Inspirasi dari Mereka Yang Muda, Yang Berjaya

alamanda

Presiden RI pertama Sukarno pernah mengatakan, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia!” Ya, kira-kira begitu arti penting pemuda. Berikut ini tujuh pemuda di Indonesia yang sukses di bidangnya masing-masing.

Andanu Prasetyo, 27 tahun, Tuku Kopi dan Toodz House, Jakarta

andanu-prasetyo-768x431

Usianya pada 2010 lalu masih 21 tahun. Tapi dia sudah mendirikan Toodz House, sebuah restoran berkonsep rumah di bilangan Cipete, Jakarta Selatan.

Ketenaran Toodz House ternyata mulai menyebar di antara kaum muda urban ibu kota. Padahal, Andanu tidak banyak menebar iklan atau promosi ke media massa. Toodz House tenar berkat promosi dari mulut ke mulut para pengunjungnya.

Sukses dengan Toodz House, Andanu mendirikan Tuku Kopi pada 2015, masih di Jalan Cipete Raya. Jika Toodz House memiliki ragam menu mulai makanan hingga minuman, Tuku Kopi difokuskan pada kopi. Kecintaan Tyo, begitu ia biasa disapa, memang bermula dari Toodz House.

Menurut Tyo, 90 persen kopi yang dijual di Toodz House dan Tuku Kopi adalah lokal dan sisanya impor. Sengaja tidak menjual 100 persen kopi lokal, ia berharap para pengunjung kedai kopinya juga bisa mengenal rasa kopi dari daerah lain.

Baca juga: Klinik Kopi, Tempat Rangga dan Cinta Ngopi Sambil Baper di AADC2

Dari kedai kecil berukuran lebar tak lebih dari 5 meter, Tyo menjaring pencinta kopi; dari penikmat kopi sachet-an hingga penikmat kopi serius. Menjual kopi berselera massal yang diolah secara serius, menggunakan peralatan kaliber kedai kopi internasional, dan biji kopi pilihan merupakan cara Tyo menjaring penggemar kopi yang lebih luas lagi. Cita-citanya adalah membuat masyarakat Indonesia lebih mencintai kopi produksi negeri sendiri. Dan hal itu ia wujudkan dari secangkir kopi nikmat yang dijual dengan harga Rp 18.000 saja.

Idealisme Tyo berbuah manis. Tak hanya kedua usahanya tersebut selalu dipenuhi pelanggan, omzet yang ia raih sebulan pun terbilang fantastis. Nilainya mencapai lebih dari Rp 350 juta per bulan.

Carline Darjanto, 28 tahun, CottonInk, Jakarta

carline-darjanto

Awalnya Carline Darjanto cuma iseng. Dia ingin mencari tambahan uang saku setelah lulus dari Lasalle College of Fashion, Jakarta. Kebetulan dia memang gandrung dengan fesyen. Dia pun bekerja di sebuah garmen manufaktur. Dimulailah usahanya bersama teman SMP-nya, Ria Sarwono, dengan menjual kaos bergambar Presiden Amerika Serikat Barrack Obama pada November 2008. Baju-baju tersebut dijual melalui Facebook, Twitter, dan Instagram. Tak dinyana, jualan tersebut laris. Apalagi momentumnya tepat. Pada 4 November 2016, Obama terpilih menjadi presiden Amerika Serikat. Carline memberanikan diri mendirikan CottonInk.

Dia mencoba kembali peruntungannya dengan menjual produk-produk lain. Tidak hanya baju, beberapa produk busana wanita masuk katalog CottonInk. Ada busana siap pakai, legging, syal, hingga aksesori.

Baca juga: Diajeng Lestari, Mewujudkan Indonesia sebagai Kiblat Fashion Muslim Dunia Lewat HijUp

Untuk membedakan CottonInk dari merek-merek lainnya, Carline terus berusaha berinovasi. Di antaranya bereksperimen dengan perpaduan berbagai bahan untuk baju. Cara lainnya adalah terus mencoba mengetahui keinginan konsumen. Salah satu yang menjadi ciri khas produk CottonInk adalah sederhana tapi tetap gaya.

Kini, Cotton Ink sudah berkembang menjadi sebuah brand kenamaan asal Indonesia. Omzetnya sudah mencapai ratusan juta. Selain toko online, Cotton Ink juga sudah memiliki dua toko offline. Terakhir, Cotton Ink membuka butik terbarunya di Plaza Senayan pada Juni 2016. Berbagai penghargaan pun diraih Cotton Ink. Di antaranya Most Favorite Brand di Brightspot Market hinggaThe Most Innovative Brand dalam Cleo Fashion Award (Jakarta Fashion Week).

Winston Utomo, 26 tahun, Pendiri IDNMedia, Surabaya, Jawa Timur

winston-william-utomo

Winston Utomo memang suka menulis. Suatu hari, setelah pulang kantor sebagai account specialist di Google Singapura di 2014, Winston membuat artikel di situs yang baru dibuatnya, IndonesianTimes. Keesokan harinya, dia mengecek situs barunya tersebut. Tak disangka, artikelnya dibaca dan dibagikan banyak orang di media sosial.

Sejak itu, dia mulai terpikir untuk membuat sebuah media online. Target yang dibidik: generasi Y (lahir awal 1977 sampai 1997) dan Z (lahir 1997-sekarang). Lantaran menyasar generasi Y dan Z, dia mulai membuat konsep yang sesuai target pasar. Yang terlintas di benaknya adalah berita-berita di Indonesia Times kurang lebih 100 kata saja. Tujuannya agar masyarakat bisa mendapat inti berita secara cepat. Konten Indonesian Times pun selalu termutakhirkan karena isi berita tidak lebih dari 100 kata.

Baca juga: Inilah Profesi di Era Digital, Intip Peluang Bisnisnya!

Agar bisa fokus menggarap IndonesianTimes, Winston memutuskan hengkang dari Google. Dia juga mengajak adiknya, Williams, untuk bergabung. Ternyata, ide Winston membuat situs dengan konten berita tidak lebih dari 100 kata mendapat respons positif dari masyarakat. IDNtimes dibaca oleh 13 juta pembaca dan dibagikan di media sosial serta aplikasi pesan sebanyak 8 juta kali setiap bulan.

Benny Fajarai, 25 tahun, pendiri dan CEO Qlapa, Pontianak, Kalimantan Barat

benny-fajarai

Pada pertengahan 2015, Benny Fajarai berlibur ke Bali. Seperti wisatawan lainnya, dia menyambangi Pasar Seni untuk membeli cendera mata sebagai buah tangan. Di pasar seni tersebut, naluri bisnis pria kelahiran Pontianak tersebut muncul. Kerajinan tangan yang dijual di sana bagus-bagus. Turis asing pun memborong dengan jumlah yang banyak.

Benny mencium potensi besar industri kerajinan yang belum tergarap. Padahal, kerajinan Indonesia sudah dikenal di dunia internasional. Dia pun mulai membikin Qlapa yaitu wadah pertemuan antara perajin dengan pembeli. Perajin bisa memasarkan produk mereka, sedangkan pembeli mendapatkan produk-produk unik yang mereka inginkan. Qlapa resmi berdiri pada 1 November 2015.

Baca juga: Pimpi Syarley, Sebarkan Semangat Berkarya Lewat Sawokecik 

Tidak hanya menyediakan wadah, tim Qlapa juga membantu perajin untuk mengunggah foto produk kerajinan mereka. Di masa mendatang, Qlapa berniat memperbanyak produk yang dijual dan mengembangkan fitur-fitur yang memudahkan transaski antara perajin dengan pembeli.

“Kita itu negara berkembang, secara sumber daya alam kita sudah lumayan bersaing, potensi kita yang tidak boleh ketinggalan adalah industri kreatifnya. Dengan memberdayakan kreativitas ini kita bisa menaikkan ekonomi kreatif dengan menaikkan sumber daya yang ada serta menciptakan yang lebih besar lagi. Kalau kita hanya jual kayu atau rotan tidak akan sebagus kalau kita jual produk kerajinan olahan yang sudah jadi,” ujar Benny.

Ia juga ingin mengajak anak muda untuk selalu berpikir positif dalam menyelesaikan masalah yang besar, jangan mudah berpuas diri dan selalu berusaha untuk memperbaiki kehidupan menjadi lebih baik lagi untuk diri sendiri serta orang lain

Andi Hilmy Mutawakil, 26 tahun, Direktur Utama CV GEN Oil, Makassar, Sulawesi Selatan

andi_hilmy

Mahasiswa di Makassar selama ini dicitrakan senang berdemonstrasi. Acap kali unjuk rasa tersebut berujung bentrok. Namun, Andi Hilmy Mutawakkil berupaya mendobrak stigma tersebut. Mahasiswa Universitas Hasanuddin ini berupaya mengharumkan nama mahasiswa Makassar. Caranya, membuat penelitian yang berguna bagi masyarakat.

Pada 2012, Andi melakukan riset bersama kawannya, Ahmad Sahmawi, untuk membuat bahan bakar alternatif dengan bahan baku minyak jelantah. Dia terinspirasi dari tiga obyek yang dilihatnya sehari-hari: minyak jelantah gorengan, kapal nelayan, dan preman. Dia mengumpulkan minyak mentah dari para tukang gorengan dan minyak bekas restoran-restoran.Sempat beberapa kali gagal dan kekurangan uang untuk riset, dia tidak patah harang.

Dari pendampingan sebuah lembaga nirlaba, Andi memberdayakan bekas preman sebagai pengumpul minyak jelantah untuk bahan baku biodiesel. Menggandeng 10 kelompok bekas preman, GEN Oil mengedukasi warga Makassar bahwa minyak jelantah berbahaya bagi kesehatan. GEN Oil juga menyuntikkan modal kepada para mantan preman untuk membeli minyak jelantah.

Baca juga: Greeneration Indonesia: Kekuatan Muda dalam Melawan Sampah Kantong Plastik

Dua tahun kemudian, Andi dan kawan-kawan berhasil memproduksi biodiesel. Mereka membuat proyek contoh dengan maesin yang bisa memproduksi 30 liter biodiesel per hari. Dengan modal Rp 300 juta, mereka mendirikan CV dan pabrik produksi di Makassar. Pabrik tersebut kini memiliki kapasitas 4 ribu liter per hari.

Pada 24-34 September lalu, Andi membawa usaha yang baru dirintisnya dua tahun lalu ini menjuarai event Ideas for Indonesia 2016 di Jakarta. Andi dkk mengalahkan lebih dari 500 peserta dari seantero Indonesia. Selain menang dan meraih uang Rp 100 juta, Hilmi diganjar hadiah ke Inggris..

Leonika Sari Njoto Boedioetomo, 23 tahun, ReBlood, Surabaya, Jawa Timur

leonika-sari-reblood

Anda pernah mendapatkan pesan berantai tentang orang yang mencari donor darah? Hal itu sering terjadi lantaran pasokan darah di Indonesia jauh di bawah standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 2 persen dari jumlah penduduk. Data Palang Merah Indonesia menyebut stok darah nasional hanya 4 juta kantong. Padahal, sesuai standar WHO, harusnya ada 5 juta kantong darah yang ada di stok nasional.

Berangkat dari fakta tersebut, Leonika Sari Njoto Boedioetomo membuat aplikasi Bloobis yang akhirnya berganti nama menjadi ReBlood. Dengan ReBlood, gadis berusia 23 tahun tersebut mengajak para penggunanya mendonorkan darah serta memberikan edukasi bagi masyarakat.

ReBlood meraih penghargaan MITx Global Entrepreneurship Bootcamp dari Massachusetts Institute of Technology. “Ada 54 ribu lebih aplikasi yang mendaftar dari seluruh dunia, tetapi yang dipilih hanya 50 dan ReBlood salah satunya,” kata Leonika.

ReBlood adalah aplikasi yang menghubungkan rumah sakit dan PMI. Dengan aplikasi tersebut, jika rumah sakit kekurangan stok darah tertentu, mereka bisa memesannya via ReBlood secara online. ReBlood lantas meneruskannya ke PMI. Dari situ, rumah sakit bisa mengetahui golongan darah apa yang tersedia.

Alamanda Shantika Santoso, 28 tahun, Chief Activist Kibar, Jakarta

alamanda

Kabar mengejutkan datang dari perusahaan ojek online, Go-Jek. Per 1 Oktober. Alamanda Shantika Santoso hengkang dari perusahaan yang membesarkannya. “Bekal untuk Go-Jek sudah cukup, jadi saya lega ninggalinnya. Sekarang saatnya saya berbagi bekal untuk teman-teman lain yang mau bangun startup,” tutur mantan Vice President of Technology Product Go-Jek ini.

Alamanda hijrah dari Go-Jek ke Kibar, perusahaan konsultan bisnis kreatif dan digital yang getol membangun ekosistem start-up di Indonesia. Kepindahan dia dari Go-Jek ke Kibar diharapkan akan berdampak lebih besar di masyarakat.

Baca juga: Saat Para Gojek Srikandi Bertarung di Jalanan Jakarta

Alamanda dan timnya dikenal sebagai perancang aplikasi Go-Jek. Sejak awal aplikasi Go-Jek dirancang oleh Alamanda dan timnya. Mereka semua yang mendesain tampilan antarmuka (user interface/UI) hingga programming.

Adapun di Kibar, Alamanda membantu menjalankan sejumlah program yang mendorong bisnis digital Indonesia, antara lain melalui Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital dan FemaleDev. “Go-Jek telah membantu kehidupan 250.000 orang. Kalau ada 1.000 perusahaan seperti Go-Jek, artinya bisa membantu lebih banyak orang,” kata Alamanda menjelaskan alasannya hijrah.

Ayo, anak muda Indonesia. Saatnya Love Life dan tunjukkan prestasimu!




« | »
Read previous post:
live today, love tomorrow
7 Kebiasaan Baik untuk Bahagia di Masa Kini dan Bahagia di Masa Tua

Generasi usia produktif di Indonesia termasuk generasi yang optimis. Baru-baru ini lembaga riset Nielsen merilis indeks keyakinan konsumer atau consumer...

Close