Hadapi PMS dengan Bahagia dan Tanpa Drama

17682411_M

X: “Kamu kenapa?”

Y: “Nggak apa-apa” (nada tinggi)

X: “Ya udah kalo nggak kenapa-kenapa.” (santai, kalem)

Y: “Kamu gimana sih? Nggak pengertian banget!”

Sebelum menuduh si perempuan terlalu sensi, pahami sendiri. Jangan-jangan secuplik percakapan tersebut pernah Anda alami, baik ketika berhadapan dengan pasangan atau suami. Biang keroknya? Di antara banyak hal yang dapat menjadi pemicunya, PMS bisa dibilang menjadi faktor penyebab utama.

PMS alias Premenstrual Syndrome. Tiga huruf sakti ini memang kerap digunakan, baik oleh kaum pria maupun wanita, untuk menjelaskan sikap “menyebalkan tak beralasan” para kaum hawa memasuki periode tertentu.

Mungkin Anda pun pernah mengalami salah satu tanda-tanda PMS ini.

Anda masuk ke dalam supermarket dan tanpa disadari mengisi keranjang belanja dengan ‘makanan sampah’. Dari cokelat, makanan dengan kandungan gula, lemak, atau karbohidrat tinggi, sampai junk food yang ‘kaya’ akan citarasa MSG. Pilihan makanan di luar pakem sehat ini terdorong nafsu makan yang datang secara tiba-tiba. Nafsu makan yang datang tanpa diketahui secara pasti dari mana asalnya. Seperti ilham.

Hanya sedikit orang yang benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh seorang wanita saat mereka mengalami PMS. Tak jarang, banyak orang menganggap PMS hanyalah alasan yang dibuat-buat oleh kaum wanita untuk membenarkan sikap mereka.

Faktanya, PMS hanyalah salah satu akibat dari sekian banyak perubahan hormon yang terjadi di dalam tubuh seorang wanita. Di masa PMS, pra-menopause, bahkan saat telah memasuki masa menopause sekalipun, sepanjang hidupnya, hormon akan terus memengaruhi mood seorang wanita. Agar perubahan ini tidak berakibat negatif terhadap kualitas hidup Anda, mari belajar untuk mengenal lebih dekat jenis-jenis hormon yang memengaruhi tubuh Anda.

emma_eskrim

Saat PMS, hormon-hormon di dalam tubuh Anda mengalami perubahan dan berfluktuasi, menyebabkan mood Anda cenderung naik turun menjelang saatnya datang bulan. Bukan hanya itu, berat badan, nafsu makan, bahkan gairah seksual Anda pun akan terpengaruh oleh perubahan hormon ini. Periode ini umumnya terjadi sekitar 10-15 hari sebelum menstruasi, saat kadar hormon estrogen dan progesteron berubah drastis.

Estrogen, hormon yang diproduksi ovarium sejak masa seorang wanita memasuki masa awal pubertas, memiliki peran sangat penting dalam tubuh. Memasuki siklus menstruasi, tubuh akan terus melepaskan hormon estrogen hingga mencapai puncaknya, yaitu saat terjadi pelepasan sel telur. Setelah itu, kadar estrogen akan menurun drastis sebelum akhirnya pelan-pelan kembali meningkat. Selain penting untuk proses reproduksi, estrogen juga berperan untuk memengaruhi produksi dan efek endorfin, zat kimia yang mendatangkan rasa nyaman dan bahagia di otak.

Bukan hanya itu, bersama progesteron, estrogen juga diduga menyebabkan terganggunya sirkulasi kimia otak, termasuk hormon pengatur mood yang disebut serotonin, menyebabkan Anda lebih cepat marah dan gelisah.

Progesteron merupakan hormon kunci kehamilan yang dilepaskan oleh indung telur. Saat hal ini terjadi, suhu tubuh biasanya akan meningkat beberapa derajat. Inilah yang membuat Anda cenderung selalu merasa kepanasan saat PMS. Di sisi lain, payudara pun mulai membesar, lebih sensitif serta terasa sakit saat disentuh. Semua ini terjadi karena salah satu fungsi progesteron adalah membuat saluran ASI di payudara Anda melebar. Efek fisik lain yang disebabkan oleh perubahan estrogen dan progesteron di dalam tubuh adalah perut kembung, meningkatnya nafsu makan dan gairah seksual, serta terganggunya pola tidur.

Di sisi lain, saat Anda mulai memasuki fase menstruasi, kadar hormon reproduksi di tubuh Anda pun akan menurun dengan sangat drastis, menyebabkan dinding rahim meluruh. Dampak paling nyata dari rendahnya kadar hormon Anda adalah daya tahan tubuh yang menurun, menyebabkan tubuh terasa lemas dan mudah lelah.

Inilah sebabnya kenapa saat hendak memasuki masa datang bulan, kaum wanita sering kali merasa depresi, gelisah, cemas serta sensitif berlebihan, yang kemudian berujung pada perasaan sedih, marah, bahkan membenci diri sendiri.

Suka atau tidak, pengaruh hormon memang tidak akan pernah lepas dari kehidupan seorang wanita. Meski begitu, tidak berarti Anda harus mengalah terhadap serangan hormon dan bersikap menyebalkan sepanjang waktu. Menurut para ahli, meski kita tidak bisa mengubah gejala fisik yang terjadi di dalam tubuh kita, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga mood tetap stabil selama masa menstruasi sekaligus mencegah hormon mengontrol dan menguasai seluruh aspek kehidupan kita.

Psst… untuk para pria, dengan memahami hal ini, dijamin Anda akan lebih mudah menghadapi pasangan Anda!

Sebelum Menstruasi:

  • Kurangi asupan garam, gula dan kafein dari menu makanan Anda.
  • Hindari atau setidaknya kurangi merokok serta minum minuman keras.
  • Manjakan diri, misal dengan massage, spa atau totok wajah. (Baca juga Stres Datang, Lakukan 3 Langkah Totok Wajah Ini)
  • Berolahraga secara teratur.
  • Konsumsi banyak air mineral.
  • Mengonsumsi susu rendah lemak, jus jeruk atau makanan yang kaya kalsium dan vitamin D juga dapat mengatasi dampak fluktuasi kadar hormon sehingga mencegah PMS berlebihan.

Pada Saat Menstruasi:

  • Pastikan Anda cukup beristirahat, agar sel tubuh dapat melakukan proses regenerasi lebih optimal.
  • Makan makanan yang dapat memicu produksi hormon serotonin di dalam tubuh, seperti cokelat, untuk membuat mood Anda lebih baik.

PMS memang akan selalu mewarnai hidup Anda, tapi dengan menjaga gaya hidup sehat dan rajin berolahraga, tidak ada alasan Anda tidak bisa melewatinya dengan perasaan lebih nyaman dan bahagia. Begitu, bukan?




« | »
Read previous post:
IMG_3522
SabangMerauke: Mendidik Lewat Keberagaman, Membangun Kedamaian

Usia Ayu Kartika Dewi masih 27 tahun ketika itu. Kariernya pun terbilang moncer. Dia memegang jabatan Manajer Consumer Knowledge Procter...

Close