Kapan Waktu yang Tepat Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan?

bpjs ketenagakerjaan

Memiliki Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan menjadi salah satu proteksi hari tua bagi setiap masyarakat usia produktif. Tak hanya karyawan formal, BPJS Ketenagakerjaan juga dapat diikuti oleh karyawan sektor informal seperti wiraswasta atau pekerja lepas. Untuk karyawan perusahaan, Anda wajib untuk ikut serta dalam program jaminan hari tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan yang iurannya dibayarkan patungan, yakni perusahaan membayarkan iuran sebesar 3,7% dari upah dan karyawan sebesar 2% dari upah.

Baca juga: Mempersiapkan Dana Pensiun Sejak Dini, Mengapa Perlu?

Nah, jika Anda sudah tidak bekerja lagi atau perusahaan tempat Anda bekerja sudah tutup atau Anda dikenakan pemutusan hubungan kerja (PHK), maka Anda dapat saja mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan ini. Namun, sebelum mencairkan, simak dulu hal-hal berikut ini.

1. Siapa saja yang dapat mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan?

Dalam Peraturan BPJS No.7/2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembayaran Manfaat JHT, yang dapat mencairkan 100% JHT ialah mereka yang mencapai usia pensiun yakni 57 tahun, mengalami cacat total tetap, meninggal dunia, mengundurkan diri dari tempat bekerja, tidak sedang bekerja, dengan masa tunggu satu bulan.

Jika nasabah masih bekerja, maka ia hanya bisa mencairkan dana sebesar 10% hingga 30% dari JHT BPJS Ketenagakerjaan, dengan syarat telah menjadi anggota selama minimal 10 tahun. Menurut Farah Dini, perencana keuangan FinAlly Planning and Consulting, mencairkan klaim BPJS Ketenagakerjaan saat masih bekerja harus melihat kebutuhan. “Kita membutuhkan uang tersebut untuk apa, apakah mendesak? Jika mendesak, silakan ambil tapi tidak bisa semuanya. Jika tidak mendesak, biarkan saja, anggap saja itu uang tambahan ketika pensiun nanti,” ujar Farah kepada tim ilovelife.

Bagi nasabah yang ingin mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan sebesar 10% dan 30%, maka ia akan dikenakan pajak progresif. Untuk JHT di bawah Rp 50 juta akan dikenakan pajak 5%, JHT Rp 50 juta hingga Rp 250 juta dikenakan pajak 15%, JHT Rp 250 juta hingga Rp 500 juta dikenakan pajak 25%, dan JHT lebih dari Rp 500 juta dikenakan pajak 30%. Sementara bagi nasabah dengan kepesertaan minimal 10 tahun dan belum pernah mengklaim JHT, maka ia akan dikenakan pajak 5%.

2. Cek saldo

Jika Anda ingin mengetahui saldo sebelum mencairkannya, Anda bisa mengeceknya secara online di website BPJS Ketenagakerjaan. Anda juga dapat mengecek saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan melalui aplikasi BPJSTK Mobile. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat memperoleh informasi seputar program, daftar kantor cabang, daftar rumah sakit, news feed, klaim saldo JHT, mengunggah profil, serta simulasi JHT. Sayangnya, masih banyak glitch di aplikasi dan website ini sehingga banyak servis pada akhirnya masih harus dilakukan secara offline.

3. Perlukah mencairkan saldo jika sudah tidak bekerja?

Sebetulnya, nasabah dapat meneruskan atau menghentikan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan ketika sudah berhenti bekerja. Bagi nasabah yang ingin meneruskan kepesertaan dan menunda pencairan JHT, maka ia dapat meneruskan iuran secara mandiri sehingga saldo kepesertaannya senantiasa aktif dan JHT terus berkembang seiring perkembangan investasi.

Sementara bagi nasabah yang ingin mencairkan saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan, ia dapat memakainya sebagai modal usaha yang memiliki tingkat pengembalian lebih menarik ketimbang keuntungan yang diperoleh dari BPJS Ketenagakerjaan. “Kita bisa juga mengalihkan ke portofolio di pasar modal yang dalam jangka panjang memiliki imbal hasil lebih agresif daripada imbal hasil dari BPJS Ketenagakerjaan,” tutur Farah.

Baca juga: 7 Kebiasaan Baik untuk Bahagia di Masa Kini dan Bahagia di Masa Tua

Namun, sesuai dengan namanya, JHT BPJS Ketenagakerjaan idealnya digunakan sebagai pegangan masa tua. Maka, nasabah harus bijak ketika menggunakan JHT sebagai modal atau investasi agar tidak hilang sia-sia sehingga gigit jari di masa tua.

4. Lengkapi proteksi hari tua dengan asuransi

Untuk melengkapi JHT dari BPJS Ketenagakerjaan, nasabah individu atau perusahaan juga dapat menambah proteksi dari asuransi. Dalam dana pensiun ini, nasabah akan memperoleh manfaat dana pensiun yang dapat diambil setiap bulan atau JHT yang dapat diambil satu kali ketika nasabah memasuki usia pensiun. Beberapa produk ini juga mengaitkan dana pensiun dengan asuransi jiwa bagi nasabah yang tutup usia sebelum memasuki usia pensiun.

Baca juga: Saatnya Memberikan Asuransi Jiwa sebagai Tanda Cinta pada Hidup

Di Astra Life sendiri, nasabah dapat memperoleh proteksi dana pensiun melalui produk WinPension. Produk ini merupakan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang menyediakan strategi investasi berupa penempatan dana di pasar uang dan pasar modal. Dengan demikian, peserta mandiri atau karyawan perusahaan dapat lebih mudah dalam memilih jenis investasi. Kelebihan lainnya ialah, DPLK WinPension bekerjasama dengan penasihat investasi yang memiliki reputasi internasional. Selain itu, pendapatan yang diperoleh dari hasil investasi umumnya bebas pajak.

Bagaimana, sudah siap menyiapkan finansial di masa tua? Yuk, Saatnya Jalani Mimpi dengan BPJS Ketenagakerjaan dan asuransi dana pensiun.




« | »
Read previous post:
kesalahan finansial orang tau baru
Ini 5 Kesalahan Keuangan yang Kerap Dilakukan Orang Tua Baru

Menyambut kehadiran si buah hati menjadi momen yang ditunggu oleh setiap pasangan baru. Karena tidak sabar menyambut kehadiran anak, orangtua...

Close