Digital Amnesia: Sindrom Penyakit Baru bagi Kaum Milenial

finding doy

Berapa banyak nomor telepon keluarga atau teman dekat yang masih Anda hapal luar kepala?

Apakah Anda ingat berapa nomor telepon yang Anda hafal 15-20 tahun lalu? Sebelum telepon genggam menjadi sebuah benda wajib-punya? Saat telepon rumah masih menjadi pilihan utama untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sepertinya waktu itu nyaris semua nomor telepon keluarga besar dan teman main bisa Anda hapal luar kepala.

Bandingkan dengan sekarang, mungkin hanya ada satu atau dua nomor telepon yang benar-benar Anda ingat. Bahkan, tak jarang, nomor telepon pasangan, orangtua atau sahabat pun tak lagi Anda ingat. Lagipula, kenapa juga Anda perlu menghafalnya, mungkin begitu yang ada di pikiran Anda. Toh, Anda hanya perlu memencet beberapa tombol di smartphone dan Anda pun akan secara otomatis terhubung dengan siapa pun yang ingin Anda hubungi.

Pertanyaan lain, apakah Anda sering ‘kehilangan’ kata-kata saat membicarakan sesuatu? Atau apakah Anda pernah mengalami kesulitan saat menyebut nama sebuah tempat, padahal tempat itu sering Anda kunjungi? Atau apakah Anda harus mengandalkan Google untuk mengetahui sebuah informasi?

Jika dua kasus di atas terasa sangat familiar dengan keadaan Anda, tak perlu khawatir, Anda tidak sendiri.

Terlalu mengandalkan teknologi, berpotensi membuat otak 'malas'.
Terlalu mengandalkan teknologi, berpotensi membuat otak ‘malas’.

Menghadapi tantangan teknologi

Kemajuan teknologi yang sangat luar biasa cepat selama 2 dekade terakhir memang telah mengubah banyak hal. Bukan hanya mempengaruhi cara hidup dan cara kita bekerja, tapi juga berpengaruh terhadap pola pikir, sikap hidup dan perkembangan otak kita.

Salah satunya adalah digital amnesia, fenomena yang belakangan banyak ditemui terutama pada generasi millennial. Digital amnesia terjadi ketika kita sebagai pengguna, membiarkan teknologi, internet dan semua perangkat yang berhubungan dengan internet mengubah cara hidup kita sehari-hari dan cara kita berinteraksi dengan orang lain. Saking canggihnya teknologi dan peralatan elektronik yang kita miliki, kita pun tanpa sadar mulai memercayakan semua informasil personal yang kita miliki, termasuk nomor kontak dan foto-foto pribadi kepada alat-alat tersebut. Suatu saat ketika kita memerlukan informasi tersebut, kita pun dengan mudahnya bisa “memanggil” informasi yang kita butuhkan. Kapan pun, di mana pun, cukup dengan menekan beberapa tombol.

Meski terdengar keren dan sangat efisien, jika kita terus-terusan mengandalkan kemampuan teknologi dan aset-aset digital untuk mengingat hal-hal yang sebenarnya penting, perkembangan otak, perilaku dan kemampuan berpikir kita pun akan terpengaruh.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Harvard dan University of Columbia menunjukkan bahwa kemudahan untuk mengakses informasi melalui internet, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, telah membuat kemampuan mengingat anak-anak muda di Amerika berubah. Kalau dulu otak kita menyimpan fakta-fakta yang ingin kita ingat, sekarang, kita mungkin tidak lagi mengingat fakta tersebut. Tapi anehnya, kita bisa dengan mudah mengingat di mana informasi tersebut tersimpan di internet. Para peneliti menyebut hal ini sebagai “Google Effect.”

Secara singkat, digital amnesia membuat Anda berpaling kepada internet sebagai tempat pertama untuk mencari jawaban atas apa pun yang ingin Anda ketahui. Anda tidak lagi terlebih dahulu berusaha mengingat sendiri informasi tersebut dengan cara mengingat-ingatnya dari memori otak Anda. Efek dari digital amnesia, informasi yang Anda dapatkan pun biasanya akan segera Anda lupakan begitu Anda selesai menggunakannya. Inilah yang menjelaskan kenapa Anda umumnya masih bisa mengingat nomor telepon orang-orang yang Anda hapal di masa kecil Anda (meski Anda tidak pernah lagi menelepon mereka). Sebaliknya, Anda nyaris tidak bisa mengingat nomor telepon orang yang Anda kenal di masa dewasa Anda. Bahkan meski saat ini Anda masih sering menelepon mereka.

Selamatkan memori Anda

Kebutuhan untuk mendapatkan informasi secepat mungkin dan rasa malas untuk menghapal informasi tersebut (karena kita berpikir, toh kita akan dapat dengan mudah mendapatkannya kembali jika sewaktu-waktu nanti membutuhkannya), inilah yang kemudian memengaruhi fungsi memori jangka panjang di otak kita.

Apa jadinya kalau kita terlalu mengandalkan teknologi?
Apa jadinya kalau kita terlalu mengandalkan teknologi?

Padahal, memiliki kemampuan untuk mengingat bukanlah hal sepele. Jika Anda sempat menonton film animasi Finding Nemo, Anda akan tahu betapa pentingnya memiliki memori jangka panjang. Tidak hanya membantu kita dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan, memori jangka panjang juga dibutuhkan untuk kestabilan psikologis diri. Memori jangka panjanglah yang memengaruhi apa yang kita rasakan, pikirkan, dan secara umum membentuk siapa diri kita. Ingatan yang baik akan membantu kita untuk lebih mencintai hidup serta memampukan kita menjalani hidup dengan maksimal demi mengejar setiap impian yang kita inginkan. Jangan sampai digital amnesia membuat kita seperti si ikan Dory yang kerap mengami short term memory lost.

Baca juga: 10 Film Keren yang Wajib Ditonton Bersama Keluarga di 2016

Mengingat pentingnya menjaga ingatan kita, ada baiknya kita mencoba untuk melatih ingatan kita setiap hari. Sama seperti tubuh membutuhkan olahraga, otak juga memerlukan latihan agar selalu berada dalam kondisi prima. Berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk memastikan fungsi otak Anda bekerja dengan baik:

Baca juga: Chia Seed Superfood untuk Penuhi Nutrisi Tubuh

1. Usahakan untuk menghapal informasi-informasi sederhana yang penting bagi kita. Jika mengingat nomor telepon sudah tidak terlalu lazim, coba mengingat normor rekening pribadi atau orang-orang terdekat seperti suami dan orangtua. Satu informasi sehari, sudah cukup membantu otak untuk ‘bekerja’ lebih giat. Kalau perlu tantangan lebih, tak ada salahnya menambah 2-3 informasi sehari. Otak akan mengubah sebuah memori jangka pendek menjadi jangka panjang jika kita terus-terusan mengulang informasi tersebut. Ketika informasi tersebut sudah masuk ke dalam fungsi memori jangka panjang, memori itu akan tinggal selamanya di otak, dan Anda pun akan terus mengingatnya, bahkan setelah belasan tahun kemudian.

2. Tentu saja kita tidak mungkin meninggalkan internet. Biar bagaimanapun ada banyak kemudahan yang mampu ditawarkan oleh teknologi ini. Hanya saja, saat mencari informasi mengenai sesuatu, usahakan untuk menghapalkan hal tersebut. Misal, saat Anda mencari jalan dengan menggunakan GPS, usahakan untuk menghapal jalan tersebut. Dengan begitu, kali lain Anda perlu ke tempat yang sama, Anda bisa mengandalkan sekaligus melatih ingatan Anda, dan tidak terus-menerus tergantung pada GPS.

3. Gunakan internet secara bijak. Misalnya untuk membantu pekerjaan Anda, membuat Anda tetap terekspos informasi terbaru, atau berhubungan dengan teman dan kerabat. Tapi, jangan terbiasa menggunakan internet untuk ‘membunuh waktu’, misalnya dengan mencari konten yang tidak perlu dan tidak penting atau mengganggu ruang privat orang lain. Menariknya, Anda juga bisa menggunakan aplikasi permainan untuk melatih memori otak Anda. Misalnya Fit Brains dan Lumosity. Kedua aplikasi ini dirancang oleh neuroscientist dan memiliki fitur pengukuran untuk melihat berapa banyak latihan yang sudah dilakukan dan menganalisa kemampuan otak yang perlu diperbaiki.

4. Jangan biarkan teknologi menjadi sumber stres Anda. Ada saatnya teknologi membantu Anda, namun ada kalanya pula Anda berani menjauhkan diri dari teknologi. Terutama saat teknologi terus-menerus menuntut perhatian Anda. Misalnya demi mengecek email atau status media sosial. Terapkan hari atau jadwal tanpa gadget. Bisa sehari dalam seminggu atau 12 jam dalam seminggu.

Jangan biarkan hubungan digital menggeser hubungan sosial Anda. Tidak dapat dipungkiri, kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjaga hubungan lewat platform digital, dibanding hubungan sosial. Jarak dan kemacetan kerap menjadi dalih. Namun, sesungguhnya tidak ada yang dapat menggantikan ikatan dari hubungan face-to-face. Cobalah menyeimbangkan kedua hubungan untuk keutuhan diri.

Bagaimana, siap melatih otak Anda dan menjalani hidup secara maksimal?




« | »
Read previous post:
asuransi pendidikan
Termasuk Karakter Apakah Anda dalam Menyiapkan Biaya Pendidikan Anak?

Dunia pendidikan anak berkembang demikian pesatnya. Generasi millennial yang sudah menjadi orangtua barangkali merasakan hal ini ketika hendak memilih sekolah...

Close