Klinik Kopi, Tempat Rangga dan Cinta Ngopi Sambil Baper di AADC2

pepeng klinik kopi

Belum tepat pukul empat, beberapa calon pasien hendak memasuki klinik. “Maaf, bukanya jam empat ya…sebentar lagi ya…” suara lantang seorang pria dari selasar klinik. Mereka pun setia menunggu hingga kemudian pintu yang terbuat dari pilahan bambu dibuka. Calon pasien langsung mendapatkan nomer antrean untuk konsultasi. Rombongan dari luar kota pada saat itu berasal dari Majalengka langsung berbondong masuk untuk bertemu pria bertopi bowler abu, bernama Pepeng.

Dialah pemilik klinik. Klinik Kopi namanya. Klinik yang saat ini dicari-cari banyak orang apalagi setelah kesuksesan film Ada Apa dengan Cinta yang kedua (AADC 2) yang melibatkan Klinik Kopi sebagai bagian dari cerita. Para pasien, sapaan akrab untuk para pengunjung, berduyun-duyun untuk menikmati kopi. Bahkan banyak pasien bertanya, “Kopinya Rangga, apa sih Mas?”.

Baca juga Dari AADC2: Agar Tidak Ada Kalimat “Yang Kamu Lakukan ke Saya itu Jahat” di Antara Kita

Komunikasi Kopi

Klinik Kopi memang memiliki karakter unik. Tidak ada papan petunjuk atau penanda lokasi untuk menuju tempat ngopi yang 80 persen terbuat dari bambu ini. Bangku atau kursi bahkan tidak banyak tersedia. Hanya ada pilahan bambu memanjang di area terbuka atau disebut misbar dan sebuah selasar berlantai tegel cap Kunci dengan warna warni apik. Keunikan berlanjut saat memasuki area peracikan kopi. Jajaran stoples berisi roasted bean dengan label Batak Tolu, Sunda Geisha, Sunda Jahe, Nagari Lasi, Aie Dingin dan Bu Nur terpampang rapi. Di sinilah, Pepeng mulai menyapa dan bercerita tentang kopi.

klinik kopi interior
Bagian dalam Klinik Kopi, menampilkan ragam biji kopi yang dipilih Pepeng.

“Hallo, suka ngopi? Biasa ngopi? Mau kopi apa? Yang pahit atau yang kecut?” begitulah sapaan pembuka untuk memulai sesi peracikan kopi dengan para tamu. Tamunya beraneka macam. Mulai dari yang tidak suka ngopi, peminum kopi pemula hingga penikmat kopi kelas berat. Bahkan pernah ada tamu yang memiliki riwayat sakit maag.

“Setiap orang sebenarnya bisa menikmati kopi. Asal kopinya fresh dan ada komunikasi antara brewer dan peminum,” tutur Pepeng. Berangkat dari komunikasi dua arah, ia bisa memperkenalkan karakter kopi yang mungkin cocok dengan cerita dan keluh kesah sang tamu.

Manual dan Sadar Diri

Klinik kopi menggunakan biji kopi yang diproses secara light roasted level. Hasilnya, biji kopi tidak terlalu gelap dan nantinya akan menemukan banyak rasa, seperti manis, asam, wangi. Setelah memilih biji kopi, Pepeng dan rekannya akan mulai beraksi. Biji kopi digiling secara manual oleh partnernya. Hasil gilingan kopi berupa serbuk langsung disambar Pepeng kemudian dituangi air panas. Cara ini disebut pourover atau cara tuang. Serbuk kopi yang dibutuhkan berukuran besar dan kasar.

“Umur kopi hanya satu menit,” celetuk Pepeng. Puncak rasa dan aroma kopi hanya berumur satu menit setelah digiling. “Ambunen…,” kata yang menjadi populer di kalangan pelanggan Klinik Kopi yang mengajak tamu untuk mencium aroma kopi yang baru saja diseduh. Aroma dan rasa memang dua poin penting untuk menikmati kopi. Klinik Kopi tidak menyediakan gula, susu atau pun bahan campuran lainnya untuk kopi karena kenikmatan kopi diukur ketika kopi dicecap tanpa unsur lainnya.

Pepeng di Klinik Kopi
Pepeng beraksi meramu kopi.

Berusaha Sadar Diri

Klinik Kopi masih menggunakan cara manual dalam mengolah hingga menyajikan kopi. Untuk menjaga kualitas hasil sangrai, ia menggunakan peranti pencatat roasting sehingga rasa dan aroma kopi relatif stabil. Kopi juga digiling secara manual. Sistem kerja manual sangat membutuhkan mood yang bagus dan kondusif. Secangkir kopi disini dihargai Rp15.000 saja. Sambil mengopi Anda juga bisa memesan beberapa makanan kecil atau kudapan yang harganya dibanderol mulai dari Rp2.000 per buah.

Moment of sharing andil bagian besar dalam menjaga mood. Pepeng dan pasukannya selalu berkomunikasi dan berbagi dengan para tamu. Mulai berkelakar hingga konsultasi tentang kopi. Klinik Kopi juga berusaha mengajak para tamunya untuk bersilaturahmi satu sama lain dengan sengaja tidak memberikan fasilitaswifi walau para tamu harus antre, bahkan kadang harus memakan waktu cukup lama. Harapannya, para pasien Klinik Kopi bisa saling sapa dan ngobrol.

Suasana kedai kopi di sebelah utara PLN jalan Kaliurang Yogyakarta ini juga dibuat nyaman. Dominasi bambu sebagai pagar, tanaman peneduh hingga bangunan utama memberikan nuansa alami sekaligus ramah lingkungan. Bayangkan, nikmatnya minum segelas kopi sambil dimanjakan semilir angin dan suara daun bambu yang bergoyang.

bangunan Klinik Kopi
Bangunan Klinik Kopi didominasi unsur bambu untuk menghadirkan kesan alami.

Berbagi dalam Segelas Kopi

Firmansyah atau lebih dikenal dengan nama Pepeng, mulai menekuni usaha dunia kopi sejak 2013. Kecintaannya pada kopi tampak dalam semangatnya untuk berbagi. Ia selalu mengajak para tamu untuk melihat proses meracik kopi. Perjalanan panjang biji-biji kopi hasil buruan dipaparkan dalam suasana akrab dan hangat. Semua biji kopi yang ada di Klinik Kopi adalah hasil jelajahnya ke berbagai daerah di Nusantara. Ia tahu betul siapa yang menanam dan mengolah biji kopinya. Menurut pria kelahiran Yogyakarta ini, kopi Indonesia memiliki potensi yang besar namun belum tergarap dan terolah secara baik dan benar.

Secara berkala, ia melakukan petualangan mencari kopi. Tujuannya tidak hanya sekadar berpergian untuk menemukan pasokan kopi. Lebih dari itu, misinya adalah untuk membangun relasi, menjalin komunikasi dan belajar bersama dengan para petani kopi dan komunitasnya. Di sana ia berbagi dengan senang hati tentang cara memanen kopi, cara pengolahan pasca panen, cara menyangrai yang tepat dan seluk beluk kopi.

Baca juga: Marzuki Kill The DJ, Tinggalkan Popularitas Demi Misi Mulia di Kampung Halaman

Pria yang juga hobi mengoleksi bermacam cabai ini, rajin berbagi pengalamannya di segala lini. Media sosial dimanfaatkan untuk memajang foto, video dan informasi hingga diskusi tentang kopi. Sebuah komputer jinjing turut dipajang untuk memutarkan video dokumentasi perburuan kopi.

Yang pasti, Pepeng yang lebih nyaman disebut sebagai storyteller of coffee ketimbang sebagai barista, membuka diri untuk bercerita tentang kopi. Ia mempunyai misi bahwa para tamu bisa leluasa untuk mengeruk kekayaan minuman hitam ini, tidak hanya sebatas tentang rasa secara indrawi.




Read previous post:
57754977 - asian businessman using the tablet with browsing of internet searching “https://www…” bar on the wall background, internet concept
Inilah Profesi di Era Digital, Intip Peluang Bisnisnya!

Berkembangnya dunia digital tak hanya menghadirkan kepraktisan dalam hidup kita, tetapi juga membuka peluang menarik dari segi bisnis maupun karier....

Close