Dokter Gamal Albinsaid, Memanusiakan Manusia Lewat Sampah

Gamal-winning-the-prize-1

Sampah. Konotasi yang begitu buruk, melekat pada kata ini. Entah untuk menggambarkan sesuatu yang kotor, buangan, atau hal-hal lain yang patut dihindari oleh masyarakat. Namun sampah pula yang berhasil membuat Gamal Albinsaid, seorang dokter muda asal Malang, mengabdikan diri bagi masyarakat.

Tak hanya itu, sampah bahkan mengantarkannya meraih penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014 yang diterimanya langsung di Istana Buckingham dan diserahkan langsung oleh Pangeran Charles. Penghargaan yang digelar oleh Unilever dan Universitas Cambridge ini, merupakan satu bentuk apresiasi terhadap entrepreneur muda yang peduli di bidang sumberdaya berkelanjutan.

Bukan sembarang sampah memang, yang berhasil membawa Gamal pada pencapaian ini. Ia, mengembangkan Klinik Asuransi Sampah. Ya, dokter muda kelahiran 8 September 1989 ini, mengembangkan satu sistem di mana masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan dengan cara menukarkan sampah.

“Sampah yang mereka bawa dapat berupa sampah kering apa saja yang dapat didaur ulang,” ujar Gamal pada sebuah media online. Sampah, merupakan solusi yang menurutnya paling jitu, karena sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam malam pemberian penghargaan, Pangeran Charles pun memuji hasil pemikiran Gamal. “Pemimpin muda ini mengembangkan gagasan yang benar-benar inovatif, menangani dua masalah pada saat yang bersamaan; manajemen dan daur ulang sampah serta asuransi kesehatan bagi masyarakat kurang mampu,” ujar Putra Mahkota Kerajaan Inggris ini.

Klinik Asuransi Sampah di kota Malang ini, awalnya dikembangkan Gamal pada 2010. “Saya dan teman-teman membuat proyek asuransi sampah ini karena di Indonesia masih banyak orang yang tidak bisa mendapat akses layanan kesehatan,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini.

Sebuah peristiwa yang benar-benar mendorongnya untuk mendirikan program ini, adalah kasus yang terjadi di Jakarta tahun 2005. Saat itu, seorang balita tiga tahun bernama Khaerunissa meninggal karena ayahnya yang seorang pemulung tak mampu membawanya berobat.

Pria berstatus dokter magang Rumah Sakit Saiful Anwar di Malang ini, kemudian bergerak bersama Indonesia Medika yang ia dirikan. Ia mengajak kader posyandu, PKK, dan warga untuk bergabung dalam program Klinik Asuransi Sampah. Warga, diajak mengumpulkan sampah dan menyetorkan sampah senilai Rp 10 ribu per bulan untuk mendapatkan berbagai fasilitas kesehatan. Target utamanya, adalah warga kurang mampu yang sebelumnya susah mengakses layanan kesehatan.

Sampah yang berhasil dikumpullkan kemudian diolah, sampah organik menjadi pupuk sementara inorganik dijual pada pengepul. Uang yang terkumpul, masuk dalam kas Dana Sehat yang digunakan untuk pelayanan kesehatan secara menyeluruh, meliputi tindakan promotif (meningkatkan kesehatan, pencegahan, pengobatan hingga rehabilitasi). Meski sempat tutup setelah berjalan enam bulan, lima klinik dengan sistem asuransi sampah ini akhirnya berjalan stabil sejak dibuka kembali pada Maret 2013, bahkan berhasil mengajak 88 relawan, 15 dokter dan 12 perawat untuk bergabung.

Gamal yang juga pendiri dan CEO dari Indonesia Medika ini menyebutkan, sejak kecil ia memang telah bercita-cita terjun ke bidang kedokteran. “Sejak kecil kalau ditanya cita-citanya mau jadi apa, saya jawab dokter spesialis anak, karena suka sama anak kecil,” katanya.

Meski telah menerima penghargaan bergengsi, Gamal menyebut ia tak ingin terlena dengan titel ini. “Bagi saya penghargaan itu tidak penting, bahkan berbahaya, bisa merusak keikhlasan,” ujarnya.

Ia meyakini, bila seseorang ingin menjalani hidup dengan optimal, maka ia perlu bekerja dalam bidang yang memenuhi tiga hal, yakni pleasure, strength dan meaning. “Artinya, cari pekerjaan yang kita kuasai, sukai, dan bermakna,” ujarnya. Ketiga hal ini, menurutnya, telah ia dapatkan lewat Klinik Asuransi Sampah.

Baca Juga :
Kisah Pianis Muda Indonesia yang Masuk Nominasi Grammy
Lampu Lumio, Karya Anak Bangsa yang Mendunia
Hendra Gunawan, Ultraman Asal Indonesia




« | »
Read previous post:
photojoeyalexander
Joey Alexander, Pianis Pertama Indonesia Raih Nominasi Grammy Award

Joey Alexander kembali menggemparkan publik Indonesia. Setelah tampil di halaman depan koran bergengsi Amerika Serikat, The New York Times, 12...

Close