.  Siapa yang tidak...

Close