Davina Hariadi, Memilih Alam Demi Menjawab Panggilan Hati

davina1

Menjalani profesi sebagai model dan aktris di Indonesia sejak dua dekade lalu, tak lantas membuat Davina Veronica Hariadi selalu identik dengan kehidupan glamor. Di luar panggung, perempuan kelahiran 20 Oktober 1978 itu ternyata sosok pecinta alam.

Davina mengaku sangat menikmati berada di alam terbuka tanpa bangunan gedung, sanitasi, dan tempat tidur. Ia menyukai perjalanan ke hutan pedalaman dan wilayah terpencil, tinggal di rumah penduduk, mandi di sungai, dan jauh dari segala kemudahan hidup ala perkotaan.

I am OK with that, aku orangnya sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan, jadi tidak ada masalah untuk masuk ke pedalaman, trekking, nyebur ke sungai, ke kali,” ujar perempuan yang mengawali karier sebagai gadis sampul majalah pada 1995 itu.

Peduli konservasi hutan dan satwa

Davina punya kepedulian besar terhadap pelestarian lingkungan yang mendorongnya pergi ke sejumlah wilayah konservasi di pelosok Nusantara untuk membantu masyarakat sekitar hidup harmonis dengan alam dan hutan. Sejak 2009, ia didaulat menjadi duta World Wildlife Fund (WWF) untuk membantu program konservasi di Indonesia.

Lulusan Public Relations Universitas Pelita Harapan itu menjadi salah satu ujung tombak “kampanye hijau” mulai dari konservasi aneka satwa langka (endangered species) hingga edukasi masyarakat tentang gaya hidup ramah lingkungan. Davina kini terlibat aktif dalam kampanye pelestarian satwa Indonesia yang populasinya terancam oleh manusia, mulai dari orangutan, harimau, gajah, bekantan hingga penyu.

Baca juga: Nanang Sujana, Suarakan Rintihan Alam Lewat Film

Selain itu, Davina juga menaruh perhatian besar pada kelestarian hutan sebagi rumah satwa, penyimpan karbon alami, dan juga pengendali iklim. Perjalanannya ke Sumatera, Kalimantan, dan Papua membuka mata Davina bahwa hutan Indonesia–hutan hujan hingga mangrove–memiliki keragaman hayati (biodiversity) terbesar di dunia. Namun, ia mengaku sedih karena banyak yang mengalami kerusakan.

Melalui media sosial, ia juga menulis agar pemerintah Indonesia lebih tegas dalam membatasi izin perkebunan yang menyebabkan luas hutan dan habitat satwa liar terus menyusut, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Perkebunan sawit dianggapnya menjadi penyebab utama kerusakan hutan, dari mulai kebakaran sampai penurunan populasi satwa endemik.

Menjadi relawan @GardaSatwa
Menjadi relawan @GardaSatwa

The fate of Sumatran Tiger is in your palm. Indonesia harus menerapkan kebijakan zero deforestation untuk perusahaan perkebunan sawit, memperkuat kebijakan perlindungan hutan (satwa), dan mendorong penegakan hukum,” tulisnya dalam akun instagram.

Baca juga: Jocean Bowler, PDKT dengan Alam Lewat Makanan

Dari kecil, Davina sangat menyayangi satwa, terutama hewan domestik seperti anjing dan kucing. Bersama para pecinta satwa, ia mendirikan Garda Satwa Indonesia (GSI) pada Juni 2011 untuk menyelamatkan hewan telantar dan mencegah kejahatan terhadap satwa.

Salah satu upayanya adalah kampanye Dogs are Not Food. Davina paling lantang mengkritik kebiasaan orang mengkonsumsi daging anjing yang dianggapnya sebagai perilaku yang kejam. Ia juga tak sungkan menolong anjing di jalanan yang sakit atau terluka karena dianiaya manusia.

Gaya hidup pro-lingkungan

Sebelum berkampanye dan mengajak orang lain, Davina sudah menerapkan gaya hidup go green dari diri sendiri dengan hal-hal yang sederhana dan mudah dilakukan. Perempuan yang juga menjadi komisioner independen Majalah Scuba Diver Indonesia itu sudah sejak lama memilah sampah organik dan non-organik di rumahnya, tidak menggunakan kantong plastik belanja, menghemat air dan listrik dengan penggunaan seperlunya, mengurangi penggunaan tisu, hingga memilih produk ramah lingkungan – dari produk konsumsi hingga kosmetik.

Jauh sebelum pemerintah menerapkan kantong plastik berbayar di supermarket, Davina sudah melakukan diet kantong plastik sebagai bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan. Ia pernah mampir di sebuah mini market, tetapi lupa membawa tas belanja, akhirnya ia membatalkan niatnya berbelanja. Sekarang Davina selalu menyediakan 5-6 kantong kain di dalam mobilnya yang selalu dipakai saat belanja.

Baca juga: Greeneration Indonesia: Kekuatan Muda dalam Melawan Sampah Kantong Plastik

Sulung dari pasangan Guntur Hariadi dan Patricia Gontha itu juga sering membawa botol minum sendiri untuk mengurangi penggunaan botol plastik air mineral. Soal sampah, ia adalah orang yang sulit berkompromi. Tak hanya di Jakarta, kota tempat tinggalnya, kebiasaan buang sampah pada tempatnya terbawa hingga ke ujung Kalimantan Barat saat kampanye pelestarian penyu.

Ia selalu mencari tempat sampah, tetapi hanya menemukan gundukan sampah di tanah. Karena kesal dan tidak tega menambah timbunan, ia akhirnya memilih mengantongi sampahnya sendiri. Ia juga pernah berlari pagi di sebuah tepi pantai namun membatalkan rencana secara tiba-tiba karena melihat sampah berserakan di sekitarnya. Olahraga ia hentikan dan ia pun mulai membersihkan pantai dari sampah.

“Kalau di jalan ada sampah, saya pasti ambil dan masukkan ke tempat sampah. Kalau enggak saya kantongin di tas (sampai menemukan tempat sampah – red),” kata pemain film Lovely Luna itu.

Davina menyadari, kesadaran membuang sampah secara benar masih rendah di masyarakat terutama di kota besar seperti Jakarta. Karenanya ia menyarankan pemerintah daerah untuk memperbanyak tempat sampah agar tidak ada alasan bagi orang-orang untuk “menyampah”.

Dalam urusan kecantikan, Davina menganggap kosmetik tetap penting untuk menunjang penampilannya. Meskipun sebenarnya ia mengaku lebih suka make-up yang sederhana saat keluar rumah. Sejak menjadi duta lingkungan, ia menjadi sangat pemilih. Davina hanya mau menggunakan produk kosmetik dan fashion dari produsen yang ramah lingkungan.

“Aku beralih ke produk kosmetik yang ramah lingkungan. Aku beruntung karena kulitku tidak sensitif dan butuh perawatan macam-macam,” ujarnya.

Ia mengaku pernah membeli produk fashion yang berbahan kulit binatang. Namun, sejak tahu proses pembuatannya yang cenderung merusak lingkungan, Davina sudah tidak lagi menggunakannya.

Davina menganggap perubahan iklim dan pemanasan global sebagai isu lingkungan yang sangat serius dan menuntut perubahan perilaku dan gaya hidup manusia. Semuanya bisa memulai dari hal-hal kecil yang berdampak besar seperti soal pengelolaan sampah, penghematan energi berbahan fosil, termasuk listrik, dan penanaman pohon.

Mulai dari hati

Banyak yang bertanya mengapa perempuan cantik itu memilih mengabdikan dirinya untuk lingkungan ketimbang fokus pada dunia model yang telah membesarkan namanya. Davina mengaku bahwa kepeduliannya terhadap alam dan lingkungan merupakan panggilan hati.

“Aku memang orangnya penyayang, jadi tidak bisa melihat satwa sakit, alam rusak. Aku merasa perlu menyuarakan mereka yang tak punya suara,” kata lajang 37 tahun itu.

Saat ini Davina lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggeluti isu lingkungan. “Kalau mau cari saya, ke hutan atau laut saja,” ujar wanita berlesung pipit ini. Ia tak khawatir popularitasnya di dunia hiburan memudar karena ia mengaku pencapaiannya di dunia model profesional sudah lebih dari cukup.

“Aku kan sudah cukup lama di dunia modelling, it’s time to move on,” kata perempuan berdarah Jawa-Manado itu.

I know exactly what I want. My own happiness, aku bisa menjalani hidup sesuai mimpi-mimpi aku.”

Bagi Davina, segala yang ia lakukan untuk lingkungan sebenarnya bukan hal luar biasa dan juga bisa dilakukan banyak orang jika mereka semua mau berpikir tentang kehidupan berkelanjutan. Karena, melestarikan alam dan lingkungan, menurut dia, adalah merawat dan mencintai kehidupan.

“Alam bisa tetap ada tanpa manusia, tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam,” ujar pemain film Pesan dari Surga itu.

Baca juga: Bersama LOVEPINK, Madelina Mendampingi Penderita Kanker Payudara dengan Kasih




Read previous post:
tanyalarasati
POP! Your Heart, Bukti Bahwa Kerja dan Keluarga Bisa Jalan Beriringan

Labour of Love. Istilah itu mungkin cocok disematkan ke Tanya Larasati Panduwinata. Berawal dari hobi membuat kartu ucapan selamat, wanita...

Close