Cara Menerapkan Capsule Wardrobe untuk Hidup yang Lebih Simpel

capsule wardrobe

Pernahkah hal ini terjadi pada Anda (khususnya perempuan)? Malam Anda merencanakan hendak menggunakan pakaian tertentu. Padu padan itu sudah tergambar sempurna di benak Anda. Nyatanya ketika pagi tiba, Anda kembali memutuskan menggunakan pakaian yang itu-itu lagi. Celana favorit, kemeja andalan, sepatu yang menurut Anda paling nyaman, dan sentuhan scarf kesayangan.

Padahal, kalau mau membongkar lemari, sesungguhnya Anda punya begitu banyak pilihan pakaian untuk dikenakan. Meski begitu, Anda toh sudah cukup aman dengan pilihan pakaian yang terlihat di depan mata.

Sounds familiar, yes? Inilah yang mendasari konsep capsule wardrobe.

Konsep ini dicetuskan oleh Caroline Joy Rector, fashion blogger un-fancy, yang tinggal di Texas, dengan keinginan untuk menemukan gaya pribadinya dan juga menekan kebiasaannya berbelanja. Ia merasa kesal karena lemarinya penuh pakaian murah-meriah tapi setiap hari selalu mengeluhkan hal yang sama: “Saya nggak punya baju untuk dipakai.”

Ia pun memutuskan untuk mencoba menyortir pakaiannya dan hanya menyimpan 37 item pakaian yang ia kenakan secara padu-padan. Eksperimen Caroline dalam memanfaatkan 37 item tersebut secara maksimal bisa disimak dalam blognya.

38890676 - beautiful young woman near rack with clothes making chioce

Perjalanan mencari jati diri

Jika dilihat ke belakang, sesungguhnya Capsule Wardrobe adalah perjalanan Caroline mencari jati diri. Saat itu Black Friday–saat yang identik dengan diskon massal–tahun 2013. ia membeli banyak pakaian secara gelap mata, semata-mata didorong oleh euforia. Bukannya pulang dengan perasaan berbunga-bunga layaknya yang dirasa perempuan setelah berbelanja, ia merasa kewalahan. Menurutnya tidak ada satu pun dari pakaian tersebut yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya pribadinya.

Ia pun sadar, ini adalah puncak dari masalah yang ia hadapi selama ini.

Belakangan Caroline memiliki kebiasaan baru: belanja untuk menemukan kebahagiaan instan dan membuang mood yang sedang buruk. Belanja bagaikan pelariannya. Masalah ini memang tidak terlalu serius dan bukan akhir dunia, tetapi hal ini membuatnya sadar bahwa ia belanja untuk alasan yang salah. Itu sebab, isi lemari pakaiannya terlihat tidak masuk akal.

Baca juga: 9 Jurus Jitu Hadapi Serangan Diskon

Itulah titik baliknya. Ia memutuskan untuk berhenti belanja untuk kepuasan emosi. Bahwa berbelanja pakaian haruslah didasarkan atas gaya pribadi dan kepercayaan diri saat berpakaian.

Caroline pun mencari cara menekan nafsu belanja dan bagaimana menemukan gaya pribadi. Dari pencarian itu ia menemukan istilah “capsule wardrobe” yang disebut oleh pemilik butik di London, Susie Faux, pada tahun 70-an. Keputusannya Iuntuk bereksperimen dengan lemari pakaian minimal semakin bulat setelah membaca dua blog ini: Into Mind dan Project333.

Ia pun memulai Unfancy dengan dua alasan. Pertama, untuk memperlihatkan bahwa hidup dengan lemari kecil bukan hal yang tidak mungkin. Bahkan Anda masih tetap tampil gaya dan banyak pilihan. Kedua, karena mencoba sesuatu yang baru dan mengontrol isi lemari Anda merupakan pengingat yang paling jitu bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengubah hidup Anda.

capsule wardrobe

Menerapkan Capsule Wardrobe

Menurut Caroline langkah pertama untuk menerapkan konsep ini adalah menyortir barang-barang yang Anda miliki dan memilih mana yang akan Anda simpan. Pilih yang memang Anda sukai dan kualitas bahannya baik.

Untuk menyortir ini Caroline punya tips sendiri. Kategorisasikan pakaian berdasarkan hal ini:

  • SUKA DAN AKAN SAYA PAKAI SEKARANG!! Simpan pakaian jenis ini dalam lemari.
  • MUNGKIN. Kategori ini untuk item yang tidak terlalu pas, warnanya kurang bagus, punya nilai sentimentil, atau Anda menyimpannya karena sudah menghabiskan banyak uang untuk membelinya. Masukkan pakaian jenis ini ke dalam kotak dan simpan di gudang. Anda masih dapat mengeluarkannya dari kotak, jika sewaktu-waktu ingin mengenakannya. Bila sampai tiga bulan tidak ada yang ingin Anda kenakan, saatnya menyingkirkan kotak tersebut (jual di garage sale atau beri kepada yang membutuhkan).
  • TIDAK. Sudah jelas. Langsung donasikan, tukar dengan teman, atau jual.
  • PERLU PAKAI SESEKALI. Wol tebal atau jaket tahan dingin mungkin tidak Anda kenakan sehari-hari. Tapi, Anda akan memerlukannya saat melakukan perjalanan ke daerah beriklim dingin. Simpan di gudang karena bisa jadi Anda memerlukannya di lain waktu.

Baca juga: Merapikan Pakaian dengan Metode Marie Kondo

Selanjutnya mulailah dari pilihan sepatu atau alas kaki. Ia menyarankan untuk melakukan langkah-langkah di bawah ini untuk menerapkan capsule wardrobe:

  • Menyimpan 9 pasang sepatu. Misalnya: 3 pasang sepatu atau alas kaki hak datar, tiga pasang sepatu/sandal berhak, dan untuk tiga pasang lainnya Anda bisa mengkombinasikan antara sneakers dan boots.
  • Simpan 9 bawahan. Misalnya: 3 pasang jins, tiga pasang celana pendek, dan tiga pasang rok atau kain. Pola 3-3-3 ini dapat memastikan Anda memiliki padanan kasual, padanan formal, dan padanan yang tidak terlalu formal maupun kasual.
  • Menyimpan 15 atasan. Anda juga bisa menerapkan pola 3-3-3 untuk memilih jenis atasan. Misalnya: 3 sweater, 3 blouse, 3 kaus, 3 rompi, dan 3 kemeja kancing.
  • Sisa jatahnya bisa Anda gunakan untuk menyimpan jaket atau gaun. Untungnya tinggal di negara dua musim, Anda tidak perlu menyimpan terlalu banyak jenis jaket. Misalnya Anda bisa memilih blazer, jaket musim hujan atau yang bisa dikenakan saat traveling. Bila Anda bukan penyuka jaket, tambahkan jatah untuk menyimpan gaun. Simpel, kan?

Baca juga: 7 Kebiasaan Baik untuk Bahagia di Masa Kini dan Bahagia di Masa Tua

Di dalam perjalanannya, Caroline menemukan bahwa capsule wardrobe dapat sangat menghemat waktu dan energi (Anda tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk belanja, menentukan pakaian yang akan dipakai, bahkan merawat pakaian Anda). Dengan demikian, Anda dapat menghabiskan uang dan waktu Anda untuk mengejar mimpi dan membantu orang lain.




« | »
Read previous post:
menulis tangan
Manfaat Menulis dengan Tangan: Dari Kreativitas Hingga Prediksi Status Kesehatan

Tulisan tangan mulai 'punah'. Benarkah? Dan bila iya, apakah kita harus merasa khawatir? Banyak ahli menjawab pertanyaan ini dengan "iya"....

Close