Yu Sing, Arsitek yang Peduli Kemanusiaan, Penerus Romo Mangun

arsitek yu sing

Yu Sing gusar. Setelah lulus dari Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Bandung pada 1999, darah mudanya mendidih melihat fenomena arsitektur di Indonesia.

Jasa arsitek menjadi monopoli orang-orang kaya. Sedangkan kalangan menengah ke bawah hanya bisa gigit jari. Biaya pembuatan atau renovasi rumah saja sudah merogoh kocek sangat dalam bagi masyarakat kurang mampu, apalagi bila memakai jasa arsitek.

Yu Sing berupaya mendobrak stigma tersebut. Dia ingin profesi arsitek non-elitis dan untuk semua kalangan. Bentuk perjuangannya adalah memasyarakatkan rumah murah. Dia punya mimpi besar: membantu mendesain sejuta rumah murah di Indonesia.

Salah satu inspirator Yu Sing adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau akrab dipanggil Romo Mangun. Lewat “sentuhan midasnya”, Romo Mangun mengubah perumahan miskin di sepanjang bantaran Kali Code menjadi sebuah kawasan yang indah. Selain diganjar penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur, Romo Mangun dikenang sebagai arsitek yang peduli pada kemanusiaan.

Terinspirasi karya dan laku Romo Mangun, Yu Sing mulai mendesain dan membangun rumah mungil, murah, dan ramah lingkungan pada 1999. Rumah pertama yang dia desain tak lain rumahnya sendiri di Cimahi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Setelah itu, Yu Sing mulai memberanikan diri menebar ide-idenya tentang rumah murah lewat tulisan di majalah arsitektur, blog pribadi, dan milis arsitektur. Jebolan Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Bandung itu pun menulis buku bertajuk Mimpi Rumah Murah pada 2009.

rumah-yusing

Dia menganggap merancang rumah murah merupakan jawaban untuk pertanyaan mengapa dia hidup. “Hidup berarti bila dapat mempertanggungjawabkan semua yang telah Tuhan berikan menjadi manfaat buat banyak orang,” kata dia.

Setelah membangun rumah murah untuk keluarganya, Yu Sing mendapat pesanan dari temannya. Dia diminta merenovasi sebuah rumah berusia lebih dari 30 tahun di kawasan Caringin, Bandung. Lantaran sudah sangat tua, rumah tersebut harus dibongkar dan dibangun ulang. Namun sekitar 90 persen bahan bongkaran rumah tersebut bisa digunakan lagi. Yu Sing merancang rumah tersebut sebagai rumah tumbuh dengan alasan ketersediaan dana pemilik rumah.

Konsep rumah yang disuguhkan Yu Sing adalah ramah lingkungan. Ruang terbuka hijau serta daerah resapan merupakan keharusan. Konsep ramah lingkungan juga terlihat di atap. Atap dirancang agar bisa menampung air hujan, yang melalui proses penyaringan sederhana, dapat digunakan lagi.

Menurut Yu Sing, konsep rumah ramah lingkungan bisa menjadi murah dengan cara menyiasati arah bangunan untuk mendapatkan cahaya dan udara alami. Selain itu, juga dengan memperbanyak tanaman dan memanfaatkan material bekas. Bisa juga menggunakan konsep unfinished agar biaya tak melambung tinggi.

Karya Yu Sing ternyata mendapat sambutan hangat. Dia mulai kebanjiran order yang mayoritas dari kalangan menengah ke bawah. Tak hanya dari Jawa, pesanan datang dari Kalimantan hingga Papua. Harga rumah yang dibangun Yu Sing di bawah Rp300 juta. Bila anggaran membangun kurang dari Rp 25 juta, Yu Sing menggratiskan jasa arsitekturnya.

Sejak 1999, Yu Sing mendirikan perusahaan jasa konsultan arsitektur Genesis. Sekitar Juni 2011, Genesis berubah menjadi akanoma (akar anomali).

Mimpi mendesain rumah murah tidak lepas dari masa kecil Yu Sing. Anak kedua dari tiga bersaudara ini berpindah-pindah kontrakan karena orang tuanya tidak punya rumah. Sebagai keturunan Tionghoa, Yu Sing kecil pun sering mendapat perlakuan rasial. Namun, didikan orang tuanya membuat Yu Sing menjadi orang yang anti-rasial.

Merintis jejak Romo Mangun membangun Kali Code, Yu Sing membuat komunitas ”Kampung Kita” pada awal 2011. Dia menggandeng arsitek dan 17 kampus untuk masuk ke beberapa kampung di Solo, Jawa Tengah. Mereka membantu para warga sekitar mengembangkan daerahnya menjadi kampung wisata.

Yu Sing juga merintis Jaringan Arsitek Indonesia Merakyat yang fokus untuk memberi desain hunian atau ruang publik yang ramah bagi golongan ekonomi lemah.

Ia juga menggagas proyek filantropi “Papan untuk Semua”. Lewat Papan untuk Semua, pria berusia 41 tahun ini bersama rekan-rekannya memberi jasa desain gratis untuk masyarakat yang kurang mampu. Bahkan, mereka juga menggalang dana untuk membuat rumah layak huni bagi masyarakat yang kurang mampu.

Pemerhati lingkungan dan perkotaan Fitrawan Umar mengatakan Yu Sing adalah pelopor generasi baru arsitek Indonesia. “Ia (Yu Sing) kini menjadi inspirasi bagi para arsitek muda dan calon arsitek di kampus-kampus,” kata Fitrawan.




« | »
Read previous post:
karimun-jawa
Pelesir Sehari di Bumi Kartini

Kota Jepara identik dengan apa saja? Ternyata Jepara bukan hanya dikenang sebagai kota kelahiran pahlawan perempuan Raden Ajeng Kartini serta...

Close