Malahayati, Laksamana Wanita Aceh Pertama di Dunia yang Juga Diplomat Ulung

laksamana keumalahayati

Aceh, 11 September 1599. Laksamana Laut Kesultanan Aceh Darussalam Keumalahayati atau Malahayati mendengar kabar kapal dagang Belanda yang dipimpin Cornelis De Houtman dan Frederick De Houtman melarang pasukan Aceh naik kapal tersebut untuk berlayar ke Johor Malaysia. Bahkan, anak buah De Houtman bersaudara menembaki pembesar Aceh dan kerabat-kerabat Sultan Saidil Mukammil Alauddin.

Mendapat gelar pahlawan

Berita tersebut membuat Malahayati berang. Sebab, empat bulan sebelumnya, dua bersaudara De Houtman menyepakati perjanjian dengan Sultan Saidil Mukammil Alauddin bahwa Aceh bisa menggunakan kapal Belanda itu untuk mengangkut warga setempat ke Johor. Adapun Belanda dipersilakan mendirikan kantor dagang di Aceh.

Malahayati pun memerintahkan pasukannya menyerang Kantor Dagang Belanda. Pertempuran tak terelakkan. Tak hanya di darat, di laut pun peperangan berkobar. Kapal Belanda di Selat Malaka jadi sasaran tentara Malahayati yang sering disebut Inong Balee. Armada Belanda nyatanya keteteran menghadapi ribuan pasukan Malahayati yang di antaranya terdiri dari barisan janda berani mati.

Hingga akhirnya pasukan yang dipimpin Malahayati berhasil merangsek hingga kedua kapal milik De Houtman bersaudara, de Leeuw dan de Leeuwin. Sampailah pada puncak pertempuran. Malahayati berhadapan langsung dengan Cornelis di geladak kapal. Duel pecah. Malahayati dengan rencongnya, dan Cornelis menggunakan pedang. Dengan genggaman erat rencong di tangan, Malahayati berhasil menyudahi perlawanan Cornelis. Cornelis tewas tertikam.

Buntut pertarungan Malahayati dan Cornelis, Belanda menyerah. Banyak serdadu meregang nyawa, sementara sisanya digelandang ke penjara. Termasuk saudara Cornelis, Frederick.

Berkat peristiwa tersebut, nama Malahayati melegenda di seantero jagat. Bangsa-bangsa Eropa mengakui kehebatan Malahayati. Sekitar 400 tahun kemudian, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyematkan gelar Pahlawan Nasional untuk Malahayati. Tepatnya pada 6 November 2017 di Istana Kepresidenan.

Lulusan terbaik akademi militer

keumalahayati

Malahayati memiliki nama Keumalahayati. Ayahnya adalah Laksamana Mahmud Syah yang masih keturunan Sultan Ibrahum Al Mughayat Syah (1513-1530). Sultan Ibrahim dikenal sebagai pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Garis hidup sebagai panglima perang sudah terlihat sejak Malahayati kecil. Tak seperti lazimnya gadis kecil, dia dikenal tidak suka bersolek. Latihan ketangkasan lebih dipilih Malahayati. Bakat sebagai panglima menurun dari ayahnya yang juga seorang laksamana angkatan laut Kesultanan Aceh.

Keluarga pun tak terlalu mempermasalahkan pilihan hidup Malahayati di jalur militer. Lulus dari Pesantren Meunasah, Rangkang, dan Dayah, Malahayati belajar militer di sekolah kerajaan Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis. Beberapa pengajarnya merupakan perwira-perwira asal Turki. Di sekolah yang disebut mahad tersebut, Malahayati lulus sebagai salah satu yang terbaik.

Malahayati juga bertemu jodohnya di sekolah kerajaan Baitul Maqdis. Suaminya, Mahmuddin Bin Said Al Latief, di kemudian hari menjadi Panglima Armada Selat Malaka. Namun, Mahmuddin tewas saat bertempur melawan Portugis di Teluk Haru, perairan Maluku.

Malahayati pun ditunjuk menjadi Komandan Istana Darud-Dunia menggantikan suaminya. Tugasnya adalah Kepala Pengawal merangkap Panglima Protokol Istana. Dia bakal memeriksa tamu asing yang ingin menghadap Sultan Saidil Mukammil Alauddin. Lewat izin Malahayati, tamu baru boleh bertemu Sultan.
Sultan Alauddin punya alasan tersendiri untuk menunjuk Malahayati. “Beliau (Malahayati) adalah wanita tangguh. Beliau sangat dipercaya oleh sultan,” kata Sejarawan Aceh, Dr Husaini Ibrahim.

Memimpin pasukan sejumlah 2000 orang

Malahayati juga dikenal sebagai seorang diplomat. Dia berunding dengan utusan Belanda yang ingin memperbaiki hubungan dengan Aceh. Berkat kepiawaian Malahayati bernegosiasi lahir sejumlah persetujuan antaran Belanda dan Kesultanan Aceh.

Bahkan, Ratu Elizabeth I di Inggris mendengar nama besar Laksamana Malahayati. Inggris pun mengirim Sir John Lancaster ke Aceh untuk berdiplomasi. Mereka tiba di Pelabuhan Aceh pada 5 Juni 1602. Malahayati memanfaatkan hubungan diplomatik dengan Inggris untuk membangun aliansi melawan Portugis. Sementara Inggris menggunakan hubungan dengan Aceh untuk membuka jalur perdagangan di Jawa dan Banten.

Mengambil jalan hidup militer, Malahayati akhirnya wafat di medan perang. Juni 1606, dia gugur saat melindungi Teluk Krueng dari serangan Portugis yang dipimpin Laksamana Alfonso De Castro. Malahayati dimakamkan di Bukit Kota Dalam, Desa Lamreh, Kabupaten Aceh Besar. Dia dikenang sebagai Laksamana Wanita Pertama di dunia.

Dari tanahmu hei Aceh
Lahir perempuan perkasa
Bukan hanya untuk dikenang
Tapi dia panglima laksamana jaya
Memanggil kembali untuk berjuang
(Malahayati-Iwan Fals)




« |
Read previous post:
asuransi untuk millennial
7 Keuntungan Kalau Millennial Punya Asuransi dari Sekarang

With great power, comes great responsibility. Masih inget dengan salah satu quote paling memorable ini? Diambil dari film Spiderman, ucapan ini nggak...

Close