Farwiza Farhan, Kandidat PhD yang Selamatkan Leuser untuk Dunia

farwiza-farhan

Anda mungkin masih ingat akan kunjungan aktor kawakan, Leonardo DiCaprio di Kawasan Ekosistem Leuser. Kala itu, foto Leonardo yang berdiri di antara dua gajah dan didampingi dua penjaga hutan, Farwiza Farhan dan Rudi Putra sontak tersebar di linimasa. Sesungguhnya, Wiza, sapaan akrab Farwiza, bukan penjaga hutan biasa. Ia adalah aktivis lingkungan sekaligus pendiri organisasi Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HakA) dengan rekam jejak yang mengesankan.

Lahir pada 1 Mei 1986, Wiza tumbuh besar di luar tanah kelahirannya, Banda Aceh. Menjalani masa sekolah menengah atas di lingkungan Madania Boarding School, Bogor, Wiza melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana di University Sains Malaysia dan mengambil Jurusan Biologi Kelautan. Langkah pendidikan Wiza tak berhenti sampai di sana. Ia meneruskan sekolah ke University of Queensland, Australia, di Jurusan Manajemen Lingkungan. “Saat ini saya merupakan PhD Candidate di Fakultas Antropologi Budaya dan Studi Pembangunan di Radboud University Nijmegen,” tulis Wiza di akun LinkendIn-nya.

Baca juga: Davina Hariadi, Memilih Alam demi Menjawab Panggilan Hati

Tak hanya latar belakang pendidikan saja yang mulus, pengalaman kerja Wiza juga patut diacungi jempol. Pernah menjadi staf ahli di Komisi VII DPR RI yang membidangi isu energi dan lingkungan hidup, selama 1,5 tahun; Wiza juga berpengalaman magang di badan riset lingkungan Global CCS Institute, Australia.

farwiza-2

Di Melbourne, Wiza hidup nyaman dengan penghasilan cukup besar. Alih-alih terlena dan menikmatinya, Wiza malah teriang-ngiang dengan keindahan alam bawah laut Pulau Weh, Sabang. Ia pun memutuskan segera menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke kampung halaman. Di Banda Aceh, ia memperoleh tawaran untuk bergabung dengan tim riset Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser. “Saat itu Februari 2011, dan saya melihat perubahan yang terjadi di kawasan itu, misalnya banyak terumbu karang yang rusak,” ujar Wiza. “Ini jauh berbeda dengan sejak terakhir kali saya mengunjunginya pada awal 2000.”

Sayang, perjalanan Wiza bersama badan pengelola itu tidak berlangsung lama, hanya 1 tahun 10 bulan. Langkah mereka dihentikan Pemerintah Aceh yang membubarkan Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser. Meski begitu, Wiza tak habis akal. Ia tetap berjuang melindungi kawasan hutan Aceh dengan membangun Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) pada 2012.

Baca juga: Bosan Liburan di Perkotaan? Wisata Taman Nasional Bisa Jadi Alternatif Plesiran

Dalam aktivitasnya, HakA memiliki visi untuk menciptakan Aceh yang sehat dan kuat, baik dari segi sosial, finansial, maupun lingkungan. Untuk itu, Wiza bersama timnya mendorong peran serta masyarakat Aceh untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang meningkatkan fungsi lingkungan hidup bagi ekosistem di sekitarnya. “Apalagi Kawasan Ekosistem Leuser adalah tempat terakhir di dunia, tempat badak, gajah, orang utan, dan harimau hidup bersama, jadi harus kita lindungi agar tidak lenyap,” ujar perempuan 30 tahun itu.

Apa yang Wiza dan HakA perjuangkan tentu tidak mudah. Sebab mereka harus berhadapan dengan sejumlah perusahaan sawit dan pertambangan raksasa yang menggerus tanah Aceh. Apalagi mereka belum memperoleh dukungan pemerintah setempat. Contohnya saja pada 2013, Kawasan Ekosistem Leuseur dihapuskan dari daftar Kawasan Strategis Nasional dalam Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 tentang RTRW Aceh 2013 – 2033. Hingga mereka harus terus melakukan kampanye dan advokasi guna memperbaiki kebijakan tentang perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser di Aceh.

Salah satu bentuk perjuangan Wiza adalah mengarahkan HakA untuk menjalankan aksi Gerakan Aceh Menggugat (GERAM) guna meminta Menteri Dalam Negeri membatalkan Qanun tersebut, pada Januari lalu. Sementara ketika Kementerian Lingkungan Hidup menggugat beberapa perusahaan yang diduga berada di balik kasus pembakaran hutan di Aceh, Wiza harus bolak-balik bersaksi di pengadilan. Kala itu, rumah Wiza kerap didatangi orang tak dikenal yang meminta ia agar tidak bersaksi, dengan iming-iming uang.

Wiza mengaku sempat ciut dan berpikir ulang. Ia sendiri memiliki beragam pilihan untuk berkarier. Tidak hanya di Indonesia, juga di luar negeri. “Tapi, inilah pilihan saya,” katanya.

farwiza-2

Karena keteguhannya, Wiza diundang berbicara di Gedung Royal Geographical Society, London. Di sana, ia dianugerahkan penghargaan Whitley Awards alias Green Oscar untuk kategori Konservasi Habitat Orang Utan, dari Whitley Fund for Nature (WFN) pada 2016. Dengan penghargaan itu, HakA memperoleh dana 35.000 poundsterling atau sekitar Rp520 juta guna membiayai konservasi lingkungan Leuseur. Penghargaan ini sendiri diikuti 130 kandidat dari seluruh penjuru dunia. Mereka adalah orang-orang yang aktif di bidang lingkungan.

Kecintaan Wiza terhadap lingkungan tidak hanya ditunjukkan dalam perkerjaan saja. Dalam kesehariannya, ia pun menunjukkan sikap peduli lingkungan. Contoh kecilnya, ia selalu mencoba tidak menggunakan tisu atau barang berbahan dasar plastik, seperti air minum kemasan atau kantong plastik. Ini terbukti dari isi tasnya, yakni handuk kecil, mosquito repellent atau penangkal nyamuk, botol minum, dan tas belanja.

Sementara untuk kesehatan tubuhnya, Wiza selalu bangun pagi dan keluar rumah untuk menatap matahari. Kemudian ia beryoga selama 10 menit, meminum segelas air putih, kemudian mandi. Dan kala di lapangan, ia tidak pernah lupa membawa kacang-kacangan atau raw almond sebagai camilan, serta buah segar.

Untuk kita, Wiza pun mengajak untuk ikut peduli dengan lingkungan sekitar. Sebab menurutnya, semua orang memiliki peran untuk menjaga dan melindungi kelestarian lingkungan. “Kepedulian terhadap lingkungan bisa kita lakukan dari hal paling kecil,” kata Wiza. “Seperti selalu membuang sampah di tempatnya atau mengurangi penggunaan kantong plastik.”

Baca juga: Greeneration Indonesia, Kekuatan Muda dalam Melawan Sampah Kantong Plastik

Meski terkesan mudah, sesungguhnya hal kecil yang bisa kita lakukan tersebut merupakan wujud dari self awareness kita terhadap kelestarian lingkungan. Dan menurut Wiza, dari situlah awal perubahan yang lebih besar bisa dimulai. “Perubahan itu terjadi dari self awareness. Ketika kita menyadari jalan yang kita lakukan itu ada impact-nya kita mungkin akan melakukannya. Begitu kita merusak lingkungan, akan ada dampak ekonomi yang terjadi di kemudian hari, yang harus kita bayar. Self awareness itu penting. Mendidik diri sendiri mengenai apa yang perlu kita lakukan adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan alam,” pesan Wiza.

Bagi Wiza, mencintai hidup berarti juga mencintai dan memelihara apa yang alam berikan untuk kita. Jadi, #AyoLoveLife dan jaga lingkungan dari hal-hal kecil.




« | »
Read previous post:
sate-klathak
5 Wisata Kuliner Jogja di Malam Hari yang Wajib Anda Coba

Anda yang pernah berlibur ke Yogyakarta, mungkin sudah pernah mencicip beragam kuliner yang dijajakan di sepanjang Jalan Malioboro. Tapi pernahkah...

Close