4 Kisah Nyata Pengabdian Dokter: Dari Dokter Sampah hingga Dokter Gelandangan

Prof-Dr-Aznan-1

Redaksi I Love Life mengkompilasi kisah dokter yang memiliki dedikasi tinggi untuk melayani. Misi pengabdian yang dijalani dari hati, tak hanya membuat mereka harus mencurahkan perhatian dan waktunya demi profesi ini, tapi juga materi. Bagaimana cara mereka memberikan layanan kesehatan masyarakat? Simak kisahnya…

Dokter Sampah

gamalalbinsaid
Gamal Albinsaid

Pada Juni 2005, kisah pemulung Supriono menggendong anaknya yang berusia tiga tahun, Nur Khaerunisa, disorot media massa Jakarta. Musababnya, Khairunisa dalam keadaan tak bernyawa akibat sakit muntaber yang menderanya di gerobak berukuran 2 meter. Sedangkan, Supriono tidak bisa menanggung biaya pemakaman anak bungsunya itu. Jangankan memakamkan anaknya, membeli kain kafan pun dia tak mampu. Pria berusia 37 tahun ini akhirnya bisa memakamkan Khaerunisa dengan layak berkat uluran tangan kenalan dan tetangga-tetangganya.

Kisah pilu tersebut ternyata membekas di hati Gamal Albinsaid. Lima tahun setelah cerita duka Supriono dan Khaerunisa terkuak, Gamal bersama empat teman dan seorang dosen pembimbing Universitas Brawijaya Malang mendirikan Indonesia Medika. Tujuannya: membebaskan kaum miskin dari belenggu biaya kesehatan yang mahal. Salah satu produk Indonesia Medika adalah Klinik Asuransi Sampah.

Klinik Asuransi Sampah merupakan hasil penelitian Gamal dan teman-temannya. Mereka mengetahui sampah adalah produksi rumah tangga setiap orang. Menurut Gamal dkk, sampah adalah benda yang paling tepat sebagai modal utama bagi seluruh masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas. “Setiap hari orang memproduksi sampah, dan setiap rumah itu punya sampah, kan? Maka kami kembangkan sampah untuk asuransi ini,” kata pria berusia 26 tahun tersebut.

Tapi upaya Gamal dkk membangun Klinik Asuransi Sampah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena jumlah nasabah kurang dari 1.000 orang, dia harus mencari sumber dana dari berbagai instansi untuk mensponsori kegiatannya. Selain urusan nasabah, kliniknya sempat tutup karena staf yang kebanyakan mahasiswa belum bisa memberikan waktunya 100 persen.

Walau banyak hambatan, Gamal tak menyerah. Ia bisa tersenyum ketika mendengar para nasabah jatuh hati pada program yang disosialisasinya. Ia pun terharu ketika mengetahui para pasiennya tidak perlu lagi meminjam uang para tetangga hanya untuk berobat dan mendapat pelayanan kesehatan. Ia berharap, lebih banyak masyarakat Indonesia bisa merasakan layanan kesehatan yang baik meski tak mampu.

“Yang saya jual ini sebenarnya bisnis, tapi bisnis sosial. Kita cari keuntungan, tapi kita beri banyak kegiatan sosial, sehingga rasa uangnya jadi lebih manis,” kata dia kepada Tempo.

Akibat pengabdiannya tersebut, Gamal diganjar penghargaan oleh Pangeran Charles sebagai finalis Sustainable Living Young Entrepreneurs Awards di Istana Buckhingham, Inggris.

Baca Juga: Dokter Gamal Albisaid, Memanusiakan Manusia Lewat Sampah

Dokter Pedalaman

anglianasari
dr Ang Liana Sari

Gamal bukan satu-satunya dokter yang mengabdikan dirinya untuk kaum papa. Pengabdian serupa dilakukan dr Ang Liana Sari. Selama tujuh tahun dia bertugas di pedalaman Kalimantan TImur tepatnya Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Ulu, sebagai tenaga kerja kesehatan. Untuk menuju tempat tugasnya, Ang harus melewati 17 jam perjalanan darat dari Kota Balikpapan dan tiga jam perjalanan dengan menggunakan perahu cepat.

Ketika pertama kali sampai di daerah pedalaman tersebut, Ang tidak mendapat sambutan dari warga setempat. Dia pun harus tidur di tempat penyimpanan padi.

Saat pertama kali tiba di tempat tugasnya, dia sangat terkejut dengan kondisi kampung tersebut. Di sana tidak ada aliran listrik dan sumber air bersih. Terpaksa dia menggosok gigi di kubangan air.

Tempat tinggal Ang pun berjarak 1 kilometer dari tempatnya bertugas, Puskesmas Long Hubung. Dia pun harus keliling kampung untuk menunaikan tugasnya. Terdapat lima kampung di Laham yang jaraknya bisa memakan waktu delapan jam menggunakan perahu kecil.

“Perjalanan ini memang menantang maut. Seandainya ketinting itu menabrak batu-batu sungai yang besarnya seukuran rumah, habislah kita,” tutur perempuan yang numpang lahir di Balikpapan itu kepada Berita Metro.

Selain jarak tempuh ke tempat kerja, tantangan lain yang dia hadapi adalah dokter adat. Alumnus Universtas Wijaya Kusuma Surabaya ini harus menjelaskan perkembangan kedokteran modern kepada dokter-dokter adat.

Namun, Ang berupaya tetap menyatu dengan para dokter adat. Dia justru belajar dari mereka. Di antaranya soal obat-obatan dari bahan alam. Ang pun tak sungkan meminta tolong kepada para dokter adat. Contohnya ketika ada pasiennya yang digigit ular. Karena tidak punya obat penawar racun bisa ular, dia memanggil dokter adat untuk melakukan pengobatan tradisional dengan menggunakan batu hitam. Dengan sikapnya yang merangkul dokter adat, Ang perlahan-lahan diterima mereka dan masyarakat setempat.

Wanita berusia 37 tahun ini juga memiliki satu program yang membuatnya semakin dikenal masyarakat sekitar yaitu posyandu keliling. Dengan program tersebut, dia berjalan menuju desa-desa yang tidak memiliki tenaga medis. Dalam satu hari dia mampu mengunjungi empat desa sekaligus.

Ang kini telah menikah dan menetap di Laham. Dia hidup bahagia dengan suami dan dua anak laki-lakinya.

Dokter Gelandangan

dr Michael Leksodimulyo
dr Michael Leksodimulyo

Pengabdian kepada masyarakat kecil juga dilakukan Dr Michael Leksodimulyo. Dia menanggalkan posisinya yang sudah mapan sebagai wakil direktur Rumah Sakit Adi Husada Surabaya untuk mendirikan klinik keliling Yayasan Pondok Kasih. Sejak 2009, dia memberikan layanan dan penyuluhan kesehatan gratis kepada warga yang tinggal di kawasan kumuh di Kota Surabaya. Tanpa malu-malu, dia senang disebut sebagai dokter spesialis gelandangan.

Keputusan Michael untuk mendirikan klinik keliling berawal dari ajakan Ketua Yayasan Pondok Kasih, Hana Amalia Vandayani, untuk mengunjungi masyarakat miskin di Surabaya. “Saya sudah pernah melihat pasien di hutan terpencil, tapi belum pernah melihat pasien di kolong jembatan,” kata dia.

Pengalaman mengunjungi masyarakat miskin bersama Hana membuat mata Michael terbuka. Dia menangis sehingga istrinya bingung. Dokter berusia 48 tahun ini mengenang janjinya sebagai dokter untuk melayani masyarakat. Akhirnya Michael memutuskan untuk mendirikan klinik keliling Yayasan Pondok Kasih.

Sampai saat ini, Yayasan Pondok Kasih sudah menangani 167 komunitas miskin dengan rata-rata memuat 200 – 300 keluarga. Yayasan ini juga sudah mendirikan 10 klinik dan sub klinik permanen di sejumlah titik di Kota Surabaya.

Baca Juga: Pengabdian Dokter Spesialis Gelandangan Michael Leksodimulyo

Dokter Tanpa Papan Nama

Di sebuah garasi di sebuah rumah tua di Medan, Sumatera Utara, dr Aznan Lelo, SpFK, PhD, dokter spesialis farmakologi menerima pasiennya. Meski tanpa papan nama di depan rumah, ruang praktiknya tidak pernah sepi dikunjungi pasien.

Prof-Dr-Aznan-1Uniknya, para pasien tersebut tidak dimintakan patokan pembayaran tertentu. Memang tersedia amplop di dekat pintu keluar yang berfungsi menampung bayaran dari pasien. Akan tetapi, uang yang dimasukkan ke dalam amplop adalah sepenuhnya hak pasien untuk menentukan.

Aznan Lelo telah membuka praktik dokter dengan bayaran sukarela ini sejak 1978. Mengenyam pendidikan dokter di Univesitas Sumatera Utara, sejak kecil ia memang bercita-cita memiliki pekerjaan yang berguna bagi orang lain. Percakapan dengan sang abang lah yang membuka pikirannya. “Abang saya bilang, saya jago matematika, bagusnya jadi dokter,” ujarnya. Bermodal keinginan kuat memberikan layanan kesehatan bagi sesama, anak dari orangtua yang berprofesi sebagai tukang jahit ini berhasil mengenyam pendidikan sampai meraih gelar Dokter Farmakologi di Australia.

Sekembalinya dari pendidikan di Australia pada tahun 1987, ia mengabdikan dirinya di dunia pendidikan, tidak membuka praktik. Namun beberapa pasien lamanya kembali berdatangan. Mereka berharap dokter yang kerap dipanggil Buya ini membuka praktik dan kembali melayani masyarakat. Hati Aznan pun kembali terpanggil. Ia kembali membuka praktik dengan bayaran sukarela.

Soal bayaran dalam amplop, tak jarang Aznan hanya menerima upah Rp 5.000 dari jasanya. Bahkan ia kerap juga menerima amplop kosong. Meski demikian, ia selalu menerima dengan ikhlas. “Kalau aku gunakan profesi dokterku ini untuk jadi kaya, aku pasti sudah kaya. Tapi aku enggak mau, bagiku orang miskin lebih menghargai profesi dokter, dibandingkan orang kaya. Itu yang buat aku senang jalani profesi seperti ini,” ujarnya.

Dalam membuka praktik pengobatan, pria yang biasa disapa dengan Buya Aznan ini lebih fokus mencari keberkahan dalam hidup. Kepuasan batin ia peroleh dengan membantu sesama manusia. Keyakinan ini berasal dari pesan seorang ulama yang pernah ia dengar. Bahwa profesi dokter, pengacara, maupun guru sebaiknya tidak memasang tarif karena sifat profesi yang memiliki nilai sosial.

Setiap hari Aznan menerima lebih dari 30 pasien. Terkadang jumlah pasien membludak hingga ratusan yang menyebabkannya bekerja sampai dini hari. Hebatnya, ia menjalani semua itu dengan ikhlas. Dokter bagi Aznan adalah profesi yang tidak boleh menetapkan tarif jasa pembayaran. Ia menganggap profesi ini sebagai jalan pelayanan yang telah ditunjukkan oleh Tuhan.

Keikhlasan hati menjalani profesi bukanlah hal yang mudah untuk dilakoni. Namun keempat dokter ini membuktikan bahwa yang datang dari panggilan hati akan lebih ringan untuk dijalani. Barangkali, kisah mereka bisa menjadi inspirasi Anda dalam meraih mimpi. Selamat menjalani mimpi!

Related Posts

Pengabdian Dokter Spesialis Gelandangan Michael Leksodimulyo

Sekitar tahun 2009, karier Michael Leksodimulyo terbilang sukses. Posisinya Wakil Direktur Rumah Sakit Adi Husada Undaan...




« | »
Read previous post:
finding doy
Digital Amnesia: Sindrom Penyakit Baru bagi Kaum Milenial

Berapa banyak nomor telepon keluarga atau teman dekat yang masih Anda hapal luar kepala? Apakah Anda ingat berapa nomor telepon...

Close