Jalan Hidup Adek Berry sebagai Fotografer Spesialis Perang dan Bencana

adek berry

Ada satu momen yang mengubah garis hidup Adek Berry. Ketika itu, sekitar September 1992, dia mendapat hadiah ulang tahun dari kakaknya, Edwin Tirani. Kado itu berisi sebuah kamera SLR Yashica FX 3. Kado tersebut diberikan agar Adek bisa menjepret keindahan alam ketika bertualang. Kebetulan dia memang hobi naik gunung dan berpelesiran.

Memilih berkarier sebagai fotografer

adek berry

Kado yang didapat saat masih kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Jember, Jawa Timur, itu membuat Adek serius menekuni fotografi. Sebab, untuk menggunakan kamera SLR diperlukan pengetahuan khusus. Ada teknik fotografi yang harus dikuasai pengguna SLR agar menghasilkan foto berkualitas. Adek pun belajar segala macam teknik dari kamera itu. Berbagai buku fotografi khatam dibacanya.

Guna mengasah kemampuannya, wanita kelahiran 14 September 1971 ini bergabung dengan Holcyon Photography Club. Ketika itu, komunitas fotografi tersebut digawangi oleh wartawan kawakan Surabaya Post Dewanto Nusantoro. Banyak ilmu yang diserap Adek di Holcyon Photography Club. Berbekal pengetahuan fotografi itu, dia sempat mencicipi bisnis foto pernikahan maupun foto wisuda.

Setelah lulus, Adek sempat lanjut kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Tapi, dia memilih meninggalkan studinya. Adek merasa dokter gigi bukan jalan hidup yang akan diambilnya. Dia mantap ingin menjadi fotografer. Pada 1997, Adek melamar ke Majalah Tiras. Saat itu, Majalah Tiras membuka lowongan di Jakarta. Tuhan melapangkan langkah Adek. Dia diterima di Majalah Tiras. Konsekuensinya, Adek harus segera ke Jakarta. Tapi, di Majalah Tiras, Adek ditempatkan sebagai wartawan, bukan fotografer.

Baca juga: SabangMerauke: Mendidik Lewat Keberagaman, Membangun Kedamaian

Hanya setahun di Majalah Tiras, Adek hijrah ke Majalah Tajuk. Lagi-lagi sebagai reporter. Hati Adek sebenarnya kurang sreg sebagai reporter. Dia masih bermimpi menjadi pewarta foto. Sekitar 2000, kantor berita Prancis AFP membuka lowongan untuk posisi fotografer khusus Istana Negara. Kesempatan itu tak disia-siakan Adek. Dia pun lolos seleksi menjadi fotografer AFP. Sejak itu hidup Adek tidak pernah sama lagi.

Dari perang hingga bencana

Di Inggris, ada ungkapan, ‘Gambar lebih berbicara ketimbang seribu kata.’ Tapi Adek tidak mau foto jepretannya hanya berbicara seribu kata. Dia ingin lebih. Wanita yang dikaruniai dua anak itu ingin orang yang melihat fotonya menangkap pesan yang dikirimkan melalui foto-fotonya.

Selama 17 tahun berkarier sebagai pewarta foto, Adek ditempa dengan segudang pengalaman baik pahit maupun manis. Pelbagai bidang liputan dilakoninya. Mulai liputan keras seperti perang dan bencana, hingga olahraga. Tak heran banyak predikat yang disandingkan ke ibu dari Hafizh Rahmadhian Sholeh dan Nafisah Firzana ini. Ada yang menyebutnya fotografer perang, ada pula yang menganggapnya fotografer spesialis bencana.

Baca juga: Dokter Gamal Albinsaid, Memanusiakan Manusia Lewat Sampah

Liputan konflik pertama Adek adalah di Ambon, Maluku, 1999. Penampilannya yang mengenakan jilbab mewajibkan Adek untuk waspada. Apalagi konflik berdarah di Ambon berbau SARA. Dia sempat terjebak di lokasi dekat tempat bentrokan dua kelompok yang bertikai. Karena itu dia harus memperhitungkan tempat untuk menyelamatkan diri. Dia pun lolos dari bahaya.

Tidak hanya di dalam negeri, Adek juga pernah meliput perang di Afganistan. Pada 20 September 2011, bom bunuh diri meletus 200 meter dari tempat Adek berdiri. Naluri wartawannya menyala. Dia mencari arah bom. Ternyata bom meledak di rumah mantan Presiden Afganistan Burhanuddin Rabbani. Ketika massa termasuk Adek mendekati rumah tersebut, pengawal Burhanuddin melepaskan timah panas ke atas sebagai peringatan. Massa pun kocar-kacir. Adek terdorong-dorong. Dia lantas berupaya mencari tempat persembunyian.

Gambar bagus vs kemanusiaan

adek berry

Seorang fotografer terkadang dihadapi dua pilihan sulit: melaksanakan tugas atau menjalankan misi kemanusiaan. Fotografer Afrika Selatan Kevin Carter contohnya. Dia meraih Pulitzer pada 1994 berkat foto burung Nazar yang menanti kematian seorang anak di Afrika. Carter mengambil foto anak tersebut berkali-kali hingga akhirnya anak itu meninggal. Dia pun meninggalkan anak itu begitu saja. Tak lama setelah meraih Pulitzer, Carter bunuh diri. Dia depresi karena merasa seharusnya bisa menyelamatkan anak itu.

Adek belum pernah menghadapi situasi seperti Carter. Tapi bagi Adek, kemanusiaan selalu menjadi prioritas. “Memotret kan hanya beberapa detik. Kalau memang ada korban dekat kita dan belum ada yang menolong, siapa pun yang melihat pasti terpanggil menolong,” kata dia.

Adek mencontohkan pengalamannya meliput di Kabul, Afganistan. Di depan mata kepalanya sendiri, dia melihat korban perang yang nyawanya terancam. Adek baru mengabadikan foto korban setelah ada orang yang menolong korban tersebut. Pengalaman nyaris serupa pernah dialaminya saat meliput gempa Yogyakarta 2006. Dia terpanggil untuk menolong korban gempa yang sudah renta. Setelah itu, Adek memotretnya.

Baca juga: Wujud Kasih Sayang Seorang Ayah Lewat Ayah ASI

Pekerjaan sebagai jurnalis foto mengundang banyak konsekuensi. Di antaranya harus siap dipanggil kapan pun dan ke mana pun. Karena itu, Adek harus meninggalkan dua buah hati dan suaminya demi tugas. Dan itu membuat Adek sedih. Pada 2004 misalnya. Dia harus meninggalkan anaknya yang baru berusia 8 bulan dan masih membutuhkan ASI. Musababnya, Adek ditugaskan meliput tsunami Aceh.

Selama ditinggalkan, anaknya terpaksa diberi susu formula. Ketika kembali dari Aceh, dia merasa anaknya asing terhadap ibu kandungnya sendiri. “Saya sedih dan merasa bersalah,” kata dia. Tapi Adek sadar itu merupakan konsekuensi yang harus dia terima sebagai pewarta foto. Bahwa ia bekerja untuk kepentingan orang banyak.

Dengan segudang pengalaman sebagai pewarta foto di berbagai medan, Adek beberapa kali diganjar penghargaan. Di antaranya penghargaan dari National Press Photographers Association pada 2007. Tapi Adek tetap merendah. “PR saya masih banyak,” kata dia.

Dia pun tidak jera membagikan pengalamannya kepada sesama jurnalis maupun masyarakat umum. Semua cerita ini akan saya terbitkan dalam bentuk buku autobiografi fotografi jurnalistik. “Doakan ya,” kata dia. Bahkan, jika suatu saat harus pensiun dari tempat kerjanya, Adek tetap ingin berbagi pengalaman dan menjadi guru bagi orang-orang yang mau menekuni dunia fotografi.




« | »
Read previous post:
yats_colony_-_pool_view_2
Staycation di Hotel, Cara Seru Liburan Singkat di Akhir Pekan

Liburan selalu menjadi jawaban ampuh untuk mengobati kepenatan dari rutinitas sehari-hari. Bisa dibayangkan serunya memiliki waktu berkualitas untuk diri sendiri...

Close